News / Nasional
Sabtu, 09 Mei 2026 | 10:17 WIB
Menteri Luar Negeri Sugiono (foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
Baca 10 detik
  • Presiden Prabowo Subianto menghadiri KTT ke-48 ASEAN di Cebu, Filipina, pada 9 Mei 2026 untuk membahas respons kolektif kawasan.
  • Para pemimpin ASEAN sepakat memperkuat kerja sama regional di sektor pangan dan energi guna menghadapi dampak konflik geopolitik global.
  • Kesepakatan konkret seperti ASEAN Petroleum Security Agreement dan APTERR dicapai untuk menjamin ketahanan serta kedaulatan negara anggota ASEAN.

Suara.com - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menuntaskan rangkaian kunjungan kerja ke Filipina dalam rangka menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-48 ASEAN di Cebu.

Menteri Luar Negeri Sugiono menyampaikan isu utama yang mengemuka dalam berbagai sesi KTT adalah respons kolektif ASEAN terhadap dampak situasi geopolitik global, terutama konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi kehidupan negara-negara di kawasan.

“Intinya adalah pertama: respons bersama ASEAN dalam menyikapi situasi yang terjadi di Timur Tengah yang semua merasakan, memberikan efek langsung terhadap kehidupan negara-negara di kawasan. Khususnya di sektor-sektor ekonomi, terlebih lagi di ketersediaan pangan dan energi,” kata Sugiono dalam keterangan persnya kepada awak media, Sabtu (9/5/2026).

Menurut Sugiono, pemimpin-pemimpin ASEAN memiliki kesadaran yang sama bahwa kawasan Asia Tenggara harus semakin tangguh dalam menghadapi ketidakpastian global.

KTT ke-48 ASEAN di Cebu. (foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)

Oleh karena itu, penguatan kerja sama regional di sektor pangan dan energi menjadi salah satu fokus utama pembahasan dalam KTT ke-48 ASEAN.

“Ada satu kesadaran bersama yang tumbuh bahwa dengan situasi yang terjadi saat ini perlu suatu inisiatif bersama untuk menjadikan ASEAN ini sebagai suatu wilayah yang resilient, khususnya di bidang energi dan pangan,” lata Sugiono.

Sugiono menjelaskan bahwa agenda tersebut sejalan dengan prioritas pemerintah Indonesia. Sejak awal, Prabowo menempatkan ketahanan pangan dan ketahanan energi sebagai fondasi penting bagi kedaulatan dan ketahanan nasional. 

Pemerintah Indonesia pun terus mempercepat berbagai program strategis untuk mendukung tujuan tersebut.

“Dan saya kira ini juga sesuatu yang sudah menjadi sejak awal program dari pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo, dimana ketahanan energi dan ketahanan pangan merupakan hal yang paling mendasar yang harus dipenuhi oleh sebuah negara, yang harus dipenuhi oleh negara kita,” kata Sugiono.

Baca Juga: Perjanjian Ekonomi Digital ASEAN DEFA Rampung, Diteken November 2026

Sugiono menyampaikan bahwa dalam forum tersebut para pemimpin di Asia Tengga turut menyepakati sejumlah hasil konkret atau deliverables sebagai langkah memperkuat ketahanan kawasan.

Beberapa di antaranya ASEAN Petroleum Security Agreement serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) yang menjadi bagian penting dari kerja sama regional di sektor energi dan pangan.

Sugiono menegaskan dinamika global saat ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi di suatu kawasan dapat dengan cepat berdampak pada negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara.

“Karena kita sadari bersama sesuatu ataupun perang yang terjadi di sebuah kawasan yang jauh dari kita dengan cepat akan langsung berimbas pada perikehidupan masyarakat di kawasan kita. Dan inilah yang dirasakan oleh seluruh negara-negara ASEAN,” kata Menlu.

Load More