News / Internasional
Rabu, 29 April 2026 | 11:52 WIB
Konser Taylor Swift 'The Eras Tour' (Instagram/@enews)
Baca 10 detik
  • Terdakwa teror konser Taylor Swift di Wina mengakui semua tuduhan termasuk keanggotaan jaringan ISIS.

  • Rencana serangan bom tersebut menargetkan puluhan ribu penggemar yang berkumpul di luar stadion.

  • Taylor Swift merasa sangat ketakutan dan bersalah atas pembatalan konser demi keselamatan penggemarnya.

Suara.com - Beran A secara resmi mengakui segala perbuatannya dalam persidangan kasus terorisme di Wiener Neustadt.

Pengakuan ini menjadi titik balik penting dalam pengungkapan rencana serangan maut di konser Taylor Swift.

Dikutip dari CNN, pemuda berusia 21 tahun tersebut mengonfirmasi keterlibatannya dalam jaringan terlarang Islamic State atau ISIS.

hasil prompt Gemini AI edit foto jadi cover album Taylor Swift (Google Gemini)

Langkah hukum ini diambil setelah dirinya mendekam di balik jeruji besi sejak penangkapan Agustus 2024 silam.

Terdakwa kini menghadapi bayang-bayang hukuman penjara maksimal selama dua dekade akibat ambisi radikalnya tersebut.

Melalui kuasa hukumnya, terdakwa menyatakan permintaan maaf yang mendalam atas rencana jahat yang ia susun.

“Tentu saja, dia sangat menyesali semuanya,” ujar Anna Mair, pengacara pembela terdakwa, di luar ruang sidang.

Taylor Swift umumkan penjualan album baru (Instagram)

Mair menekankan bahwa masa penahanan yang panjang telah mengubah cara pandang kliennya terhadap kesalahan masa lalu.

“Hal ini juga dikarenakan masa penahanan yang lama sehingga dia mengatakan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya,” tambah Mair.

Baca Juga: Simple Plan Kembali ke Indonesia, Konser di Jakarta dan Surabaya Rayakan 25 Tahun Berkarya

Kekecewaan penggemar Taylor Swift di seluruh dunia menjadi dampak nyata dari aktivitas kriminal yang ia rencanakan.

Fakta persidangan memaparkan bahwa target utama bukanlah area dalam stadion melainkan kerumunan di luar.

Sekitar 30.000 orang yang berkumpul di luar venue menjadi sasaran empuk untuk diledakkan dengan bom rakitan.

Otoritas keamanan menyebut bahwa tersangka berambisi untuk menghabisi nyawa manusia sebanyak mungkin dengan senjata tajam.

Bahan pembuat bom ditemukan di kediamannya hanya satu hari sebelum jadwal konser akbar tersebut dimulai.

Informasi intelijen dari Amerika Serikat memainkan peran krusial dalam keputusan pembatalan mendadak tiga pertunjukan besar tersebut.

Load More