News / Nasional
Selasa, 28 April 2026 | 15:45 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani membesuk korban kecelakaan kereta di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026). [Suara.com/Faqih]
Baca 10 detik
  • Kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada 28 April 2026 mengakibatkan 15 orang meninggal dunia.
  • Pemerintah akan segera membangun jalan layang di perlintasan sebidang untuk mencegah terulangnya kecelakaan maut di jalur kereta.
  • Menteri Rosan Roeslani menekankan pentingnya evaluasi total sistem keamanan perkeretaapian dan penguatan koordinasi bersama Departemen Perhubungan nasional.

Suara.com - Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengonfirmasi bahwa jumlah korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur telah mencapai 15 orang.

Selain menyampaikan duka mendalam, Rosan memastikan pemerintah akan segera mengeksekusi instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk membangun jalan layang atau flyover di perlintasan sebidang guna mengakhiri risiko kecelakaan maut di jalur kereta.

"Seperti yang disampaikan Bapak Presiden, itu akan dilaksanakan sesegera mungkin ya. Dan ini adalah langkah-langkah yang cepat dari Bapak Presiden untuk memastikan bahwa kejadian seperti ini tidak pernah akan dan boleh terulang lagi gitu ya," ungkap Rosan usai membesuk para korban di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

"Kita ketahui ada korban, yang meninggal itu 15 orang," imbuhnya.

Selain korban meninggal dunia, ada 88 korban luka yang dilarikan ke rumah sakit. Dari angka tersebut Rosan menyebut 28 orang telah dinyatakan stabil dan diperbolehkan menjalani rawat jalan.

Ia menegaskan bahwa insiden ini menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi total terhadap sistem keamanan perkeretaapian di Indonesia.

“Kami akan mengevaluasi secara keseluruhan dan juga melakukan asesmen terhadap Kereta Api Indonesia ini bersama-sama tentu dengan kementerian terkait, dengan badan terkait untuk memastikan bahwa keselamatan itu adalah menjadi prioritas paling utama di dalam kita menjalankan kereta api yang ada di Indonesia ini,” jelasnya.

Selain pembangunan fisik, Rosan juga mendorong penguatan koordinasi antarlembaga, khususnya dengan Departemen Perhubungan, agar standar keselamatan transportasi nasional semakin diperketat.

“Dan kita juga akan melakukan evaluasi keseluruhan agar terutama kerja sama dengan Departemen Perhubungan ini menjadi semakin erat ke depan, karena tentunya hal ini tidak boleh terjadi ke depan ya,” pungkasnya.

Load More