- Studi CISDI menemukan sembilan dari sepuluh pangan kemasan di Indonesia mengandung kadar gula, natrium, dan lemak yang tinggi.
- CISDI mendesak pemerintah segera menetapkan standar Nutrient Profile Model berbasis bukti sebagai landasan teknis kebijakan pangan yang kuat.
- Pemerintah disarankan menerapkan label peringatan wajib dan cukai pada seluruh produk pangan kemasan guna menekan angka konsumsi tidak sehat.
Suara.com - Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkapkan temuan mengkhawatirkan terkait kualitas pangan di Indonesia. Berdasarkan studi terbaru Nutrient Profile Models, ditemukan fakta bahwa sembilan dari sepuluh pangan kemasan di Indonesia mengandung kadar gula, natrium, atau lemak (GGL) yang tinggi.
Menanggapi temuan tersebut, Health Economics Research Associate CISDI, Muhammad Zulfiqar Firdaus, memaparkan lima rekomendasi utama bagi pemerintah untuk menekan angka konsumsi produk tidak sehat di masyarakat.
1. Adopsi Nutrient Profile Model (NPM) Berbasis Bukti
Zulfiqar menekankan pentingnya Indonesia memiliki standar Nutrient Profile Model (NPM) yang kuat sebagai landasan kebijakan. Menurutnya, saat ini regulasi teknis seperti cukai dan pelabelan sudah mulai disiapkan, namun belum memiliki "kitab" atau landasan NPM yang jelas.
"Rekomendasi pertama kami adalah mengadopsi NPM berbasis bukti. Ini menjadi sangat penting karena untuk saat ini Indonesia itu belum memiliki NPM sebenarnya, cuma sudah jalan saja peraturannya ya. FOPL-nya (Front-of-Pack Labeling) sudah jalan, terus juga teknis cukainya sudah disiapkan... tanpa NPM, gitu," ujar Zulfiqar dalam diseminasi riset daring di Jakarta, Selasa (28/4/2026).
CISDI merekomendasikan pemerintah untuk mensintesis model terbaik dari standar internasional seperti SEARO, PAHO, dan AFRO yang terbukti paling efektif mengidentifikasi produk tidak sehat.
2. Perkuat Tata Kelola Kebijakan Pangan
Rekomendasi kedua menyoroti pentingnya transparansi dalam kebijakan pangan sehat. CISDI mendesak agar kebijakan dibuat berdasarkan bukti ilmiah dan berorientasi pada kesehatan masyarakat, bukan kepentingan industri.
"Risiko konflik kepentingan perlu dikelola secara sistematis. Kami harapkan transparansi ke depannya dapat ditingkatkan dan mekanisme pengelolaan konflik kepentingan juga bisa dikelola dengan lebih baik serta melibatkan aktor independen termasuk akademisi dan civil society," tegasnya.
3. Terapkan 'Warning Label' Secara Wajib (mandatory)
Mempertimbangkan penggunaan label peringatan (warning label) depan kemasan yang sederhana, wajib, dan mudah dipahami. Menurut riset CISDI, label peringatan (warning label) jauh lebih efektif dalam menurunkan konsumsi produk tinggi GGL dibandingkan sistem peringkat yang dianggap masih longgar.
“Warning label ini sudah berbasis bukti ilmiah dan terbukti dapat menurunkan konsumsi produk tinggi gula, garam, lemak khususnya di negara-negara Amerika Latin," jelas Zulfiqar.
Baca Juga: Rencana 100 Gudang Pangan Disorot, Salah Lokasi Bisa Jadi Mubazir
CISDI berharap ke depannya pemerintah bisa melakukan evaluasi dan melakukan penyesuaian untuk menerapkan label peringatan secara penuh.
4. Mengaplikasikan regulasi (FOPL) kepada Seluruh Produk Pangan Kemasan
Memperluas pelabelan depan kemasan ke seluruh produk pangan kemasan secara bertahap untuk memperluas perlindungan kesehatan masyarakat.
CISDI meminta agar kewajiban pelabelan di depan kemasan (FOPL) tidak hanya terbatas pada Minuman Bergula Dalam Kemasan (MBDK), tetapi mencakup seluruh produk makanan kemasan.
“Kita harapkan tentunya ke depannya implementasi ini nanti bisa segera dilakukan juga untuk produk yang lain gitu, di luar minuman siap saji dalam kemasan,” jelas Zulfiqar.
5. Kebijakan Komprehensif: Segerakan Cukai MBDK
Terakhir, CISDI mendesak pemerintah untuk segera menerapkan kebijakan komprehensif, termasuk kebijakan fiskal berupa cukai MBDK yang sudah menjadi perbincangan sejak tahun 2016 namun belum juga terealisasi.
Kebijakan komprehensif tersebut mencakup label depan kemasan, pembatasan pemasaran, dan cukai produk tinggi gula, garam, dan lemak.
“Yang kami harapkan juga tentunya kebijakan komprehensif ini nantinya akan didasari oleh nutrient profile model atau tadi kitabnya ya kita bilang,” pungkas Zulfiqar.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Rencana 100 Gudang Pangan Disorot, Salah Lokasi Bisa Jadi Mubazir
-
Kena Sanksi FIFA, Ini Alasan John Herdman Panggil Pattynama dan Thom Haye ke TC Timnas Indonesia
-
Joey Pelupessy dan Ragnar Oratmangoen Berpotensi Saling Menghancurkan di Belgia
-
Mauricio Souza Girang 4 Pemainnya Dipanggil John Herdman, Siapa Saja?
-
Siapa Pemilik Green SM Indonesia? Taksi Listrik yang Jadi Sorotan Usai Kecelakaan Kereta di Bekasi
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
Pilihan
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
Terkini
-
Sidang Blueray Cargo, Jaksa KPK Ungkap Dugaan Aliran Rp21 Miliar ke Djaka Budi Utama
-
Imbau Daerah Gelar Nobar Piala Dunia 2026, Mendagri Optimistis Bakal Gerakkan Perekonomian
-
'Tak Ada Penangkapan!' Kapolres Jaksel Bantah Tudingan Represif di Aksi Mahasiswa GMNI Pancoran
-
Gangguan Akses CCTV Publik Saat Aksi Unjuk Rasa di Sudirman Bukan dari Sistem Pemprov DKI
-
Massa di Sudirman Bubar: Mahasiswa Mundur Pertama, Disusul Kelompok 'Baju Hitam'
-
Mahasiswa Sudah Pergi, Siapa Massa Berbaju Hitam yang Masih Bertahan di Sudirman?
-
Mendagri Tito Dorong DKPP Tingkatkan Integritas Penyelenggara Pemilu
-
KPK Selidiki Dugaan Perintangan Penyidikan Kasus Bea Cukai, Pendiri IAW Diperiksa
-
Mengapa Pertamax Naik? Teddy Indra Wijaya Ungkap 3 Alasannya
-
Triana ke Mahasiswa: Jangan Lupakan Reformasi Agraria, Tanpa Itu Indonesia Tak Akan Berubah