-
Konflik bersenjata memicu gelombang pengangguran massal dan kemiskinan ekstrem bagi jutaan rakyat Iran.
-
Kerusakan infrastruktur industri akibat serangan udara melumpuhkan sektor manufaktur dan ekonomi digital Iran.
-
Masyarakat Iran menghadapi ketidakpastian hidup akibat inflasi tinggi dan hilangnya akses pekerjaan internasional.
Sektor baja dan petrokimia yang menjadi tulang punggung ekonomi juga tidak luput dari gempuran serangan udara yang menghancurkan fasilitas produksi.
Produsen trailer Maral Sanat terpaksa merumahkan 1.500 pekerjanya karena kesulitan mendapatkan bahan baku baja yang kini sangat langka di pasaran.
Perusahaan tekstil Borujerd juga melakukan langkah serupa dengan memberhentikan 700 karyawan demi menjaga kelangsungan hidup perusahaan yang tersisa.
Sektor penerbangan pun ikut mati suri setelah jadwal penerbangan internasional maupun domestik dibatalkan secara mendadak demi alasan keamanan.
Soheila, seorang pramugari senior, menceritakan pengalamannya saat seluruh jadwal terbangnya dihapus tanpa kepastian pembayaran gaji di masa depan.
“Saya hendak berangkat untuk penerbangan ketika rekan saya menelepon dan mengatakan semuanya telah dibatalkan. Kontrak kami berakhir pada bulan Maret, jadi sampai penerbangan dilanjutkan, kami tidak akan dibayar,” tutur Soheila.
Lonjakan pengajuan asuransi pengangguran meningkat tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu dengan total mencapai 147.000 pemohon baru.
Sektor e-commerce raksasa seperti Digikala juga mulai melakukan perampingan staf di berbagai departemen akibat melemahnya daya beli masyarakat.
Pekerja lepas dan perempuan yang mengandalkan internet menjadi kelompok paling rentan karena akses digital yang sering terputus total.
Baca Juga: Pejabat Inggris Sindir Israel Sekutu Spesial Amerika saat Pertemuan Trump - Raja Charles, Maksudnya?
Jafar, seorang analis data yang kini menganggur, mempertimbangkan untuk menjadi pengemudi ojek daring demi melunasi utang dan biaya sewa rumah.
“Sekarang saya berpikir untuk bekerja di transportasi online hanya untuk bertahan hidup. Saya punya sewa dan utang yang harus dibayar, dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” kata Jafar.
Para pengajar daring seperti Somayeh di Isfahan juga mengeluhkan rusaknya sistem aplikasi domestik yang tidak mampu menggantikan platform internasional.
“Tidak ada lagi yang berfungsi dengan baik. Siswa tidak bisa semuanya online pada saat yang sama, platform terus mengalami gangguan,” jelas Somayeh.
Kamar Dagang Teheran mengkritik kebijakan pemerintah yang menaikkan gaji pegawai negeri namun membiarkan sektor swasta berjuang sendirian tanpa bantuan.
Saeed Tajik dari Kamar Dagang Teheran menyoroti ketimpangan kebijakan antara sektor publik dan perusahaan swasta yang kini berada di ujung tanduk.
“Pemerintah memerintahkan kenaikan gaji 60% bagi pegawainya sambil mengizinkan banyak dari mereka bekerja jarak jauh dengan gaji penuh. Sementara itu, perusahaan ekonomi yang tidak mampu membayar upah terpaksa mem-PHK pekerjanya,” ujar Saeed Tajik.
Pemerintah Iran berdalih bahwa segala kesulitan ini merupakan akibat dari perang tidak adil yang dipicu oleh tekanan eksternal blok Barat.
Media konservatif Ettelaat mendesak pemerintah untuk segera menerapkan program ekonomi perang guna mengatasi kelangkaan barang dan pengangguran masal.
Tanpa adanya intervensi berupa keringanan pajak dan pinjaman bunga rendah, gelombang kebangkrutan perusahaan diprediksi akan jauh lebih besar.
Ketidakpastian yang terus berlanjut membuat harapan masyarakat akan pemulihan ekonomi menjadi semakin tipis di tengah bayang-bayang konflik berkepanjangan.
Ekonomi Iran sebenarnya sudah dalam kondisi kritis jauh sebelum konflik bersenjata ini pecah akibat sanksi internasional dan korupsi sistemik.
Pendapatan nasional per kapita Iran telah merosot tajam dari 8.000 dolar AS pada tahun 2012 menjadi hanya 5.000 dolar AS pada tahun 2024.
Perang terbaru ini memperparah kondisi tersebut dengan hancurnya infrastruktur industri dan pemutusan akses digital yang melumpuhkan sektor ekonomi modern.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Dicap Menteri Problematik, Menhut Raja Juli Dikecam Usai Prioritaskan Hutan untuk TNI
-
Tol Akses Patimban Capai 68 Persen, Pemerintah Kebut Konektivitas ke Pelabuhan Strategis Nasional
-
Metodologi Audit BPKP Dinilai Tak Konsisten, Pakar Desak Evaluasi Total
-
Ada Jejaring Kolektif, Pakar Ungkap Kekayaan Negara Bocor Puluhan Tahun ke Kantong Pribadi
-
Truk Hantam Motor Scoopy di Cileungsi, Penjaga Warung Madura Tutup Usia di Tempat?
-
Perempuan Kini Tak Hanya Menabung, Tapi Juga Mulai Memilih Investasi yang Berdampak
-
Stop Jadi Beban Jalanan, Jasa Raharja-Korlantas Polri Perangi Budaya Melawan Arus
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
BRI dan Kementerian UMKM Perkuat Pembiayaan KUR, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas