- Presiden Prabowo melakukan perombakan kabinet kelima pada April 2026 sebagai langkah strategis mengukuhkan kendali pemerintahannya.
- Penunjukan Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman sebagai KSP bertujuan menjadi jembatan kompromi antara kubu Prabowo dan mantan Presiden Jokowi.
- Prabowo menegaskan otoritas kepemimpinannya kepada jajaran birokrasi guna meminimalisir risiko munculnya persepsi dwitunggal atau matahari kembar.
Suara.com - Analis Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai perombakan kabinet (reshuffle) kelima yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar penyegaran birokrasi, melainkan langkah strategis untuk mengukuhkan kendali penuh di tengah bayang-bayang pengaruh mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Ginting menyebut posisi Prabowo saat ini sedang berada dalam fase transisi yang krusial, di mana ia harus merangkul kekuatan lama demi stabilitas politik di awal pemerintahannya.
"Kekuasaan tidak pernah benar-benar pindah secara drastis melainkan bertransformasi melalui kompromi politik dan konsolidasi politik," ujar Selamat Ginting dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Rabu (29/4/2026).
Menurut Ginting, keberadaan orang-orang dekat Jokowi dalam kabinet Prabowo adalah sebuah "keniscayaan politik" untuk membangun jembatan dengan masa lalu.
Namun, langkah ini membawa risiko besar, yakni munculnya persepsi kepemimpinan ganda atau "Matahari Kembar".
"Ketika loyalis pejabat lama lebih condong ke Jokowi daripada ke Prabowo, maka akan memunculkan potensi matahari kembar. Misalnya orang masih lalu lalang ke Solo. Itu kan dianggap, oh ini kok masih ada matahari kembar di dalam pemerintahan yang usianya sudah satu tahun ini," jelasnya.
Dudung Abdurachman: Figur Kompromi dan 'Dapur Politik'
Salah satu poin krusial dalam reshuffle kali ini adalah penunjukan mantan KSAD Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Ginting menilai, Dudung adalah figur kunci yang dipilih Prabowo karena bisa diterima oleh dua kutub kekuasaan, Prabowo dan Jokowi.
"Prabowo itu mengambil Dudung dianggap sebagai figur kompromi. Dia bisa diterima oleh dua kutub. Kutubnya Prabowo dan kutubnya Jokowi. Jadi betul-betul dia jembatan yang bisa diterima," kata Ginting.
Baca Juga: Vietnam Sampaikan Duka atas Kecelakaan KRL di Bekasi, Presiden To Lam Kirim Pesan ke Prabowo
Lebih lanjut, Ginting melihat Prabowo ingin mengembalikan fungsi KSP sebagai "dapur politik" yang kuat, mirip dengan peran Luhut Binsar Pandjaitan di periode pertama Jokowi, bukan sekadar pelaksana politik praktis.
"Sepertinya figur Dudung ini diharapkan bisa seperti Luhut Binsar Pandjaitan pada saat menjadi KSP. Dia butuh figur militer yang kuat. Gaya kepemimpinan Dudung menurut saya itu memang cenderung commanding. Prabowo enggak suka dengan gaya-gaya modelnya Moeldoko yang lebih masuk ke politik praktis," tambahnya.
Pesan Tegas Prabowo: 'Jangan Main-main'
Meski masih memberikan ruang bagi loyalis Jokowi, Ginting menekankan bahwa melalui reshuffle ini, Prabowo sedang menegaskan siapa pemegang komando tertinggi yang sebenarnya.
Melalui Dudung, Prabowo mengirimkan pesan kepada para menteri dan jajaran birokrasi agar tegak lurus pada visi presiden yang baru.
"Figur militer tapi bisa diterima oleh pemerintahan lama… Dudung masih bisa kemudian diberikan pesan oleh Prabowo untuk menegaskan misalnya, 'Eh, kau jangan main-main, sekarang pemerintahannya adalah pemerintahan Prabowo Subianto'," tegas Ginting.
Tag
Berita Terkait
-
El Rumi Langgar Protokol Istana Demi Satukan Ahmad Dhani dan Maia Estianty, Berakhir Canggung
-
Vietnam Sampaikan Duka atas Kecelakaan KRL di Bekasi, Presiden To Lam Kirim Pesan ke Prabowo
-
Prabowo Resmikan 21 RSUD Mei 2026! Target Pangkas Rujukan dan Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja
-
Guyon Prabowo ke Menteri Trenggono: Sakti Terus Ya, Gak Boleh Pingsal Lagi!
-
Bantah Indonesia Gelap, Prabowo Sindir Pihak yang Ingin Kabur: Silakan...
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
-
Sempat Hilang Kontak, Ain Karyawan Kompas TV Meninggal dalam Kecelakaan KRL di Bekasi
-
4 Pemain Anyar di Skuad Timnas Indonesia untuk TC Piala AFF 2026, 2 Statusnya Debutan!
Terkini
-
Polisi Gandeng KNKT Usut Kecelakaan Maut KRL Bekasi: Human Error atau Gagal Sistem?
-
Vietnam Sampaikan Duka atas Kecelakaan KRL di Bekasi, Presiden To Lam Kirim Pesan ke Prabowo
-
Pemprov DKI Jakarta Percepat Mitigasi Perlintasan Sebidang Pasca Tragedi Bekasi
-
Berkas Belum Rampung, KPK Perpanjang 30 Hari Masa Penahanan Fadia Arafiq
-
Babak Baru Teror Air Keras Andrie Yunus: 8 Saksi Siap Bongkar Aksi 4 Anggota BAIS TNI, Siapa Saja?
-
Petir Hantam Bangladesh, Sambar 14 Orang Sampai Tewas Terpanggang
-
Prabowo Resmikan 21 RSUD Mei 2026! Target Pangkas Rujukan dan Serap Puluhan Ribu Tenaga Kerja
-
Kanselir Jerman: Iran Sedang Mempermalukan Amerika Serikat
-
Tragis Penjual Kartu Pokemon di Chile Dibunuh, Koleksi Mahal Jadi Motif
-
Terkuak di Sidang! Intel BAIS Lacak Aktivis KontraS Andrie Yunus Lewat Google hingga Aksi Kamisan