- PSAD UII mengkritik pemerintahan Prabowo-Gibran pada 21 Mei 2026 karena dianggap melenceng dari enam agenda reformasi 1998.
- Pemerintah dinilai gagal memperbaiki sektor politik, HAM, dan hukum, serta menunjukkan indikasi kemunduran menuju pola otoritarian.
- Kinerja ekonomi yang buruk ditandai pelemahan nilai tukar rupiah, memicu kekhawatiran krisis nasional dan ketidakstabilan sosial-politik.
Suara.com - Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Islam Indonesia (PSAD UII) mengeluarkan kritik tajam tepat pada peringatan 28 tahun reformasi, 21 Mei 2026.
Kritik itu menyoroti kepemimpinan nasional di bawah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang kian melenceng dari enam agenda reformasi 1998 silam.
Kepala Pusat Studi Agama dan Demokrasi Universitas Islam Indonesia (PSAD UII) Masduki menuturkan kondisi politik, hukum, hak asasi manusia (HAM), hingga sektor ekonomi saat ini dinilai tidak menunjukkan perbaikan.
Sebaliknya, negara dianggap tengah mengalami kemunduran serius dan kembali ke pola kepemimpinan masa lalu.
"Memasuki usia reformasi ke-28 tahun, perkembangan situasi politik, ekonomi, HAM, dan hukum di Indonesia menunjukkan indikasi regresi, stagnasi, bahkan menjauh dari enam agenda reformasi," kata Masduki dalam keterangannya, Kamis (21/5/2026).
Ia mengaku khawatir terhadap situasi demokrasi di tanah air yang kini dirasa semakin menjauh dari cita-cita awal perjuangan rakyat.
"Kami melihat bahwa peristiwa reformasi 1998 dan amanat yang muncul dalam momentum politik ini telah menjadi mitos," ujarnya.
Selain persoalan mundurnya iklim demokrasi, sorotan tajam turut diarahkan pada jebloknya performa ekonomi nasional.
Pemerintah dianggap tidak memiliki langkah yang konkret dan terukur untuk mengatasi kemerosotan nilai tukar mata uang yang kian mengkhawatirkan.
Baca Juga: Dukung Prabowo Sikat Oknum 'Coklat' dan 'Hijau' Beking Kejahatan, Sahroni: Pecat dan Pidana!
Dampak dari lemahnya tata kelola ekonomi ini disebut mulai memicu kecemasan baru terkait kestabilan kondisi sosial dan politik di tingkat nasional.
"Terkini, penurunan nilai tukar rupiah hingga mencapai angka yang tak pernah terjadi sebelumnya (hampir menembus Rp18 ribu per dollar AS) menunjukkan kinerja buruk sektor ekonomi, berpotensi memicu krisis ekonomi dan stabilitas politik nasional," tegasnya.
Lebih luas, PSAD UII menyoroti kembali menguatnya pengaruh militer dalam ranah sipil melalui sejumlah regulasi dan keterlibatan institusi pertahanan dalam program kemasyarakatan.
Langkah ini dinilai kontraproduktif dengan semangat menghapus peran politik-birokrasi militer yang diperjuangkan pada tahun 1998 silam.
Tidak hanya itu, pemusatan kekuasaan di tingkat eksekutif dan intervensi terhadap kebebasan berekspresi lewat penangkapan aktivis turut memperpanjang daftar kemunduran ini.
"Kami melihat rezim Prabowo Subianto telah terindikasi kuat membawa Indonesia kembali ke era Orde baru yang berpola populis-otoritarian," ujarnya.
Berita Terkait
-
Dukung Prabowo Sikat Oknum 'Coklat' dan 'Hijau' Beking Kejahatan, Sahroni: Pecat dan Pidana!
-
Pidato di DPR RI, Presiden Prabowo Sebut Rakyat Tak Bermimpi Hidup Kaya
-
Rangkuman Lengkap Pidato Prabowo di Rapat Paripurna DPR RI 20 Mei 2026
-
Strategi Prabowo Wujudkan Kedaulatan Pangan
-
Dari Tragedi 98 hingga Isu Papua, Mahasiswa UI Suarakan Kekecewaan Lewat Aksi #Reformati
Terpopuler
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- 4 Perbedaan Rice Cooker Keramik vs Stainless Steel untuk Memasak Nasi, Mana yang Lebih Sehat?
- 3 Sepatu Jalan untuk Lansia Paling Nyaman, Hands Free Tak Perlu Membungkuk
- Spanduk Polwan saat Adang Aksi BEMI UI Kena Rujak Netizen: Bu Polwan Salah Bawa Spanduk?
- Kulkas Sharp 2 Pintu Berapa Harganya? Ini 3 Pilihan yang Dingin dan Hemat Listrik Sesuai Review
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Kronologi Begal Kertapati: 2 Pelaku Bawa Parang, Kejar Korban hingga Berujung Maut
-
Sering Dianggap Cuma Kelelahan, Katup Jantung Bocor Bisa Ditangani Tanpa Operasi Terbuka
-
Korupsi KUR BSI Rp9,5 Miliar di OKI, Uang Pengganti 3 Terdakwa Tembus Rp9 Miliar
-
Buaya Muara 3 Meter Mendadak Muncul di Pantai Pasir Putih Cihara
-
Tenis Meja Indonesia Bidik 8 Besar di Asian Games 2026
-
Gempa NTT, PDIP Kirim Bantuan Khusus untuk Ibu Hamil dan Anak
-
Diisukan Ada OTT KPK, Begini Kondisi Kompleks Pemkab Bogor Malam Ini
-
Yasonna Laoly Dukung Kewarganegaraan Ganda Terbatas Usulan Prabowo: Demi Kepentingan Nasional
-
Purbaya: Pembatasan Subsidi BBM Hemat Anggaran 10 Persen
-
Sudah Beroperasi Tanpa Tarif, Tol Betung-Tempino-Jambi Seksi Bayung Lencir-Pijoan Segera Bertarif