News / Nasional
Kamis, 30 April 2026 | 07:00 WIB
Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno. [Dok. Pemprov DKI]
Baca 10 detik
  • Pemprov DKI Jakarta menjamin keberlanjutan pendidikan anak mendiang Nur Laila, guru ASN yang wafat dalam kecelakaan kereta di Bekasi.
  • Keluarga Nur Laila menerima santunan sebesar Rp283 juta dari PT Taspen sebagai bentuk dukungan pemerintah atas pengabdian almarhumah.
  • Pemerintah memberikan santunan senilai Rp62 juta kepada keluarga Nuryati, kader Jumantik yang berjasa dalam menjaga kesehatan lingkungan warga.

Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen penuh untuk menjaga masa depan pendidikan anak-anak Nur Laila, tenaga pendidik yang gugur dalam insiden tabrakan maut antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, pada Senin (27/4/2026).

Dedikasi almarhumah sebagai guru ASN selama bertahun-tahun menjadi alasan kuat bagi pemerintah untuk memastikan langkah buah hatinya tidak terhenti.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir atas pengabdiannya, Pemprov DKI kini tengah menyiapkan skema bantuan pendidikan khusus bagi anak-anak mendiang yang masih duduk di bangku sekolah.

“Insyaallah, Dinas Pendidikan memiliki program untuk itu. Kami akan pertimbangkan karena beliau bagian dari keluarga besar Pemprov DKI,” ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, saat menyerahkan santunan secara langsung kepada keluarga almarhumah di Balai Kota, Rabu (29/4/2026).

Dalam penyerahan santunan tersebut, ahli waris Nur Laila menerima dana duka sekitar Rp283 juta melalui PT Taspen.

Rano menegaskan bahwa dukungan finansial ini adalah wujud nyata kehadiran negara bagi para pelayan publik yang tertimpa musibah di tengah tugas.

“Bantuan ini tidak dapat menggantikan kehilangan. Namun, kami berharap dapat meringankan beban keluarga dan menjadi bukti kehadiran pemerintah di tengah masa duka,” tutur Rano.

Tak hanya bagi keluarga Nur Laila, perhatian Pemprov DKI juga tertuju pada keluarga almarhumah Nuryati.

Mendiang adalah seorang kader Jumantik di Kelurahan Harapan Mulya, Jakarta Pusat, yang dikenal gigih menjaga kesehatan lingkungan di garis terdepan.

Baca Juga: Kecelakaan Maut Bekasi Timur: Mengapa Sistem Keamanan Kereta Gagal Mengadang Tragedi?

”Jumantik ini pasukan yang setiap Jumat berkeliling kampung untuk melihat jentik-jentik nyamuk,” ungkap Rano mengenang jasa almarhumah.

Meski bertugas di tingkat kelurahan, Rano menilai peran kader Jumantik seperti Nuryati sangatlah vital, terutama dalam memitigasi penyakit berbasis lingkungan di tengah perubahan iklim yang ekstrem.

”Peran jumantik ini sangat luar biasa. Apalagi di tengah akan mengalami El Nino, sangat dibutuhkan sekali,” pujinya.

Sebagai apresiasi atas jasanya, keluarga Nuryati menerima santunan total senilai Rp62 juta, yang terdiri dari Rp42 juta melalui BPJS Ketenagakerjaan dan Rp20 juta dari Baznas (Bazis) DKI Jakarta.

Dukungan ini diharapkan mampu memberikan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan untuk terus melanjutkan hidup.

Load More