- Sejarawan J.J. Rizal menyatakan Indonesia gagal menuntaskan agenda Reformasi akibat kegagalan membongkar infrastruktur kekuasaan masa Orde Baru.
- Diskusi di YLBHI pada 24 April 2026 menyoroti strategi suap dan kekerasan yang melanggengkan kekuasaan para aktor lama.
- Dampaknya, pelaku kejahatan masa lalu kini menempati posisi strategis yang menghambat kemajuan serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Suara.com - Sejarawan Indonesia J.J. Rizal menilai Indonesia hingga kini masih memikul beban sejarah yang berat akibat ketidakseriusan dalam menuntaskan agenda Reformasi.
Menurutnya, kegagalan dalam membongkar infrastruktur kekuasaan Orde Baru membuat aktor-aktor lama yang terlibat dalam kejahatan masa lalu tetap memiliki posisi terhormat di pemerintahan saat ini.
Dalam sebuah diskusi Liga Demokrasi yang bertajuk Militerisme, Kekerasan, dan Impunitas, yang diselenggarakan oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Rizal mengungkapkan bahwa praktik impunitas yang dinikmati kelompok militer dan kaki tangan Orde Baru berakar dari strategi konsolidasi kekuasaan yang sangat kokoh sejak pasca-1965.
Rizal menjelaskan bahwa rezim Orde Baru di bawah mantan Presiden Soeharto menggunakan strategi ganda untuk membungkam kritik dan mengamankan kekuasaan. Strategi ini mengadopsi filosofi konglomerat Oei Tiong Ham.
"Oei Tiong Ham tuh bilang, 'Nggak ada pintu yang nggak bisa ditembus oleh peluru emas'. Nah, prinsip Pak Harto adalah setiap orang dalam badannya ada banderol harganya," ujar Rizal dalam diskusinya, Jumat (24/4/2026).
Dalam hal tersebut, rezim cenderung menggunakan suap, bantuan strategis, atau kompromi materiil untuk menjinakkan tokoh-tokoh kritis. Jika cara ini gagal, maka instrumen kekerasan, intimidasi, dan teror akan dijalankan.
"Mereka bisa dibeli, ya mereka bisa dikasih bantuan-bantuan strategis ya kan. Nah kalau umpan ini nggak dimakan, baru kita gunakan intimidasi, teror ya penangkapan dan praktik-praktik kekerasan seperti itu," tambahnya.
Hal inilah yang membuat konsolidasi Orde Baru tetap bertahan meski gelombang demonstrasi seperti peristiwa Malari 1974 hingga gerakan mahasiswa 1978 terus terjadi.
Reformasi yang Setengah Hati
Baca Juga: Hadapi Grup Berat, Kurniawan Yakin Timnas Indonesia U-17 Bisa Lolos ke Piala Dunia 2026
Rizal juga menyoroti bagaimana rezim Reformasi justru banyak melakukan kompromi politik alih-alih melakukan pembersihan menyeluruh terhadap praktik Orde Baru.
Ia menyebut infrastruktur kejahatan Orde Baru sudah tertanam sangat kompleks dan kokoh, namun dihadapi dengan sikap yang tidak serius.
"Yang belum selesai pada rezim Orde Baru itu bisa kita lihat, kita itu nggak serius sebenarnya sama Reformasi, nggak ada keseriusan dan pemahaman bahwa praktik kejahatan Orde Baru ini sekali lagi pakai kata infrastruktur," ujarnya.
Ia mencontohkan beberapa kasus besar yang tidak pernah tuntas sebagai bukti "uji coba" kekuasaan aktor lama terhadap ketegasan negara di era Reformasi, mulai dari kasus pemerkosaan massal Mei 1998 hingga pembunuhan aktivis HAM Munir.
"Munir uji coba, 'oke gua taruh nih di level
segini, di grade segini', nggak masalah tuh selesai juga ya kan. Nah jadi dari sejak awal kita udah bisa merekam bahwa Orde Baru ini udah punya temperatur gitu menetapkan plafon gitu, gue ngelakuin ini gue ngelakuin ini nggak masalah," ungkapnya.
Ironi Demokrasi Hari Ini
Dampak dari kegagalan tersebut, menurut Rizal, adalah munculnya fenomena di mana individu-individu yang rekam jejaknya bermasalah di masa lalu justru menempati posisi strategis dan berbicara seolah-olah mereka adalah pejuang demokrasi.
Berita Terkait
-
Hadapi Grup Berat, Kurniawan Yakin Timnas Indonesia U-17 Bisa Lolos ke Piala Dunia 2026
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Kiper Timnas Indonesia Maarten Paes Berpotensi Hadapi Bintang Barcelona Lamine Yamal
-
Namanya Jawa Banget, Rekan Justin Hubner di Belanda Bisa Bela Timnas Indonesia?
-
Berkat Bantuan BI Rupiah Akhirnya Bangkit, Ditutup ke Level Rp 17.228
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Timnas Indonesia Lolos Semifinal Piala AFF U-19 2026 Usai Kalahkan Vietnam
Pilihan
Terkini
-
Tak Bisa Asal Masuk! Polisi Jabat di Kementerian Wajib Ikuti Open Bidding dan Seleksi Ketat
-
Bantuan Beras 10 Kg Diperpanjang, Siapa Sapa Penerimanya
-
Tak Ada Lagi 'Beda Nasib', Jalan Bopeng di Bawah Flyover UI Kini Mulai Mulus usai Depok Turun Tangan
-
Dokumen Negara Tercecer di Jalanan BSD, Imigrasi: Itu Paspor Haji Milik Kemenhaj Tangsel
-
3,5 Jam Rekonstruksi Kasus Little Aresha: Terungkap Siksaan ke Anak Atas Instruksi Ketua Yayasan
-
Kapolri Listyo soal UU Baru Polri: Presiden Ingin Polri Terlibat di Hal-hal Kepentingan Nasional
-
Sudah 37 Ribu Anak Keracunan MBG, YLKI Tantang Nanik S Deyang: 100 Hari Pertama Harus Nol Kasus!
-
Jaksa Tuding Nadiem Makarim Sembunyikan Kendali di Gojek Lewat Surat Kuasa
-
Eks Tapol Turun Tangan, STPI Serahkan Amicus Curiae ke MA Bela Aktivis Demo Agustus 2025
-
Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?