- Kecelakaan kereta api di Bekasi Timur pada 27 April 2026 memicu sorotan terhadap ribuan perlintasan sebidang liar nasional.
- Penjaga perlintasan liar menghadapi tekanan psikologis, risiko hukum, serta konflik fisik dengan pengendara tidak disiplin saat bertugas.
- Presiden Prabowo menginstruksikan penertiban perlintasan liar, sehingga warga meminta pemerintah menyediakan solusi jalan alternatif yang aksesibel dan manusiawi.
Suara.com - Pasca-kecelakaan maut yang melibatkan kereta api dan taksi listrik di perlintasan Bekasi Timur pada 27 April 2026 lalu, sorotan tajam kini tertuju pada ribuan perlintasan sebidang liar di seluruh Indonesia.
Di balik perdebatan soal penutupan akses, para penjaga perlintasan liar yang sering dianggap pahlawan sekaligus pelanggar aturan, kini dihantui ketakutan akan beban moral dan risiko hukum yang menyelimuti pekerjaan mereka.
Al (31), seorang mantan penjaga perlintasan liar di Jawa Barat, membeberkan betapa beratnya tekanan psikologis yang dihadapi saat bertugas. Meskipun bekerja tanpa status legalitas dari pemerintah maupun PT KAI, para penjaga ini memikul tanggung jawab penuh atas nyawa setiap pengendara yang melintas.
“Ya sempat sih (kepikiran hal terburuk), cuman kan namanya di situ juga kan kita jaga ga sendiri. Jadi kalaupun kitanya lagi kurang fokus itu ada orang-orang di situ,” seperti dikatakan Al saat podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip pada Selasa (12/5/2026).
Beradu Mulut dengan Pengendara Nekat
Ketakutan terbesar para penjaga rel bukanlah pada kereta yang melaju kencang, melainkan pada perilaku pengendara yang tidak disiplin. Al mengaku sering kali harus beradu mulut hingga “bersenggolan” fisik dengan pengendara yang tidak sabar dan nekat menerobos palang pintu.
“Sering kita sering tuh namanya kecet-kecet (beradu mulut) sama pengendara-pengendara yang ga sabar. Begitu kita udah tutup nih tapi dia masih ngobrol masih mau nyebrang gitu kita sering kecet-kecet (beradu mulut) sama orang kayak gitu,” ungkapnya.
Bahkan, saking nekatnya pengendara, palang bambu yang dipasang warga pun kerap menjadi korban.
“Ya palang pintu kereta juga sering ketabrak sampe patah lah gitu karena emang pengendaranya,” tambahnya.
Baca Juga: Saya Jaga Rel Sejak SMP, Kisah Anak Kampung yang Besar di Perlintasan Liar
Kekhawatiran ini kian memuncak karena posisi mereka yang rentan secara hukum. Sebagai penjaga liar, mereka tidak memiliki perlindungan hukum jika terjadi kecelakaan. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa jika terjadi masalah, merekalah yang akan menjadi pihak pertama yang disalahkan.
Antara Ladang Ekonomi dan Ancaman Penutupan
Menanggapi instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk menertibkan perlintasan sebidang liar pasca-tragedi Bekasi Timur, Al memiliki sudut pandang sebagai “orang lapangan”. Baginya, perlintasan ini bukan sekadar ladang mencari uang, tapi juga urat nadi mobilitas warga. Namun, ia tidak menampik bahwa faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Jika penutupan adalah satu-satunya jalan yang diambil pemerintah, Al meminta agar ada solusi yang manusiawi bagi masyarakat sekitar.
“Ya balik lagi ya maksudnya kalau emang harus ada penutupan gitu ya harus dikasih juga jalan alternatifnya jangan terlalu muter jauh,” harapnya.
Kisah Bang Al memberikan perspektif baru bahwa para penjaga rel liar berada di posisi yang sangat sulit. Mereka mengisi kekosongan peran negara dalam menjaga keselamatan di perlintasan sebidang, namun harus siap memikul konsekuensi pidana dan beban moral yang sangat berat tanpa jaminan kesejahteraan yang pasti.
Reporter: Tsabita Aulia
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar
-
Transisi Energi Berwajah Hijau Jadi Modus Baru Perampasan Ruang Hidup
-
Korupsi Tak Cukup Dibalas Tangkap: Kejar Uang, Jaringan, dan Penikmatnya
-
Senpi Dinas Diduga Dipakai Mantan Istri Bunuh Diri, Bripka Iman Harefa Resmi Masuk Patsus
-
Dua Biodigester Bakal Dibangun di Jakarta Utara, Dapat Hasilkan Energi dan Pupuk Organik
-
PTBA Perkuat Kemandirian Ekonomi Warga Lahat lewat Budidaya Ayam Petelur
-
Tak Mau Berpolitik Tanpa Data, Megawati Sebut Riset dan Sains Vital bagi Pergerakan Partai
-
Pinka Harprani Dilantik Megawati Pimpin Sayap Partai TMP, Bawa Misi Gaet Suara Anak Muda