- Pengamat UMY Zuly Qodir menyatakan langkah pemerintah menggandeng homeless media berisiko memicu krisis kepercayaan publik terhadap pemerintahan Prabowo.
- Pemanfaatan buzzer untuk melawan kritik masyarakat dengan narasi tidak faktual dikhawatirkan merusak kualitas demokrasi digital di Indonesia.
- Pengerahan homeless media berpotensi menyempitkan ruang kritik serta menciptakan budaya politik yang hanya berorientasi menyenangkan pihak penguasa.
Dalam praktiknya, buzzer dianggap akan mengikuti sepenuhnya narasi yang diinginkan pihak tertentu.
"Kalau buzzer itu kan 90 persen adalah sesuai dengan keinginan tuannya," tegasnya.
Lebih jauh, Zuly melihat kebijakan tersebut berpotensi mengarah pada kemunduran demokrasi.
Sebab, ruang kritik masyarakat sipil terhadap kebijakan pemerintah dapat semakin dipersempit melalui serangan balik di media digital.
"Apalagi yang dianggap tidak sesuai dengan harapan pemerintah atau yang saya sebut dengan istilah oposisi terhadap pemerintah. Jadi pasti akan segera diconter dan itu merugikan," ujarnya.
Padahal demokrasi yang sehat membutuhkan partisipasi publik yang kritis untuk mengawasi jalannya pemerintahan.
Jika kritik publik terus-menerus dibalas dengan serangan narasi dari buzzer, maka budaya politik yang terbentuk justru hanya sebatas menyenangkan penguasa tanpa adanya kontrol sosial yang sehat.
"Ya kalau itu semuanya nggak ada maka ya sudah dianggap yang penting ABS ya, Asal Bapak Senang," tandasnya.
Baca Juga: Kritik Qodari, Guru Besar UII Ingatkan Bahaya Homeless Media Jadi Alat Propaganda Pemerintah
Berita Terkait
-
Kritik Qodari, Guru Besar UII Ingatkan Bahaya Homeless Media Jadi Alat Propaganda Pemerintah
-
DPR Soroti Langkah Pemerintah Gandeng Homeless Media: Jangan Sampai Timbulkan Konflik Kepentingan
-
Apa Itu 'Homeless Media' yang Viral dari Kebijakan Bakom RI
-
Rangkul Homeless Media, Bakom Perkenalkan Mitra Baru New Media Forum
-
Jejak Berdarah Maluku Tenggara: Mengurai Benang Kusut Kematian Nus Kei di Tengah Rivalitas Politik
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
Terkini
-
Kesaksian Warga Nagekeo Saat Gempa M 7 Guncang NTT: Kami Lari Bawa Lansia dan Tinggalkan Rumah
-
5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
-
Sampaikan Duka Mendalam, Wapres Gibran Pastikan Penanganan Darurat Gempa NTT Dipercepat
-
Ilusi Kenaikan Gaji: Kenapa Hidup Justru Terasa Makin Pas-pasan?
-
Keberhasilan Transformasi Desa Kemiren bersama Kang Edai dan Astra
-
Kondisi Darurat! Supermarket Diminta Bagikan Makan ke Korban Gempa NTT, Pemerintah Siap Ganti
-
Buka Pintu untuk Mees Hilgers, Eks Pelatih Manchester United: Tunjukkan Pesonamu
-
Kebiasaan Ngemil Keluarga Indonesia Berubah, Kini Buah Hadir dalam Bentuk Camilan Praktis
-
Sinopsis Coyote vs. Acme, Debut dengan Skor Tinggi dan Tuai Pujian Kritikus
-
Target PLTS 100 GW Prabowo, IESR Ingatkan Kesiapan Eksekusi di Lapangan