- Erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara pada Mei 2026 menelan korban jiwa akibat pendaki yang melanggar zona bahaya.
- Ahli kebencanaan menegaskan bahwa menerobos larangan pendakian demi konten media sosial merupakan tindakan fatal yang sangat membahayakan nyawa.
- Pelanggaran radius aman tidak hanya mengancam diri sendiri tetapi juga mempertaruhkan keselamatan tim SAR saat melakukan proses evakuasi.
Suara.com - Tragedi erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara yang menewaskan sejumlah pendaki menjadi tamparan keras bagi publik.
Di tengah maraknya tren pendakian demi adrenalin dan konten media sosial, ahli kebencanaan mengingatkan bahwa gunung api bukan ruang bermain yang bisa ditaklukkan sesuka hati.
Eks Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan alam tidak pernah berkompromi ketika bencana mulai terjadi.
“Alam tidak pernah memberikan negosiasi ketika ia mulai bicara. Di balik kemegahan puncaknya yang menembus awan, gunung api menyimpan kekuatan purba yang mampu melumatkan kehidupan dalam hitungan detik,” kata Daryono dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Menurutnya, tragedi di Gunung Dukono harus menjadi pengingat pahit bahwa radius bahaya yang ditetapkan otoritas bukan sekadar formalitas administratif, melainkan batas hidup dan mati.
“Tragedi di Gunung Dukono pada Mei 2026 menjadi nisan pengingat yang pahit bagi kita semua. Ketika warga negara asing dan pendaki lokal tercatat dalam sejarah kelam korban erupsi—kita dipaksa melihat kenyataan bahwa zona bahaya bukan sekadar garis di atas peta. Ia adalah batas antara napas dan binasa,” ujarnya.
Daryono menyoroti fenomena pendaki yang nekat menerobos zona merah demi mengejar kepuasan adrenalin atau membuat konten media sosial.
Menurutnya, tindakan tersebut merupakan bentuk kenekatan yang sangat fatal ketika gunung aktif mulai menunjukkan aktivitas vulkaniknya.
“Mengabaikan larangan pendakian demi konten media sosial atau kepuasan adrenalin adalah bentuk kenekatan yang paling fatal. Saat kolom abu membubung hingga 10.000 meter dan lava pijar mulai dimuntahkan, tidak ada teknologi atau keberanian yang sanggup menyelamatkan manusia dari aliran piroklastik yang bergerak lebih cepat dari teriakan minta tolong,” tegasnya.
Baca Juga: Sebar Propaganda Lewat Medsos, Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Jaringan JAD di Sulteng!
Untuk memperkuat peringatannya, Daryono mengungkit sederet tragedi erupsi besar di dunia dan Indonesia yang menelan ribuan korban jiwa. Mulai dari Gunung Pelée di Martinik, Nevado del Ruiz di Kolombia, hingga Merapi dan Marapi di Indonesia.
“Sejarah tragedi erupsi dari Gn. Pelée (1902: 29.000 orang tewas), Gunung Nevado del Ruiz (1985: 23.000 orang tewas), Gn. Ontake (2014: 50 orang tewas), Gn. Merapi (2010: 341 orang tewas), Gn. Marapi (2023): 23 orang tewas) telah mengajarkan bahwa gunung tidak butuh izin kita untuk meletus,” kata Daryono.
Ia juga mengkritik pendaki yang tetap masuk ke kawasan Gunung Dukono meski jalur resmi telah ditutup sejak April 2026.
Menurutnya, tindakan itu bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mempertaruhkan nyawa tim SAR dan relawan yang harus melakukan evakuasi di tengah ancaman erupsi susulan.
“Menembus jalur yang telah ditutup secara resmi sejak April 2026, bukan hanya membahayakan diri sendiri, tetapi juga mempertaruhkan nyawa tim SAR dan relawan yang harus bertaruh nyawa di bawah hujan abu dan ancaman erupsi susulan,” ujarnya.
Daryono menegaskan kepatuhan terhadap radius bahaya Gunung Dukono yang telah ditetapkan PVMBG menjadi satu-satunya perlindungan yang dimiliki manusia saat berhadapan dengan gunung api aktif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
AS Terbangkan Pesawat Charter Jemput Belasan Penumpang Kapal Pesiar Hantavirus
-
Perang Masih Panas, Donald Trump Urus Hantavirus: Semua Aman, AS Punya Orang Hebat
-
Bocah Perempuan Tewas Ditembak, TNI Buru OPM Pimpinan Guspi Waker di Tembagapura
-
AS Siapkan Karantina Militer di Nebraska Antisipasi Penularan Hantavirus Mematikan dari Kapal Pesiar
-
Putin Isyaratkan Akhir Perang Ukraina, Rusia Buka Dialog Keamanan Eropa
-
Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19
-
Update Kericuhan Lukas Enembe: 14 Orang Diperiksa, Polisi Data Puluhan Kendaraan yang Rusak
-
Momen Akrab Presiden Prabowo Dialog di Atas Perahu: Borong Keluhan Nelayan Gorontalo
-
Nelayan Tak Boleh Dilupakan, Prabowo Janjikan Perbaikan Kesejahteraan Nasional
-
Prabowo di Gorontalo: Indonesia Kuat, Tak Panik Hadapi Gejolak Dunia karena Swasembada Pangan