-
Militer Israel mengaktifkan kembali unit Netzah Yehuda setelah skorsing satu bulan akibat menyerang jurnalis.
-
Penyelidikan polisi militer terhadap pelaku pencekikan wartawan CNN di Tepi Barat masih belum transparan.
-
Polisi Israel juga menyelidiki kasus patah tulang pergelangan tangan produser CNN akibat kekerasan petugas.
Suara.com - Unit cadangan militer Israel yang berada di bawah naungan batalyon ultra-Ortodoks Netzah Yehuda telah resmi diaktifkan kembali.
Pengaktifan ini dilakukan hanya berselang satu bulan setelah mereka diskors karena melakukan penyerangan terhadap tim jurnalis CNN.
Keputusan redeploy atau penempatan kembali ini memicu tanda tanya besar mengenai efektivitas sanksi internal militer di wilayah konflik.
Pasukan tersebut sebelumnya ditarik dari tugas lapangan untuk mengikuti seminar pendidikan dan pelatihan tambahan sebagai bentuk hukuman.
Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa unit ini akan memulai aktivitas operasional secara penuh dalam hitungan hari.
Insiden kekerasan yang memicu skorsing ini terjadi pada tanggal 30 Maret silam di desa Tayasir, Tepi Barat.
Kala itu, para serdadu mengadang dan menahan tim peliput yang sedang mendokumentasikan aksi kekerasan pemukim ilegal.
Tindakan fisik brutal terekam jelas saat seorang prajurit mencekik jurnalis foto CNN, Cyril Theophilos, hingga tersungkur ke tanah.
Aksi tersebut tidak hanya melukai fisik jurnalis, tetapi juga menyebabkan kerusakan serius pada peralatan kamera milik tim media.
Baca Juga: Israel Ancam Lebanon dengan 'Api Besar', Ketegangan dengan Hizbullah Kian Memanas
Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, sempat mengambil tindakan disipliner yang dianggap belum pernah terjadi sebelumnya.
Pihak militer Israel secara terbuka mengakui adanya penyimpangan dalam perilaku personel mereka di lapangan saat insiden berlangsung.
Terkait peristiwa tersebut, IDF menyatakan bahwa kejadian itu merupakan “kegagalan etis dan profesional yang serius.”
Militer menjanjikan pelatihan khusus untuk memperkuat landasan etika para prajurit sebelum mereka diperbolehkan kembali memegang senjata.
Komando Pusat Israel yang mengendalikan operasi di Tepi Barat menjadi pihak yang menentukan waktu kembalinya unit ini ke tugas aktif.
Seorang pejabat militer mengonfirmasi kepada CNN bahwa serangan terhadap Theophilos akan diperiksa oleh polisi militer.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Sebut Bukan Insiden Kebetulan, Nandang Sutisna Desak Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis
-
Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa 'Terpaksa' Demo
-
Aksi Bersih & Penghijauan dalam Memperingati HLH 2026, NHM Ajak Masyarakat Jaga Lingkungan Bersama
-
Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan Karakter Generasi Muda Berbasis Nilai Budaya
-
Bukan Ancaman, Anis Matta Sebut Demo Justru 'Picu' Pemerintah Kerja Lebih Baik
-
Massa Bertahan di Gejayan Meski Aksi Selesai, Bunyi Klakson - Seruan Turunkan Prabowo Terus Menggema
-
Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
-
Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis
-
Benarkah Jokowi Segera Jadi Ketua Dewan Pembina? PSI Kasih 'Kode Keras' Begini
-
Jawab Tuntutan Mahasiswa, Bakom RI Sebut Kebijakan Presiden Prabowo Hemat Anggaran Rp300 Triliun!