News / Nasional
Jum'at, 08 Mei 2026 | 09:23 WIB
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) di acara Kolaborasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dengan Program Keluarga Harapan, di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Selasa (10/3). (dok. Bakom RI)
Baca 10 detik
  • Menteri Sosial Gus Ipul mengecam keras dugaan kekerasan seksual terhadap santriwati di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Pati, Jawa Tengah.
  • Kementerian Sosial menerjunkan tim untuk melakukan asesmen, pendampingan psikososial, serta pemulihan bagi para korban dan santri di lokasi tersebut.
  • Pemerintah akan memperkuat sistem pendataan korban sebagai dasar pemberian bantuan dan intervensi yang tepat bagi keluarga terdampak kasus.

Suara.com - Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengecam keras dugaan kekerasan seksual yang dilakukan Ashari terhadap santriwati Pondok Pesantren atau Ponpes Ndolo Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Ia menegaskan lembaga pendidikan agama tidak boleh dijadikan kedok untuk melakukan kejahatan seksual terhadap anak didik.

“Kami tidak hanya berhati-hati, kami mengecam keras, kami kecewa, kami sungguh-sungguh mengutuk ada pesantren dijadikan kedok,” ujar Gus Ipul kepada wartawan, Jumat (8/5/2026).

Merespons kasus tersebut, Kementerian Sosial telah menurunkan tim untuk melakukan asesmen dan pendampingan terhadap korban.

Pendampingan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan keluarga korban guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal.

“Kita asesmen, nanti kita lakukan pembicaraan lebih lanjut dengan keluarganya dan kira-kira apa yang bisa kita berikan dukungan dalam rangka pemberdayaan. Jadi, tim dari Kemensos sudah ada di sana dan kita sedang melakukan dialognya secara bertahap,” ucapnya.

Tak hanya itu, Kemensos juga menyiapkan layanan psikososial dan residensial di wilayah Pati untuk membantu pemulihan mental maupun fisik para korban.

Menurut Gus Ipul, kasus ini sekaligus menjadi momentum memperkuat sistem pendataan korban agar bantuan pemerintah maupun lembaga filantropi bisa tepat sasaran.

“Di sinilah pentingnya pendataan yang kemudian nanti kita jadikan dasar memberikan dukungan, bantuan atau intervensi yang bisa dilakukan oleh pemerintah atau juga oleh filantropi, lembaga non-government,” katanya.

Baca Juga: Gus Ipul Bantah Tahan SK Jelang Muktamar PBNU: Itu Kabar Menyesatkan

Kemensos juga akan berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik (BPS) untuk mengukur kondisi sosial ekonomi keluarga korban sebagai dasar penyaluran bantuan lanjutan.

Kasat Reskrim Polresta Pati (rompi hitam) Kompol Dika Hadiyan Widya Wiratama saat berbincang dengan tersangka pencabulan berinisial AS yang ditangkap di tempat pelariannya di Kabupaten Wonogiri, Kamis (6/5/2026). [ANTARA/HO-Polresta Pati]

Di sisi lain, Sekjen PBNU itu mengingatkan publik agar tidak menggeneralisasi seluruh pesantren akibat kasus tersebut.

Ia mengajak semua pihak memperketat pengawasan di lingkungan pendidikan tanpa mengabaikan kontribusi pesantren yang selama ini mendidik santri dengan baik.

“Mari kita sama-sama berikan pengawasan secara ketat dan jangan disamaratakan. Banyak pesantren yang telah mendidik dengan sungguh-sungguh para santrinya,” tambahnya.

Gus Ipul juga menegaskan perlindungan harus diberikan tidak hanya kepada korban, tetapi juga santri lain di lingkungan pesantren tersebut melalui pendekatan rehabilitasi dan pemberdayaan.

“Kita harus jaga para santri ini, tidak hanya korban tapi juga santri lainnya. Semua harus kita beri perlindungan, sekaligus rehabilitasi dan pemberdayaan,” pungkasnya.

Load More