-
Iran mendirikan otoritas baru untuk mengendalikan pelayaran komersial di jalur Selat Hormuz.
-
Kebijakan tarif khusus diterapkan Iran bagi kapal asing yang melintasi Selat Hormuz.
-
Donald Trump menunda serangan militer ke Iran setelah menerima desakan negara-negara Arab.
Suara.com - Langkah sepihak diambil Iran dengan mendirikan badan khusus yang memegang kendali penuh atas operasional Selat Hormuz. Kebijakan ini menjadi strategi baru Iran dalam menghadapi tekanan ekonomi dan militer dari blok Barat.
Sistem navigasi di koridor strategis tersebut kini resmi mengalami perombakan total demi efisiensi sepihak. Pemerintah setempat memastikan bahwa skema baru ini akan langsung berdampak pada seluruh arus pelayaran internasional.
Pihak Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran pada Senin (18/5) menyatakan mereka akan memberikan "informasi terkini mengenai operasi di Selat Hormuz dan perkembangan terbaru" lewat platform X. Publik masih menunggu rincian resmi mengenai struktur birokrasi dari badan pembuat keputusan tersebut.
Ketua Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Parlemen Iran Ebrahim Azizi mengatakan negaranya telah menyiapkan mekanisme pengaturan lalu lintas maritim melalui jalur tertentu di Selat Hormuz. Koridor perdagangan ini dipastikan tidak lagi gratis bagi armada laut asing yang melintas.
Politikus senior tersebut menambahkan bahwa Iran akan mengenakan biaya untuk "layanan khusus" yang diberikan melalui mekanisme tersebut. Ketentuan finansial ini diprediksi akan mengubah peta biaya logistik minyak mentah global secara signifikan.
"Dalam proses ini, hanya kapal komersial dan pihak yang bekerja sama dengan Iran yang akan memperoleh manfaat," tulis Azizi di X, dikutip dari Anadolu.
Sanksi wilayah perairan ini diyakini menjadi jawaban atas blokade ekonomi yang terus menekan Teheran. Skema penarikan retribusi tersebut juga dinilai sebagai alat posisi tawar politik yang sangat kuat.
Di sisi lain, Washington merespons dinamika ini dengan menahan opsi konfrontasi senjata terbuka di kawasan. Gedung Putih memilih jalur diplomasi sementara waktu guna meredam gejolak harga komoditas energi.
Presiden AS Donald Trump berharap penghentian sementara serangan terhadap Iran yang diumumkannya bisa menjadi langkah menuju perdamaian yang langgeng. Pernyataan tersebut mencerminkan adanya pelonggaran tensi militer demi keselamatan jalur pasokan minyak.
Baca Juga: Lebih Sibuk dari Hormuz, Selat Malaka Jadi Ancaman 'Bom Waktu' Ekonomi Global
"Saya menundanya sementara, mudah-mudahan untuk selamanya, tetapi mungkin hanya sementara, karena kami melakukan pembicaraan penting dengan Iran," kata Trump kepada wartawan, Senin (18/5). Hubungan bilateral kedua negara kini berada dalam fase krusial yang menentukan stabilitas geopolitik.
Optimisme tinggi kini membayangi prospek tercapainya kesepakatan damai komprehensif antara kedua belah pihak. Narasi perdamaian terus dihembuskan oleh para diplomat dari berbagai negara sekutu di kawasan.
Trump juga mengeklaim kesepakatan dengan Iran sudah dekat. Menurut dia, negara-negara Timur Tengah yang memintanya menunda serangan terhadap Iran juga meyakini bahwa kesepakatan akan segera tercapai.
Intervensi diplomatik dari negara tetangga terbukti efektif menahan laju serangan udara yang hampir terjadi. Kekuatan regional Timur Tengah tampaknya tidak ingin wilayah mereka menjadi medan pertempuran terbuka.
Sebelumnya, Trump mengatakan telah membatalkan serangan militer terhadap Iran yang dijadwal pada 19 Mei setelah adanya permintaan dari Qatar, Saudi Arabia, dan Uni Emirat Arab (UEA). Penundaan taktis ini membuka ruang negosiasi yang jauh lebih longgar bagi Teheran.
"Saya diminta oleh Arab Saudi, Qatar, UEA, dan beberapa negara lain untuk menundanya selama dua atau tiga hari karena mereka berpikir kesepakatan hampir tercapai," katanya. Pernyataan tersebut mempertegas peran penting koalisi Arab dalam meredam konflik destruktif.
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Apa Itu IKD dan Kenapa Wajib Memilikinya?
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- HP RAM 16 GB Berapa Harganya? Ini 5 Pilihan Termurah dengan Performa Ngebut
- 5 Sunscreen Brand Jepang untuk Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harga
Pilihan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
-
Bundaran HI Dijaga Ketat, Solidaritas Warga Mengalir: Ini Titik Logistik untuk Pendemo
-
Jelang Demo Mahasiswa, Bundaran HI Dijaga Ketat: Kendaraan Taktis Siaga, Lalin Masih Normal
Terkini
-
DPR-Pemerintah Sepakati Nasib Guru PPPK, Peluang PNS dan Status Full Time Terbuka 2027
-
Nekat Kabur Ketika Hendak Dibawa ke Rutan, Begini Nasib Tahanan Pencurian di PN Serang
-
Jamuan Rakyat Hilangkan Sekat Pemerintah dan Masyarakat
-
Hierarki dalam Selera Buku: Mengapa Bacaan Ringan Kerap Dipandang Rendah?
-
5 Cara Menyimpan Sepatu agar Tidak Berjamur, Bebas Bau Apek
-
Beda dari yang Lain! 5 Spot Unik di Pontianak Siap Bikin Anda Takjub
-
DPR Dorong Finalisasi Perpres Ojol Akhir Agustus Ini, Perkuat Perlindungan Pengojek dan Kurir
-
Gempa M 7,7 Guncang Flores, Dedie A. Rachim Inventarisir Sekolah dan Tempat Ibadah Terdampak
-
Pegang Pantat Mahasiswi, Karyawan Hotel Ini Dicokok Warga
-
FIFA Ikut Bersuara, PSSI Minta Suporter Setop Serang Pemain dan Keluarga