Suara.com - Percepatan transisi energi di Indonesia dinilai berisiko menambah tekanan ekonomi masyarakat jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat. Riset kolaborasi antara Australian National University (ANU) dan Universitas Indonesia (UI) bahkan menunjukkan potensi kenaikan angka kemiskinan sebagai dampak dari perubahan tersebut.
Temuan ini menegaskan bahwa transisi energi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga membawa konsekuensi sosial-ekonomi yang signifikan. Melalui pemodelan data, penelitian ini memetakan bagaimana kebijakan energi dapat memengaruhi daya beli dan kesejahteraan rumah tangga.
Akademisi ANU, Prof. Budy Resosudarmo, menekankan pentingnya memahami distribusi beban ekonomi dalam proses transisi energi.
“Model simulasi penting untuk melihat bagaimana beban ekonomi dari kebijakan energi ini terdistribusi ke masyarakat,” ujarnya dalam forum Knowledge and Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit 2026.
Hasil riset menunjukkan kelompok rentan menjadi pihak yang paling terdampak. Rumah tangga dengan anggota disabilitas, anak-anak, lansia, hingga keluarga dengan kepala keluarga perempuan menghadapi risiko paling besar dalam menghadapi perubahan biaya akibat transisi energi.
Kondisi ini memperkuat urgensi penerapan transisi energi yang berkeadilan. Tanpa intervensi kebijakan, tekanan ekonomi berpotensi memperlebar ketimpangan sosial.
Peneliti Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah, menilai pemerintah perlu hadir melalui kebijakan fiskal yang tepat sasaran.
“Intervensi seperti stimulus fiskal dan daur ulang pendapatan dari kebijakan harga karbon bisa membantu mengembalikan kesejahteraan rumah tangga rentan,” jelasnya.
Senada, Koordinator Rencana dan Laporan Sekretariat Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Widya Adi Nugroho, menegaskan bahwa kebijakan energi harus mempertimbangkan dampak lintas sektor.
Baca Juga: Kelas Menengah Terus Mengelus Dada: Gaji Tak Naik-naik dan Daya Beli yang Kian Payah
“Kebijakan tidak bisa dilihat hanya dari sisi energi, tetapi juga bagaimana dampaknya ke ekonomi dan sosial,” ujarnya.
Dengan demikian, tantangan utama transisi energi bukan sekadar mengejar target penurunan emisi, melainkan memastikan kebijakan yang diambil tidak justru mendorong masyarakat jatuh ke dalam kemiskinan.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- 5 Pilihan Sepatu Running Lokal Rp100 Ribuan, Murah tapi Kualitas Bukan Kaleng-Kaleng
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Mencerahkan Wajah, Cukup 3 Langkah Praktis Murah Meriah!
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Kabur Usai Tabrak Pedagang Buah di Kalimalang, Pengemudi Pajero Ditangkap Polisi
-
PDIP Usul Ambang Batas Parlemen Nasional 5,5-6 Persen dan Terapkan PT Berjenjang hingga Daerah
-
Kebijakan Iklim Inklusif Jadi Kunci, Anak dan Disabilitas Perlu Dilibatkan
-
Duka di Balik Jas Putih: Mengapa Dokter Internship Indonesia Bertumbangan?
-
Racun Tikus di Makanan Bayi Geger di Austria, Publik Panik Hingga Penarikan Besar-besaran Produk
-
Ketua Yayasan Daycare Little Aresha Ternyata Residivis Korupsi, Polisi Bongkar Peran Gandanya!
-
DPR Ingatkan Risiko Hibah Kapal Induk Italia, Biaya Perawatan Tembus Rp 101 Miliar per Tahun
-
Ahmad Dhani Datangi Bareskrim Usai Akun Instagramnya Mendadak Hilang
-
Kasus LNG, 2 Eks Pejabat Pertamina Divonis 4,5 dan 3,5 Tahun Penjara
-
Singgung Privasi Prabowo, Said Abdullah PDIP Sarankan Amien Rais Minta Maaf Secara Ksatria