Suara.com - Pengantar
Tidak semua kabupaten/kota di Jawa Barat ikut dalam kirab budaya, atau tidak diikutkan, sehingga masyarakat ada yang protes, misalnya Masyarakat Adat Kabupaten Garut.
Oleh karena itu, saya, selaku Ketua Tim Peneliti Hari Jadi Tatar Sunda, merasa perlu menyampaikan informasi tentang kerajaan-kerajaan yang ada di Tatar Sunda, yang umumnya memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Sunda. Seperti diketahui bahwa kirab budaya kali ini, memamerkan Mahkota Binokasih Sanghyang Pake, mahkota penobatan Raja-raja Sunda, yang dibuat di Kerajaan Galuh, dan sekarangdisimpan di Museum Prabu Geusan Ulun, di Sumedang.
Periode Pra Tarumanegara
Yang dimaksud dengan Tatar Sunda adalah wilayah yang terbentang dari Ujung Barat Pulau Jawa, yang sekarang dikenal sebagai Provinsi Banten, diikuti wilayah yang sekarang disebut Daerah Khusus Ibukota Jakarta, hingga sebagian wilayah yang sekarang disebut Provinsi Jawa Tengah dari Pantai utara Brebes hingga ke Pantai Selatan Cilacap.
Kerajaan apa saja yang pernah ada di Tatar Sunda ini?
Sebuah berita Cina yang berasal dari tahun 132 menyebutkan bahwa Raja Pien dari kerajaanYe-tiao meminjamkan meterai mas dan pita ungu kerajaannya kepada Maharaja Tiao-pien. Menurut G. Ferrand, seorang ahli sejarah Perancis, Ye-Tiao adalah nama yang diberikan oleh orang Cina untuk menyebut Yawadwipa, sedangkan Tiao-pien adalah lafal Cina dari nama Sansekerta Dewawarman (Krom, 1931: 61-62).
Dalam Naskah Wangsakerta diberitakan danya Dinasti Dewawarman lengkap dengan masa pemerintahannya di Kerajaan Salakanagara sejak awal abad Masehi, secara historis sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Namun, berdasarkan prinsip yang dikemukakan Gilbert Garraghan (1956), disebutkan bahwa dalam ketiadaan sumber, maka sumber sekunder seperti ini dapat dipakai, meskipun dianggap sebagai pembuktian yang sangat lemah, hingga ditemukan bukti yang baru.
Kerajaan Tarumanagara
Pusat kekuasaan pertama di Tatar Sunda, yang memiliki bukti-bukti berupa sumber primer berupa prasasti tentang eksistensinya, dan juga termasuk yang awal di Nusantara, adalah Kerajaan Tarumanagara. Hingga sekarang, Raja Tarumanagara yang terkenal dan yang dikenal adalah Purnawarman. Sumber tertulis yang memberitakan tentang Tarumanagara adalah berita Cina, masing-masing berasal dari Fa-hsien tahun 414, Dinasti Soui dan T’ang, serta tujuh buah prasasti batu.
Pada tahun 414, seorang Cina yang menjadi biksu kembali dari ziarah ke India. Perahu yang ditumpanginya diterjang badai sehingga terdampar di suatu tempat bernama Ye-po-ti. Menurut pendeta yang bernama Fa-hsien itu, di Ye-po-ti hanya sedikit ditemukan orang beragama Budha. Mereka umumnya beragama Brahmana, dan lebih banyak yang beragama “kotor”.
Selanjutnya berita dari Dinasti Soui antara lain menyebutkan bahwa pada tahun 528 dan tahun 535, datang utusan dari T’o-lo-mo yang terletak di sebelah selatan. Sementara itu, sumber dari masa Dinasti T’ang juga menyebutkan bahwa pada tahun 666 dan tahun 669 datang utusan dari T’o-lo-mo (Moens, 1937: 363).
Baca Juga: Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Bakal Ramaikan Kota Bandung
Rupanya dapat dipastikan bahwa T’o-lo-mo adalah nama tempat di daerah Tatar Sunda. Karena dari abad kelima itu ditemukan sejumlah tinggalan purbakala yang berkenaan dengan Tarumanagara, tidak salah jika sebutan T’o-lo-mo disesuaikan dengan Taruma(nagara) (Poerbatjaraka, 1951: 28).
