News / Internasional
Minggu, 26 April 2026 | 08:53 WIB
Ilustrasi kirim bantuan ke Gaza. [Ist]
Baca 10 detik
  • WHO menyatakan pembangunan kembali sistem kesehatan Gaza memerlukan investasi sekitar 10 miliar dolar AS dalam lima tahun.
  • Sebanyak 1.800 fasilitas kesehatan di Gaza rusak total atau sebagian, menyebabkan krisis sanitasi dan meningkatnya infeksi penyakit.
  • Pemulihan layanan kesehatan membutuhkan perlindungan bagi tenaga medis serta kelancaran distribusi obat-obatan tanpa hambatan akses dan birokrasi.

Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa pembangunan kembali sistem kesehatan di Gaza membutuhkan investasi sekitar 10 miliar dolar AS atau setara Rp172 triliun dalam lima tahun ke depan.

Dalam konferensi pers di Jenewa, perwakilan WHO untuk wilayah Palestina, Reinhilde Van de Weerdt, mengungkapkan bahwa kerusakan sektor kesehatan saja diperkirakan mencapai 1,4 miliar dolar AS.

Lebih dari 1.800 fasilitas kesehatan dilaporkan mengalami kerusakan, baik sebagian maupun total, mulai dari rumah sakit besar hingga klinik, apotek, dan laboratorium.

“Bangunan yang hancur dan tumpukan sampah menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi tikus dan hama. Sebanyak 80 persen dari 1.600 lokasi pengungsian kerap melihat kemunculan tikus dan hama; 80 persen lebih dari lokasi pengungsian ini melaporkan infeksi kulit, seperti rabies, kutu, dan kutu kasur,” katanya.

Meski menghadapi berbagai kendala, upaya pemulihan tetap berjalan. WHO telah menambah 128 tempat tidur di Rumah Sakit Al-Shifa untuk meningkatkan kapasitas layanan.

Namun, Van de Weerdt menekankan pentingnya perlindungan tenaga kesehatan serta akses tanpa hambatan bagi distribusi obat-obatan dan perlengkapan medis ke wilayah Gaza.

“Namun, agar penyelamatan nyawa memiliki dampak, kesehatan dan petugas kesehatan harus dilindungi dan obat-obatan serta pasokan penting harus masuk ke Gaza, termasuk penghapusan proses birokrasi dan pembatasan akses terhadap medis dan pasokan penting yang diakui secara global.”

Terkait evakuasi medis, ia menjelaskan bahwa proses tersebut cukup kompleks, baik dari sisi keamanan maupun logistik, serta harus tetap memperhatikan hak pasien untuk mendapatkan perawatan di tempat tinggalnya.

“Pasien dapat meninggalkan Gaza untuk pergi ke rumah sakit di Yerusalem Timur atau di Tepi Barat: untuk melakukan itu, mereka akan pergi melalui perbatasan Rafah, menuju Mesir dan dari sana ke negara lain, dan baru-baru ini juga kembali ke Yordania. Evakuasi medis terakhir dilakukan pada 23 April, melalui Rafah, untuk 47 pasien dan 86 pendamping.”

Baca Juga: Raditya Dika Pilih Repot di Depan: Strategi Cegah Dengue demi Jaga Produktivitas

(Antara)

Load More