- WALHI Sumatera Barat mengungkapkan maraknya kekerasan terhadap warga yang mencoba menghentikan aktivitas tambang emas ilegal di daerah tersebut.
- Korban kekerasan seperti Saodah dan Wilson mengalami luka serius akibat upaya mereka mempertahankan lahan dari praktik tambang ilegal.
- WALHI mendesak penegak hukum mengusut aktor intelektual di balik aktivitas tambang terorganisir yang mengancam keselamatan lingkungan serta warga.
Suara.com - WALHI Sumatera Barat mengungkap meningkatnya ancaman dan kekerasan terhadap warga yang berusaha menghentikan aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di sejumlah daerah.
Direktur Eksekutif WALHI Sumatera Barat Tommy Adam mengatakan persoalan PETI tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga memicu pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat yang mempertahankan ruang hidupnya.
"Di konteks lain kawan-kawan kejahatan PETI ini ternyata baru-baru ini kalau kita melihat begitu ya ternyata berdampak pada keterancaman pejuang HAM dan lingkungan hidup," kata Tommy dalam konferensi pers bertajuk “Ketika Tambang Dibiarkan, Siapa yang Melindungi Warga?” di Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026).
Salah satu kasus yang disoroti WALHI terjadi di Kabupaten Pasaman. Seorang warga bernama Saodah disebut menjadi korban kekerasan setelah berupaya menghentikan aktivitas tambang ilegal yang berlangsung di lahannya.
"Di Rao Pasaman Nenek Saodah itu hampir mati dipukuli oleh penambang emas ilegal karena mencoba menghentikan tambang emas ilegal di tanahnya," ujar Tommy.
Kasus serupa juga terjadi di Solok Selatan. Seorang warga bernama Wilson mengalami luka serius setelah menolak aktivitas tambang emas ilegal.
"Beberapa waktu lalu di Solok Selatan tepatnya di Nagari Lubuk Gadang Utara ,Wilson harus menerima 50 jahitan di kepala karena mencoba menghentikan tambang emas ilegal yang kemudian juga terindikasi menggunakan alat berat," ucap Tommy.
Menurut WALHI, berbagai insiden tersebut menunjukkan bahwa PETI telah berkembang menjadi kejahatan yang terorganisir dan memiliki jaringan kuat.
Tommy menilai kondisi itu membuat masyarakat yang berusaha mempertahankan lingkungan justru berada dalam posisi rentan.
Baca Juga: WALHI: PETI di Sumbar Sudah Hancurkan Lebih dari 10 Ribu Hektare Hutan dan Lahan
"Dari catatan WALHI setidaknya dari rentang 2012 sampai 2026 aktivitas ini telah menelan korban 50 orang akibat tertimbun oleh tambang emas ilegal ini," ujarnya.
Selain korban jiwa akibat kecelakaan tambang, masyarakat juga harus menghadapi risiko intimidasi dan kekerasan ketika berupaya menghentikan aktivitas tersebut.
WALHI mendesak aparat penegak hukum tidak hanya fokus pada penambang di lapangan, tetapi juga mengusut pihak-pihak yang diduga berada di balik operasi tambang ilegal.
"Ini bukan lagi kejahatan yang bisa kita anggap sebagai kejahatan biasa karena memang sistematis dia, memang terkomando dia," pungkas Tommy.
Menurut WALHI, perlindungan terhadap warga dan pejuang lingkungan harus menjadi bagian dari upaya penyelesaian persoalan PETI yang hingga kini masih marak di berbagai wilayah Sumatera Barat. (Reporter: Dinda Pramesti K)
Berita Terkait
-
WALHI: PETI di Sumbar Sudah Hancurkan Lebih dari 10 Ribu Hektare Hutan dan Lahan
-
Baru Sebulan Pascabencana Mematikan, Izin Tambang Andesit Terbit di Kawasan Hulu Sumbar
-
WALHI 'Semprot' Pemprov DKI: Bukannya Perluas Akses Transportasi Umum, Malah Naikkan Tarif
-
WALHI Kritik Kenaikan Tarif Transjakarta, Krisis Udara Ibu Kota Bakal Makin Parah
-
Purbaya Siapkan Denda Besar Bagi Importir yang Tahan Kontainer di Pelabuhan
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Jupnas Gizi Pertanyakan Kontradiksi Data Program MBG, Padahal Dulu Pamer Capaian
-
Massa Mahasiswa ke Aparat di Thamrin: Bapak Nanti Jaganya di HI Saja, Biarin Kita Jalan Dulu Pak!
-
BTN Jakarta International Marathon 2026 Diikuti Lebih Dari 45.000 Peserta dari 52 Negara
-
Jejak Angelo Pandeli: Pentolan Hells Angels yang Diburu Dunia Ditangkap di Bali
-
DPR Endus Pemborosan Rp1 T di BGN, Desak Audit Investigatif Ribuan Dapur MBG
-
Alasan Polisi Larang Mahasiswa Demo di Bundaran HI, Takut Jakarta Lumpuh
-
Kisah Ade dan Obed, PKL yang Ketiban Rezeki Nomplok di Tengah Riuhnya Demo Mahasiswa di Bundaran HI
-
Demo Mahasiswa: 5 Rute Transjakarta Berhenti dan MRT Tutup Sejumlah Akses Stasiun
-
CPJ Kecam Teror Kepala Ayam Busuk ke Floresa: Kebebasan Pers RI Tak Boleh Dikangkangi!
-
Inisiatif Ubah Sampah Jadi Bahan Bakar Bermunculan, Mengapa Belum Banyak Digunakan Secara Luas?