Sumber lain berupa prasasti yang ditemukan di daerah yang berjauhan, dari dusun Batu Tumbuh di Jakarta Utara (sebuah), melalui daerah Ciampea, Bogor (lima buah), dan ke Cidanghiang di daerah Pandeglang, Banten (sebuah). Ketujuh buah prasasti itu adalah Prasasti Ciaruteun (Ciampea, Bogor) terletak di pinggir Sungai Ciaruteun dekat muara Cisadane; Prasasti Kebon kopi terletak di Dusun Muara Hilir, Cibungbulang; Prasasti Pasir Koleangkak terletak di daerah perkebunan karet Jambu (Kecamatan Nanggung Bogor); Prasasti Tugu yang ditemukan di Dusun Batu Tumbuh, Jakarta Utara (Krom, 1915: 19). Prasasti Cidanghiang atau Lebak ditemukan di Dusun Lebak (Kecamatan Munjul, Pandeglang); Prasasti Muara Cianten; dan Prasasti Pasir Awi (Krom, 1931: 28, 32).
Jika melihat wilayah persebaran prasasti, dapat diperkirakan bahwa pengaruh kekuasaan Kerajaan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman, setidak-tidaknya mencakup sebagian wilayah Tatar Sunda mulai dari Kabupaten Pandeglang, Cisadane-Tanggerang di bagian barat, Kabupaten Bogor di bagian selatan, dan daerah Jakarta di bagian utara, daerah Bekasi dan Karawang di bagian timur (Soeroso, 2002: 1) Pusat kerajaan atau istana Tarumanagara, hingga sekarang belum diketahui dengan pasti.
Poerbatjaraka menempatkan Kerajaan Tarumanagara itu di antara daerah-daerah yang dialiri Sungai Citarum, dan tanah di sebelah timur Cisadane yaitu Karawang, Bogor, dan Jakarta. Bahkan dengan menguraikan kata “Chandrabhaga” yang terdiri dari dua kata masing-masing “chandra” dan “bhaga”, akhirnya dipastikan bahwa pusat kerajaan itu tidak jauh dari Sungai Bekasi (Poerbatjaraka, 1951: 12-15).
Di sisi lain, Verstappen dan Noorduyn menyatakan bahwa dilihat dari segi morfologi maka Lagoa (sekarang kecamatan Lagoa, Jakarta Utara), tempat ditemukannya prasasti Tugu lebih memenuhi syarat sebagai lokasi ibu kota Tarumanagara (Verstappen, 1928: 228-307).
Kerajaan Sunda
Pada prasasti Kebonkopi II, tertulis kalimat "barpulihkan haji sunda", yang terjemahan lainnya adalah: "pengembalian kekuasaan kepada Raja Sunda".
Berita Terkait
-
Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda Bakal Ramaikan Kota Bandung
-
Renovasi Stadion Pakansari Dikebut Jelang Piala AFF 2026
-
Modest Fashion Naik Kelas: Arabellescarf Bawa Kemewahan Kerajaan India ke Runway Jakarta
-
Ulasan Perfect Crown: Drama Kerajaan Modern Ringan tapi Bikin Emosional
-
Provinsi Jawa Barat Diisukan Mau Ganti Nama, Apa Arti Tatar Sunda?
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Uni Eropa dan AS Capai Kesepakatan Sementara Aturan Tarif Datang
-
Dasco Sebut Pujian Prabowo untuk Megawati dan PDIP Keluar dari Lubuk Hati yang Paling Dalam
-
Militer Myanmar Klaim Rebut Kembali Kota Perbatasan Strategis Dekat Thailand
-
Horor Live Streaming Penembakan Masjid San Diego, Pelaku Diduga Saling Tembak di Dalam BMW
-
Kisah Kegagalan Netanyahu Jadikan Mahmoud Ahmadinejad Penguasa Iran
-
Pemkot Tangsel Matangkan Sistem SPMB 2026, Daftar Anak Sekolah Lebih Mudah dan Transparan
-
China dan Rusia Buka Rute Dagang Baru Lewat Kutub Utara, Apa Efeknya di Selat Malaka dan Indonesia?
-
Ketum PRIMA Nilai Pidato Presiden Tegaskan Arah Baru Pembangunan Nasional Berbasis Ekonomi Pancasila
-
TAUD Minta Hakim Praperadilan Nyatakan Pelimpahan Kasus Andrie Yunus ke POM TNI Tak Sah!
-
Prabowo Persilakan DPR hingga Kepala Daerah Cek Dapur MBG: Temuan Penyimpangan Langsung Ditindak