News / Internasional
Selasa, 28 April 2026 | 16:53 WIB
Pembongkaran bangunan warga Palestina di Tepi Barat oleh Israel [Foto: ANTARA]
Baca 10 detik
  • Penjajah Israel membakar rumah di Jalud dan merampas 17.000 dunam lahan untuk pemukiman.

  • Serangan di Nablus mengakibatkan 15 warga luka-luka termasuk anak-anak dan perempuan.

  • Di Hebron, pasukan penjajah menangkap pasangan suami istri dan mengancam menghancurkan lima rumah.

Suara.com - Kebrutalan Israel kembali memuncak dengan aksi pembakaran rumah warga sipil di Desa Jalud, Nablus Selatan.

Serangan ini bukan sekadar insiden sporadis melainkan bagian dari upaya sistematis pengosongan lahan Palestina.

Warga dipaksa meninggalkan tempat tinggal mereka di bawah ancaman api dan kekerasan fisik yang dilakukan puluhan penyerang.

Viral Pemakaman di Gaza Dipenuhi Bunga Kuning (Instagram/hatem.h.rawagh)

Aksi vandalisme ini menyasar pemukiman penduduk yang selama puluhan tahun menjadi target ekspansi pemukiman ilegal.

Situasi di lapangan menunjukkan eskalasi ketegangan yang mengancam nyawa perempuan serta anak-anak di wilayah tersebut.

Um Shadi al-Tubasi menceritakan detik-detik mencekam saat rumahnya diserbu dan dibakar oleh kelompok penjajah.

Warga Palestina mengungsi dengan berjalan kaki saat mereka melarikan diri dari bagian utara Gaza, di tengah operasi militer Israel, di Jabalia di Jalur Gaza utara pada tanggal 4 Desember 2024. (Foto arsip: Reuters)

“Selama 10 hari, kami hidup dalam ketakutan yang terus-menerus,” ujar Um Shadi al-Tubasi dengan nada getir dikutip dari Anadolu.

Ia menegaskan bahwa serangan di malam hari jauh lebih intens demi memaksa mereka menyerahkan tanah kelahiran.

“Pada malam hari, serangan mereka meningkat dan mereka mencoba memaksa kami keluar dari rumah kami, dan kami memberi tahu mereka bahwa ini adalah rumah kami,” katanya.

Baca Juga: Hizbollah Kecam Diplomasi Lemah Lebanon dengan Israel, Tuntut Pelucutan Senjata

Prioritas utama para orang tua di sana kini hanyalah memastikan keselamatan anak-anak mereka dari serangan brutal.

“Saya takut akan nyawa anak-anak saya, bukan nyawa saya sendiri,” tambahnya menegaskan keberanian sekaligus kecemasan.

Kepala Desa Jalud, Raed al-Nasser, mengungkapkan bahwa skema pemukiman ilegal ini sudah berlangsung sejak tahun 1975.

Saat ini sudah berdiri 10 pemukiman dan pos terdepan di atas tanah desa dengan dua proyek tambahan yang sedang dibangun.

Erosi kedaulatan tanah di Jalud telah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan bagi kelangsungan hidup warga.

Hampir 17.000 dunam dari total 23.000 dunam luas wilayah Jalud kini telah dirampas untuk kepentingan ekspansi.

Aktivitas ini terus berjalan meski mendapatkan kecaman internasional atas pelanggaran hak asasi manusia di Tepi Barat.

Bashar al-Qaryouti selaku petugas medis melaporkan adanya 15 korban luka akibat serangan tongkat dan lemparan batu.

Para korban terdiri dari berbagai kalangan termasuk perempuan dan anak-anak yang mengalami luka serius.

Tim medis menemukan kasus memar, patah tulang, hingga sesak napas akut akibat asap dari pembakaran rumah.

Teror ini tidak berhenti di Nablus, karena di Hebron pasukan penjajah juga melakukan penangkapan terhadap pasangan suami istri.

Shadi Khalil Gheith dan istrinya, Doaa Khader Nassar, dibawa paksa dari kediaman mereka di wilayah Yatta.

Pemerintah penjajah Israel mengeluarkan perintah pembongkaran terhadap lima rumah dan satu lumbung domba di Desa Birin.

Farid Barqan selaku kepala desa mengonfirmasi bahwa pasukan penjajah telah membagikan surat perintah penghancuran tersebut.

Alasan ketiadaan izin bangunan sering kali menjadi dalih hukum untuk meratakan bangunan milik warga Palestina.

Serangan harian ini menciptakan atmosfer ketakutan yang merata bagi seluruh penduduk di Tepi Barat yang diduduki.

Lebih dari 1.150 warga Palestina telah gugur sejak Oktober 2023 akibat agresi militer dan serangan penjajah.

Aksi pembakaran dan pengusiran di Jalud merupakan kelanjutan dari pola pendudukan jangka panjang di Tepi Barat.

Sejak tahun 1967, pembangunan pemukiman ilegal terus meningkat dan mengisolasi kota-kota utama Palestina.

Berdasarkan data resmi, ribuan warga mengalami luka-luka dalam rentetan serangan yang terus meningkat setahun terakhir.

Konflik ini berakar pada sengketa lahan di mana izin bangunan hampir mustahil didapatkan oleh warga asli Palestina.

Situasi di Nablus dan Hebron mencerminkan kondisi krisis kemanusiaan yang membutuhkan perhatian mendesak dari komunitas global.

Load More