- Gerakan Aktivis Jakarta dan P.AS.T.I menggelar protes di DPRD DKI Jakarta pada Kamis, 7 Mei 2026.
- Massa menuntut penghentian proyek RDF Rorotan karena dinilai mencemari lingkungan dan terindikasi adanya praktik korupsi.
- Demonstran mengkritik kinerja Pansus DPRD yang dianggap tidak aktif mengusut masalah serta mendesak KPK melakukan investigasi.
Suara.com - Gelombang massa protes mendatangi Gedung DPRD DKI Jakarta pada Kamis (7/5/2026). Massa yang tergabung dalam Gerakan Aktivis Jakarta berkolaborasi dengan Persatuan AkSi rakyaT beranI (P.AS.T.I) Jakarta-Bekasi menuntut penghentian proyek Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan yang dinilai menjadi sumber bencana baru bagi warga.
Dalam aksinya, orator menyebut proyek pengolahan sampah tersebut tidak hanya merusak lingkungan dengan polusi udara, tetapi juga terindikasi kuat menjadi ladang korupsi.
"RDF Rorotan juga terindikasi ada bau-bau busuk atau terindikasi bau amis korupsi karena memang pengadaannya mulai dari feasibility study-nya atau perencanaannya sudah bobrok," teriak sang orator di depan Gedung DPRD DKI Jakarta, Kamis (7/6/2026).
Kritik Keras untuk Pansus DPRD
Massa juga menyoroti kinerja Panitia Khusus (Pansus) RDF Rorotan yang dibentuk oleh Komisi D DPRD DKI Jakarta.
Sejak dibentuk dua bulan lalu, Pansus dianggap tidak menunjukkan taringnya dalam mengusut karut-marut proyek tersebut.
"Yang kami bingung, yang kami sesalkan, dibentuknya panitia khusus oleh DPRD namun pansusnya seperti mati suri. Sudah hampir dua bulan tetapi pansus yang dibentuk DPRD tidak melakukan apa pun. Nothing. Kosong blong," tegas orator dalam orasinya.
Menurutnya, para wakil rakyat seharusnya menjadi penyambung lidah warga yang terdampak langsung secara kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan (ISPA) dan iritasi mata. Namun, hingga kini aspirasi tersebut dianggap menguap begitu saja.
"Artinya dewan-dewan yang merupakan perwakilan-perwakilan rakyat yang seharusnya menyambungkan aspirasi rakyat warga Jakarta dalam hal ini tidak melaksanakan tugasnya," lanjutnya.
Baca Juga: Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!
Poin-Poin Tuntutan Massa
Dalam aksi tersebut, terdapat enam poin tuntutan utama yang disampaikan kepada pemerintah dan aparat penegak hukum:
- Pengawasan Pansus: Mendesak Pansus melakukan pengawasan ketat atas dugaan korupsi dan salah kelola proyek RDF Rorotan.
- Hentikan Operasional: Menuntut penghentian sementara RDF Rorotan hingga ada jaminan keamanan lingkungan.
- Usut KPK: Meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turun tangan mengusut tuntas proyek tersebut.
- Copot Pejabat Terkait: Mendesak penangkapan Asep Kuswanto (mantan Kadis LH DKI) yang kini menjabat Asisten Deputi Gubernur, atas dugaan keterlibatan dalam kasus TPST Bantar Gebang.
- Pertanggungjawaban Nyawa: Menuntut investigasi menyeluruh atas kelalaian yang menyebabkan korban jiwa di Bantar Gebang.
- Reformasi Sistem: Mendesak penataan ulang sistem pengelolaan sampah berbasis lingkungan, bukan sekadar proyek anggaran. (Dinda Pramesti K)
Berita Terkait
-
Ironi Distribusi Air Jakarta: Apartemen Dimanjakan, Warga Kampung Pakai Pipa Usia Setengah Abad!
-
Bakar Sampah hingga Truk Besar Ganggu Warga, Kevin Wu PSI Sidak Pabrik Makanan di Kedoya
-
DPRD DKI: Jakarta Mimpi Jadi Kota Global Tapi Anak Putus Sekolah Masih Banyak
-
Omzet Rp3,5 M, Setoran Parkir Blok M Square ke Kas Jakarta Cuma Rp711 Juta, Ada Apa?
-
Kerja 36 Jam hingga Tidur di Lorong, Kasatpol PP DKI: 35 Anggota Saya Meninggal Dalam Setahun!
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Teruskan Perjuangan Kakak, Menkes Beri Beasiswa Pendidikan Dokter untuk Adik Mendiang Myta Aprilia
-
UHN dan CISDI Gandeng Harvard Medical School, Bangun Pusat Riset Kesehatan Primer di RI
-
Hanya Modal Gunting, Pemuda di Kalideres Gasak Honda Scoopy di Halaman Rumah
-
Eks Kasat Narkoba Polres Bima Digeladang ke Bareskrim, Terseret TPPU Koko Erwin
-
Sepakat Saling Memaafkan, Aksi Saling Lapor Waketum PSI Berujung Damai
-
Wamendagri Ribka Haluk Tekankan Penguatan Peran MRP dalam Penyusunan RPP Perubahan Kedua PP 54/2004
-
Bukan Sekadar Pameran E-Voting, Wamendagri Minta Fasilitas Simulasi Pemilu Jadi Pusat Kebijakan
-
Wajah Baru Jakarta Menuju 5 Abad: Koridor Rasuna Said Jadi Pusat Diplomasi dan Budaya
-
Wamen PANRB Tegaskan Era Digital Butuh Pemimpin Visioner, Bukan Sekadar Manajer
-
Momen Haru Eks Wamenaker Noel Peluk Cium Putrinya usai Sidang: Ini yang Buat Saya Semangat