- Akademisi FEB UGM Rijadh Djatu Winardi menyatakan rupiah melemah hingga Rp17.501 per dolar akibat tekanan global dan domestik.
- Pelemahan rupiah memicu inflasi impor yang meningkatkan biaya produksi perusahaan serta harga barang konsumsi di tingkat masyarakat.
- Tekanan kurs menambah beban subsidi energi dan utang luar negeri sehingga mempersempit fleksibilitas fiskal pemerintah dalam mengalokasikan anggaran.
Suara.com - Akademisi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Rijadh Djatu Winardi, menyoroti potensi dampak pelemahan rupiah terhadap perekonomian domestik.
Adapun nilai tukar rupiah saat ini telah menembus angka Rp17.501,65 per dolar AS.
Rijadh menilai pelemahan rupiah saat ini merupakan hasil akumulasi berbagai tekanan yang terjadi secara bersamaan atau disebut perfect storm.
Dari sisi global, ada ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi dunia yang mendorong lonjakan permintaan terhadap dolar AS. Sehingga investor cenderung menjadikannya sebagai aset aman utama.
Sementara itu, dari sisi ekonomi domestik, ia menyebut adanya faktor musiman dan struktural yang turut memperbesar tekanan terhadap rupiah, seperti periode pembayaran dividen kepada investor asing yang secara rutin meningkatkan kebutuhan valuta asing.
Belum lagi, meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap ruang fiskal yang semakin terbatas atau defisit yang kian mendekati batas turut mendorong naiknya persepsi risiko terhadap perekonomian domestik.
"Kombinasi dari sisi global dan sisi domestik inilah yang menurut saya membuat pelemahan rupiah terasa lebih tajam," kata Rijadh, dikutip Selasa (12/5/2026).
Mekanisme pelemahan nilai tukar rupiah dinilai memiliki dampak yang relatif langsung terhadap harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Rijadh menjelaskan bahwa dalam kajian ekonomi, fenomena tersebut dikenal sebagai inflasi impor. Tepatnya ketika pelemahan rupiah menyebabkan kenaikan biaya barang impor dalam denominasi rupiah.
Baca Juga: LPEM FEB UI: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen dari BPS Meragukan, Ada Data Tak Logis
Menurutnya, perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor akan menghadapi peningkatan biaya produksi. Meski masih memiliki stok lama, penyesuaian harga pada akhirnya sulit dihindari.
Kondisi itu umumnya akan mulai diteruskan kepada konsumen dalam rentang waktu satu hingga beberapa bulan setelahnya.
"Masyarakat akan mulai merasakan dampaknya dalam bentuk harga kebutuhan pokok yang meningkat, biaya transportasi yang naik, hingga harga produk kesehatan yang ikut terdampak," ujarnya.
Pelemahan nilai tukar rupiah dinilai memberi tekanan besar terhadap sejumlah pos dalam anggaran negara. Terutama pada belanja yang sensitif terhadap pergerakan kurs.
Disampaikan Rijadh, subsidi energi merupakan salah satu sektor yang paling terdampak. Mengingat ketergantungan pada komponen impor yang membuat beban subsidi meningkat saat rupiah melemah.
Selain itu, beban utang luar negeri turut menjadi faktor signifikan karena nilai pembayaran pokok dan bunga dalam rupiah ikut membengkak meskipun kewajiban dalam dolar tidak berubah.
Berita Terkait
-
LPEM FEB UI: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen dari BPS Meragukan, Ada Data Tak Logis
-
Bukan Sekadar Tren, ESG Kini Jadi 'Jantung' Strategi Bisnis BRI
-
Sisi Lain Perlintasan Liar: Ladang Ekonomi Warga Bantaran, Ada yang Raup Rp500 Ribu Sehari
-
Rupiah Anjlok ke Rp17.500, Puan Maharani Ingatkan Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!
-
Ferry Irwandi Bongkar Pertumbuhan Ekonomi 5,61%: Benarkah Cuma Angka di Atas Kertas?
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Transisi Energi Berwajah Hijau Disorot Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus
-
Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik
-
PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur
-
Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai
-
Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda
-
Rawat Alam di Tengah Aktivitas Industri, Kilang Plaju Konsisten Lestarikan Keanekaragaman Hayati
-
6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
-
Indonesia Dikelilingi Api: 107 Ribu Hektare Terbakar, Mengapa Karhutla Sulit Dipadamkan?