- Empat jurnalis Indonesia ditahan militer Israel setelah kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla diintersep di perairan internasional.
- Ikatan Wartawan Hukum mendesak pemerintah Indonesia melakukan langkah diplomatik segera guna memastikan keselamatan para jurnalis yang ditahan tersebut.
- Insiden penahanan ini dianggap mencederai prinsip kebebasan pers serta mengancam perlindungan wartawan yang bertugas meliput di wilayah konflik.
Suara.com - Ikatan Wartawan Hukum (Iwakum) mendesak pemerintah Indonesia segera memastikan keselamatan empat jurnalis RI yang dilaporkan ditahan Tentara Zionis Israel saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza.
Penahanan itu disebut mencederai prinsip kebebasan pers dan mengancam keselamatan wartawan di wilayah konflik.
Keempat jurnalis tersebut yakni Bambang Noroyono alias Abeng dan Thoudy Badai Rifan dari Republika, Rahendro Herubowo dari iNews, serta Andre Prasetyo dari Tempo.
Mereka tergabung bersama enam warga negara Indonesia lain dalam misi Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza.
Rombongan dilaporkan disergap angkatan laut Israel di perairan internasional sekitar 250 mil dari Gaza.
Setelah intersepsi terjadi, komunikasi dengan armada disebut sempat terputus dan para peserta misi kini dilaporkan dalam status ditahan.
Ketua Umum Iwakum, Irfan Kamil, menegaskan jurnalis yang bertugas di wilayah konflik seharusnya mendapatkan perlindungan sesuai prinsip hukum humaniter internasional.
Menurutnya, keselamatan wartawan tidak boleh dikorbankan dalam situasi politik maupun konflik bersenjata.
“Jurnalis hadir di lapangan untuk menjalankan fungsi publik, menyampaikan fakta dan informasi kepada masyarakat dunia. Karena itu, tindakan intersepsi dan penahanan terhadap wartawan yang sedang bertugas patut disesalkan,” kata Irfan Kamil dalam keterangan tertulis, Selasa (19/5/2026).
Baca Juga: Dikejar Sekoci Israel: Relawan Indonesia Ceritakan Situasi Mencekam di Laut Mediterania
Ia juga meminta adanya transparansi terkait kondisi para jurnalis Indonesia tersebut, termasuk akses komunikasi dan jaminan hak-hak mereka selama penahanan berlangsung.
“Di tengah konflik dan krisis kemanusiaan, justru kehadiran jurnalis menjadi sangat penting agar dunia mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi,” ujarnya.
Iwakum mendesak Kementerian Luar Negeri bergerak cepat melakukan langkah diplomatik demi memastikan keselamatan seluruh warga negara Indonesia yang berada dalam misi tersebut.
Organisasi itu juga meminta perlindungan maksimal diberikan kepada wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik di luar negeri.
Sekretaris Jenderal Iwakum, Ponco Sulaksono, mengatakan insiden tersebut harus menjadi perhatian serius komunitas pers nasional maupun internasional. Menurutnya, risiko tinggi di wilayah konflik tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi kerja jurnalistik.
“Keselamatan jurnalis harus menjadi prioritas dan dijamin oleh semua pihak. Dalam situasi konflik sekalipun, dunia membutuhkan informasi yang independen, akurat, dan dapat dipercaya,” kata Ponco.
Berita Terkait
-
Dikejar Sekoci Israel: Relawan Indonesia Ceritakan Situasi Mencekam di Laut Mediterania
-
WNI Disandera Tentara Israel, Din Syamsuddin Desak Presiden Prabowo Bicara di Forum BoP!
-
Anwar Ibrahim Tuntut Pembebasan Aktivis GSF dan Jurnalis Indonesia yang Ditangkap Militer Israel
-
Kapal Bantuan Gaza Dikepung Militer Israel di Mediterania: 9 WNI Terancam, 1 Terdeteksi Diintersep!
-
Penyerangan Tentara Israel ke Global Flotilla dan Jurnalis Indonesia Dianggap Pelanggaran Hukum Laut
Terpopuler
- Feng Shui Warna Cat Rumah Pembawa Keberuntungan Berdasarkan Shio
- Debitur Dikejar Utang, Yasonna Laoly Minta PPATK Telusuri Sumber Dana Pinjol
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- 5 Rice Cooker Murah untuk Keluarga Kecil, Hemat Listrik dan Awet
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
Pilihan
-
Pernyataan Prabowo Soal Gaji Pengupas Bawang Dipertanyakan, Keluarga Susanah: Itu Salah
-
Prabowo Sebut Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu per Kg, Emak-emak Bogor Tertawa: Sini Cuma Rp1.200
-
Prabowo Salah! Upah Susanah Bukan Rp 700 Ribu Tapi Rp 700 Perak per Kilogram
-
Gempa 6,4M Guncang Sumatera Utara sampai Sumbar
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
Terkini
-
Semarak 'Ngahias Lembur' di Cibadak: Ketika Seni Sunda, Kekompakan Warga dan Rasa Haru Menyatu
-
Upacara 17 Agustus di Belitung Digelar Tanpa Tenda, Pejabat dan Warga Kepanasan Bersama
-
Semarak Kemerdekaan, Warna Merah Putih Hadir di Ruang Publik dan Kampung Nelayan
-
Viral Siswa SMKN 2 Palembang Dikeroyok, Benarkah Dipicu Tawuran Antarpelajar?
-
10.910 Warga Binaan di Sumsel Terima Remisi HUT RI, Ratusan Langsung Bebas
-
Turnamen Dikemas Lebih Berbeda, Ratusan Pemain Bakal Adu Kekuatan Tenis Meja
-
Gempa Flores Disusul Dua Gempa Besar di Sumatra dan Sulawesi, Benarkah Gempa Menjalar?
-
175 Perahu Bakal Ramaikan Festival Pacu Jalur 2026 Kuansing, Berikut Daftarnya
-
Merdeka dari Penjajah, Tapi Belum Merdeka dari Amarah: Mengapa Masyarakat Masih Suka Menghakimi?
-
Sebanyak 86 Persen BTS yang Rusak Akibat Gempa Flores Sudah Beroperasi Lagi