- Titi Anggraini dari Perludem mendesak pemisahan pemilu nasional dan daerah dalam diskusi di Yogyakarta, Kamis (7/5/2026).
- Pemisahan pemilu bertujuan mengatasi kelelahan ekstrem penyelenggara, pemilih, serta isu daerah yang tenggelam oleh agenda nasional.
- Sistem terpisah akan melemahkan dominasi elite pusat, meningkatkan posisi tawar aktor daerah, dan memperbaiki evaluasi kepemimpinan.
Suara.com - Dewan Pembina Perludem, Titi Anggraini, menegaskan pentingnya implementasi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pemisahan pemilu nasional dan pemilu daerah.
Menurutnya, desain pemilu serentak yang selama ini diterapkan memicu kelelahan massal, menenggelamkan isu daerah, hingga memperkuat dominasi elite politik pusat.
Hal itu disampaikan Titi dalam diskusi terbuka bertajuk “Pemilu dan Peluang Kepemimpinan Orang Muda” yang digelar Social Movement Institute di Sekretariat SMI, Yogyakarta, Kamis (7/5/2026).
"Yang pertama pemilu serentak nasional, memilih Presiden, DPR, dan DPD. Jadi dipilih tiga posisi bersamaan, Presiden, DPR, DPD," ujar Titi.
Ia menjelaskan, MK telah memberi batas tegas agar Pilkada tidak lagi digelar bersamaan dengan pemilu nasional. Karena itu, menurutnya harus ada pemilu serentak daerah yang digelar terpisah.
"Pemilu serentak daerah itu memilih DPRD provinsi, kabupaten, kota, dan kepala daerah provinsi dan kabupaten kota, gubernur, bupati, wali kota, melalui pemungutan suara pada satu waktu yang bersamaan. Dan itu jedanya paling cepat 2 tahun dari pemilu nasional, paling lambat 2,5 tahun," tambahnya.
Voter Fatigue
Titi menilai pemisahan pemilu menjadi penting setelah berkaca pada pengalaman Pemilu 2019 dan 2024 yang memakan banyak korban di kalangan penyelenggara.
Menurut dia, pemilu serentak lima kotak membuat pemilih, petugas, hingga sistem politik mengalami kelelahan ekstrem atau voter fatigue.
Baca Juga: Cari Keadilan! Keluarga Korban Kekerasan TNI Serahkan Kesimpulan Gugatan UU Peradilan Militer ke MK
"Problem pemilih yang mengalami yang disebut dengan voter fatigue, kelelahan pemilih, political fatigue, kelelahan politik, kelelahan penyelenggara. Di 2024 jangan kira enggak ada penyelenggara meninggal, ada 150 orang lebih penyelenggara yang meninggal karena kelelahan, dii 2019 ada 840, 5.175 sakit," ungkapnya.
Tak hanya itu, Titi menilai isu-isu daerah selama ini tenggelam oleh hiruk-pikuk Pilpres. Akibatnya, kontestasi lokal kerap hanya menjadi perpanjangan tangan agenda politik nasional.
70 Persen Caleg DPR “Kiriman” Jakarta
Dalam diskusi tersebut, Titi juga menyoroti dominasi elite pusat dalam politik elektoral daerah.
Ia bahkan mengutip data yang menyebut mayoritas caleg DPR berasal dari Jakarta dan sekitarnya.
"Contoh, data Kompas menyatakan 70 persen lebih caleg DPR itu pengiriman dari Jakarta, Jabodetabek, Deployment dari elit-elit politik yang berdomisili di Jakarta. Tidak pernah sekolah di daerah pilihan (dapil), tidak lahir di dapil, tidak tinggal di dapil. 70 persen lebih," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Kronologi BEM FH UBK Diinterogasi, Diduga Terima Uang Usai Bertemu Wapres Gibran
-
Tragis di Negeri Rantau, PMI Asal Aceh dan Bayinya Tewas Diduga Dibunuh di Malaysia
-
Iran vs Barat: Skema Asuransi Selat Hormuz Bisa Lumpuhkan Perdagangan Dunia
-
Profil Andy Burnham Calon PM Inggris: Penganut Manchesterism yang Diteriaki Bukan Messiah
-
Tangis Tertahan Keir Starmer: Mundur sebagai PM Inggris, Tekanan Partai Jadi Pemicu
-
Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo dan dr Tifa Segera Disidang di PN Jakarta Timur!
-
Akses KRL ke JIS Sudah Aktif: Ini Rute dan Jam Operasionalnya!
-
Niat ke Lombok Malah Dibuang ke Terminal Bayangan, WNA Uzbekistan Terlunta-lunta Ditipu Taksi Gelap
-
Ungkap Alasan Vonis 8 Tahun Bos Grup BJU Hendarto, Hakim: Hasil Korupsi Dipakai Judi!
-
KPK Incar 'Pemain' Lain di Skandal Korupsi MBG