- Penjaga perlintasan kereta liar di pinggiran kota menerapkan sistem organisasi profesional dengan jadwal kerja dan hierarki yang teratur.
- Anak-anak usia SMP mengikuti tradisi ngadal sebagai masa magang untuk belajar menjaga rel dari para senior secara turun-temurun.
- Sistem pembagian waktu dan penghasilan yang ketat antarwarga mampu mencegah konflik serta memberikan pendapatan ekonomi bagi para penjaganya.
Suara.com - Di balik semrawutnya perlintasan kereta api liar di pinggiran kota, ternyata terdapat sistem sosial yang berjalan sangat teratur.
Bukan sekadar berdiri menghalau kendaraan saat kereta melintas, para penjaga rel ilegal ini memiliki pola kerja layaknya organisasi profesional—lengkap dengan jadwal kerja, hierarki senior-junior, hingga sistem 'magang' yang dikenal dengan istilah ngadal.
Istilah tersebut menjadi pintu masuk bagi anak-anak usia SMP di kawasan bantaran rel untuk mengenal dunia penjaga perlintasan liar. Seorang mantan penjaga rel, Al (31), mengaku sudah terlibat dalam aktivitas itu sejak masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Ia menceritakan bahwa tradisi ngadal diwariskan secara turun-temurun di lingkungan sekitar rel kereta.
“Yang punya jadwal tertentu itu paling lima sampai enam orang. Misalnya hari ini siapa yang jaga, jadwalnya Senin sampai Selasa, nanti Rabu Kamis ganti orang lagi. Dan saya awalnya enggak langsung jaga dapat jadwal kayak gitu, awalnya ngadal. Istilahnya di situ ada istilah ngadal,” kata Al dalam podcast di Kantor Suara.com, Jakarta Barat.
Sistem Kerja 'Ngadal'
Dalam praktiknya, sistem ngadal memanfaatkan waktu istirahat para penjaga utama yang sudah memiliki jadwal tetap. Anak-anak yang berstatus junior atau 'magang' akan menggantikan sementara posisi tersebut untuk belajar sekaligus mendapatkan uang jajan.
Al menjelaskan pembagian waktunya berlangsung cukup terstruktur.
“Misalkan yang punya jadwal hari Senin nih, dia jaga dari jam setengah tujuh sampai jam setengah dua belas, nanti gantian sama yang ngadal. Yang ngadal itu ada lima orang, enam orang, nanti jam setengah satu yang punya jadwal balik lagi ke situ sampai jam setengah empat,” ujarnya.
Baca Juga: Palang Darurat Sudah Dipasang, KAI Ancam Tutup Perlintasan Bekasi Timur Jika Tak Dijaga
Meski hanya berstatus 'anak magang', para pengadal tetap datang setiap hari ke lokasi perlintasan. Bedanya, durasi kerja mereka lebih singkat dibandingkan penjaga senior.
“Yang ngadal tiap hari tuh, cuma jamnya lebih sedikit. Karena anak magang,” tambahnya.
Ada Etika Tak Tertulis: Dilarang Rebutan
Meski beroperasi di perlintasan liar, urusan giliran jaga dan pembagian penghasilan diatur cukup ketat demi menghindari konflik antarwarga.
Tidak ada istilah berebut lokasi karena seluruh jadwal sudah diatur dan disepakati oleh para senior maupun tokoh masyarakat setempat.
“Karena kan emang sudah ada orang tua-tuanya di situ, dan yang sudah punya jadwal juga di situ,” jelas Al.
Berita Terkait
Terpopuler
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 5 Bedak Lokal yang Awet untuk Kondangan, Tahan Hingga Belasan Jam
- Awal Keberuntungan Baru, 4 Shio Ini Akhirnya Bebas dari Masa Sulit pada 11 Mei 2026
- 6 Rekomendasi Sepeda 1 Jutaan Terbaru yang Cocok untuk Bapak-Bapak
- 5 Bedak Tabur Translucent Lokal yang Bikin Makeup Tampak Halus dan Tahan Lama
Pilihan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
Terkini
-
Rekam Jejak Kontroversial Sara Duterte: Dari Pukul Petugas hingga Ancam Pembunuhan Ferdinand Marcos
-
Sistem Biokontainment Amerika Serikat Siaga Penuh Antisipasi Ledakan Kasus Hantavirus
-
Puan Maharani Soal Larangan Nobar Film 'Pesta Babi', Minta DPR Panggil Pihak Terkait
-
SMAN 1 Pontianak Tuntut Klarifikasi LCC 4 Pilar MPR RI: Juri Diduga Tak Konsisten
-
Mencekam Hantavirus di Kapal MV Hondius, dari Pasien Kritis Sempat Didiagnosis Cuma Mengalami Stres
-
Minta Maaf ke Siswa SMAN 1 Pontianak, Hetifah Sjaifudian Perjuangkan Tanding Ulang LCC 4 Pilar
-
Datang ke RSCM, Oditur Militer Pulang Tanpa Bisa Temui Andrie Yunus
-
Usut Korupsi Outsourcing Pekalongan, KPK Cecar Ryan Savero Soal Aliran Uang ke Fadia Arafiq
-
Sering Jumat Berkah, Pemilik Kontrakan Ungkap Aktivitas Bidan di Sleman Usai 11 Bayi Dievakuasi
-
Wakil Presiden Dimakzulkan DPR! Perang Dinasti Politik Filipina Memanas Jelang Pemilu 2028