News / Internasional
Selasa, 12 Mei 2026 | 10:36 WIB
Seorang pastor sekaligus teolog asal Bethlehem, Mitri Raheb, memperingatkan komunitas Kristen Palestina berada di ambang krisis serius akibat konflik berkepanjangan dan pendudukan Israel di wilayah Palestina. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Pastor Mitri Raheb memperingatkan umat Kristen di Palestina terancam punah pada tahun 2050 akibat konflik berkepanjangan.
  • Pembatasan pergerakan, tekanan ekonomi, dan serangan militer Israel memaksa ribuan keluarga Kristen meninggalkan tanah kelahiran mereka.
  • Pemerintah Israel dituding menciptakan atmosfer intimidasi yang menghambat kebebasan beribadah serta merusak sektor pariwisata di Bethlehem.

Suara.com - Seorang pastor sekaligus teolog asal Bethlehem, Mitri Raheb, memperingatkan komunitas Kristen Palestina berada di ambang krisis serius akibat konflik berkepanjangan dan pendudukan Israel di wilayah Palestina.

Raheb menyebut pembatasan pergerakan, tekanan ekonomi, hingga meningkatnya serangan terhadap warga Kristen membuat banyak keluarga memilih meninggalkan tanah kelahiran mereka.

“Jika situasi ini terus berlanjut, saya percaya pada 2050 tidak akan ada lagi umat Kristen di Palestina,” kata Raheb dalam wawancara dengan Anadolu Agency di Bethlehem, Tepi Barat, Senin (11/5/2026).

Menurut Raheb, lebih dari 200 keluarga Kristen dari wilayah Bethlehem telah meninggalkan Palestina dalam dua tahun terakhir karena takut terhadap keselamatan keluarga mereka.

“Banyak yang takut untuk masa depan anak-anak mereka,” ujarnya.

Saat ini, Raheb memperkirakan hanya sekitar 45 ribu umat Kristen yang tersisa di Tepi Barat dan kurang dari 600 orang di Gaza.

Sementara sekitar 120 ribu warga Kristen Palestina tinggal di Israel.

Tentara Israel terpotret sedang menghancurkan patung Yesus Kristus yang sakral di Lebanon selatan. Foto ini dibagikan oleh jurnalis Palestina Younis Tirawi. [X/Younis Tirawi]

Raheb menilai situasi di Tepi Barat semakin sulit akibat banyaknya pos pemeriksaan militer dan penutupan jalan oleh Israel.

Di sekitar Bethlehem saja, menurutnya terdapat 54 pos pemeriksaan dan gerbang yang sewaktu-waktu dapat ditutup.

Baca Juga: Iran Kirim Proposal Baru ke AS: Tanda Mau Damai atau Strategi Baru?

“Dengan satu tombol mereka bisa menutup semuanya, dan kami menjadi tahanan di kota kami sendiri,” kata Raheb.

Ia juga mengaku tidak memiliki izin untuk pergi ke Yerusalem meski jaraknya hanya sekitar 10 kilometer dari Bethlehem.

Raheb menambahkan pembatasan tersebut berdampak besar terhadap aktivitas ibadah umat Kristen maupun Muslim, terutama saat Ramadan dan Pekan Suci.

Menurutnya, umat Kristen lokal bahkan sempat dilarang memasuki Gereja Makam Kudus di Yerusalem, sementara wisatawan asing tetap diperbolehkan.

Raheb juga menyoroti meningkatnya serangan terhadap gereja dan komunitas Kristen di Palestina.

Ia menuding pemerintah sayap kanan Israel menciptakan atmosfer yang mendorong aksi intimidasi terhadap warga Kristen.

Load More