News / Metropolitan
Sabtu, 09 Mei 2026 | 11:53 WIB
TPST Bantargebang. [dok. DPRD DKI]
Baca 10 detik
  • Pemprov DKI Jakarta memulai gerakan pemilahan sampah rumah tangga di Rasuna Said, Jakarta Selatan, pada Minggu, 10 Mei 2026.
  • Program ini bertujuan mengatasi krisis kapasitas di TPST Bantargebang yang kini menampung 55 juta ton sampah berbahaya.
  • Masyarakat diminta memilah sampah menjadi empat kategori agar dapat menekan beban timbulan sampah di lokasi pembuangan akhir.

Suara.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta resmi memulai gerakan pemilahan sampah dari rumah sebagai langkah nyata mengatasi krisis kapasitas tempat pembuangan akhir.

Pencanangan program ini akan dipusatkan di kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, pada Minggu (10/5/2026) besok.

"Sesuai dengan Instruksi Gubernur," ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung di sela-sela kegiatannya di Gereja Katedral, Jakarta Pusat, Sabtu (9/5/2026).

Langkah mendesak ini diambil menyusul kondisi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang di Bekasi yang kian kritis.

Pramono mengungkapkan, gunungan sampah di fasilitas tersebut kini telah menembus angka 55 juta ton dan mulai rawan longsor.

"Kita sudah tidak mungkin lagi mengandalkan pola lama untuk menimbun semua sampah di Bantargebang. Kapasitasnya sudah tidak cukup dan beberapa kali mengalami longsor," kata eks Sekretaris Kabinet itu.

Pemprov DKI Jakarta menggandeng Kementerian Lingkungan Hidup untuk merombak kebiasaan pengelolaan sampah warga Ibu Kota.

Melalui gerakan ini, masyarakat diminta secara aktif memilah sampah rumah tangga mereka menjadi empat kategori utama, yaitu sampah mudah terurai seperti sisa makanan atau dedaunan, sampah daur ulang yang memiliki nilai ekonomis, sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) atau kemasan bahan kimia rumah tangga dan sampah residu yang tidak dapat diolah kembali.

Sebelum gerakan dicanangkan secara luas, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan uji coba program percontohan pemilahan sampah selama tiga bulan di wilayah Rorotan dan Cilincing, Jakarta Utara. Sosialisasi pun terus digencarkan hingga ke Kepulauan Seribu.

Baca Juga: Di Balik Ledakan Belanja Online, Mengapa Transisi Kemasan Ramah Lingkungan Masih Berliku?

Guna menyukseskan program ini, pemerintah berharap seluruh elemen masyarakat turut ambil bagian. Dalam kesempatan yang sama, Pramono juga mengajak berbagai pihak, termasuk tokoh agama dan institusi seperti Keuskupan Agung Jakarta, untuk menggerakkan umatnya.

Keterlibatan aktif warga dalam memilah sampah dari rumah kini menjadi kunci penting untuk menyelamatkan Jakarta dari ancaman darurat sampah di masa depan. 

Load More