News / Nasional
Selasa, 19 Mei 2026 | 14:19 WIB
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. (bidik layar)
Baca 10 detik
  • Menteri Pertahanan menargetkan penguatan pertahanan di Pulau Jawa melalui penempatan satu Batalyon Infanteri Teritorial pada tahun 2026.
  • Kehadiran batalyon militer di tingkat kabupaten terbukti mampu menurunkan angka kriminalitas jalanan secara signifikan lebih dari 50 persen.
  • Penempatan batalyon meningkatkan ekonomi lokal melalui perputaran uang prajurit serta menyediakan fasilitas donor darah gratis bagi masyarakat.

Suara.com - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menargetkan penguatan pertahanan wilayah di tingkat kabupaten akan tuntas di Pulau Jawa pada tahun 2026.

Hal ini diwujudkan melalui penempatan satu Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan di setiap kabupaten.

Hal tersebut disampaikan Sjafrie dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Senayan, Jakarta, pada Selasa (19/5/2026).

Ia menjelaskan, bahwa langkah ini merupakan bagian dari target pemenuhan personel di seluruh Indonesia.

“Kita targetkan setiap tahun 150 batalyon untuk memenuhi 514 Kabupaten. Inshaallah di tahun 2026 seluruh kabupaten di wilayah Jawa sudah dikawal oleh satu batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan," kata Sjafrie.

Sjafrie mengungkapkan, bahwa kehadiran batalyon ini membawa dampak signifikan terhadap keamanan masyarakat.

Berdasarkan data yang dimilikinya, keberadaan markas militer di tingkat kabupaten mampu menekan angka kriminalitas jalanan seperti begal hingga lebih dari 50 persen.

“Tapi setelah kita berada di situ, membuat pangkalan, dan pangkalan itu sudah jadi, dengan latihan, kemampuan dan sebagainya. Ini begal kriminal di situ yang tadinya minus sekian persen, sekarang menjadi plus sekian persen kriminalnya hilang, sudah di atas 50%," ujarnya.

Selain aspek keamanan, Menhan juga menyoroti dampak positif terhadap ekonomi lokal.

Baca Juga: Menhan Sjafrie: Misi Kemanusiaan Gaza Tertunda Akibat Konflik AS - Iran

Dengan gaji prajurit yang mencapai Rp6 juta per bulan, perputaran uang di desa atau kecamatan tempat batalyon berada diperkirakan mencapai miliaran rupiah setiap bulannya. Hal ini memicu pertumbuhan sektor Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Contoh gaji yang paling kecil untuk seorang prajurit itu Rp6 juta satu orang. Kalau dia seribu orang dalam satu batalyon dan dia belanjakan Rp1 juta setiap bulan, berarti dia Rp1 miliar di desa dan di kecamatan tempat mereka. Itu menimbulkan UKM," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut sudah mulai terlihat nyata di lapangan dengan banyaknya usaha rakyat yang muncul di sekitar pangkalan.

“Saya lihat setiap saya datang ke batalyon-batalyon, banyak sekali bangunan apa namanya cafe-cafe, warung-warung yang muncul. Berarti UKM ini meningkat. Ini. Dan ini yang kita tingkatkan. Itu baru Rp1 juta. Memang Komandan Batalyonnya keras, tidak boleh lebih dari Rp2 juta setiap bulan. Jadi kalau Rp2 juta ya berarti Rp2 miliar di kampung ataupun di kecamatan itu. Itu dampaknya di ekonomi," sambungnya.

Tak hanya keamanan dan ekonomi, Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan juga berperan dalam sektor kesehatan masyarakat.

Salah satunya melalui program bank darah dari para prajurit yang rutin melakukan donor darah untuk membantu warga yang membutuhkan, terutama kelompok masyarakat kurang mampu.

Load More