- Warga Nagari Anduriang masih menggunakan rakit untuk menyeberang sungai karena jembatan utama rusak akibat bencana enam bulan lalu.
- Tokoh agama menekankan bahwa bencana ekologis bukan sekadar takdir, melainkan konsekuensi atas kerusakan lingkungan oleh aktivitas manusia.
- Organisasi lintas agama berkolaborasi menerjemahkan isu krisis iklim menggunakan pendekatan nilai spiritual dan budaya agar mudah dipahami masyarakat.
Suara.com - Enam bulan setelah bencana yang melanda Sumatera pada November 2025, warga Nagari Anduriang, Kecamatan Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, masih bergantung pada rakit untuk menyeberangi Sungai Batang Anai.
Jembatan yang sebelumnya menjadi akses utama warga terputus akibat bencana dan hingga kini belum dapat digunakan kembali. Sebagai pengganti, warga memanfaatkan rakit sederhana yang dibuat dari kayu dan drum bekas untuk menghubungkan dua sisi sungai.
Setiap hari, rakit tersebut digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelajar yang berangkat sekolah hingga warga yang hendak bekerja atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Enam bulan lalu, banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat meninggalkan luka yang belum sepenuhnya pulih. Ribuan rumah rusak, infrastruktur terputus, dan banyak warga kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 27 Mei 2026 mencatat sedikitnya 1.207 orang meninggal dunia dan 137 lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana tersebut berdampak pada 54 kabupaten dan kota di tiga provinsi.
Jejak kerusakan masih terlihat jelas di sejumlah daerah. BNPB mencatat 31.643 rumah mengalami rusak berat, 43.741 rumah rusak sedang, dan 95.186 rumah rusak ringan. Secara keseluruhan, sebanyak 183.751 rumah tercatat rusak atau harus direlokasi karena berada di kawasan rawan bencana.
Namun di tengah situasi tersebut, tidak sedikit narasi yang masih menganggap bencana semata sebagai takdir. Survei Pew Research 2025 tentang sikap terhadap iklim menunjukkan 38 persen responden cenderung mengaitkan fenomena cuaca ekstrem dengan kehendak ilahi dibanding aktivitas manusia seperti eksploitasi alam dan perusakan lingkungan.
Padahal, pada saat yang sama, tekanan terhadap alam justru terus meningkat. Data terbaru Auriga Nusantara dalam laporan Status Deforestasi Indonesia 2025 (STADI 2025) mencatat luas hutan yang hilang mencapai 433.751 hektare sepanjang 2025. Angka tersebut melonjak 66 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka 261.575 hektare, sekaligus menjadi kenaikan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah meningkatnya krisis ekologis itu, pertanyaan tentang relasi manusia dengan alam kembali mengemuka: apakah bencana hanya akan terus dipandang sebagai takdir, atau mulai dilihat sebagai konsekuensi dari cara manusia memperlakukan bumi?
Baca Juga: Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?
Ketika Krisis Ekologis Dipisahkan dari Nilai Keagamaan
Pengurus Pesantren Ekologi Misykatul Anwar, Siti Barokah, melihat masih ada cara pandang di masyarakat yang memisahkan urusan agama dari persoalan duniawi, termasuk soal lingkungan. Akibatnya, menjaga alam belum sepenuhnya dipahami sebagai bagian dari praktik keagamaan.
“Jadi hal-hal yang sifatnya duniawi itu sering kali tidak dijadikan bagian dari implementasi agama,” ujar Siti.
Menurutnya, pemahaman mengenai takdir juga kerap disederhanakan. Dalam Islam, kata dia, terdapat takdir yang memang tidak dapat diubah, tetapi ada pula yang berkaitan dengan ikhtiar dan perilaku manusia. Karena itu, ia menilai penting untuk membedakan antara bencana alam dan bencana ekologis.
“Kalau bencana ekologis, itu ada campur tangan manusia di dalamnya,” katanya.
Siti mencontohkan banjir bandang yang semakin sering terjadi di sejumlah daerah. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari deforestasi, alih fungsi lahan, hingga berkurangnya kawasan resapan air akibat pembangunan yang tidak terkendali.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Sok Jagoan di Tol JORR! Pengemudi Ngamuk Pukul Spion Pakai Besi, Polisi Buru Pelaku
-
Duduk Perkara Duel Maut Selebgram Brunei di Blok M: Cuma Gara-gara Ditegur, Nyawa Melayang
-
Donald Trump: Tidak Ada Satu Negara Pun Boleh Kendalikan Selat Hormuz
-
Kirab Budaya Napak Tilas Padjadjaran di Jabar, Binokasih Mulang Salaka Tandai Pembukaan di Sumedang
-
Hutan Bukan Milik Negara: Mengapa Masyarakat Adat Papua Menolak Skema Perhutanan Sosial?
-
Eks Tapol Bongkar Ngerinya Siksaan 'Ular Listrik' Rezim Jokowi: Ada Ojol Disiksa Sampai Mata Copot
-
Kepala Ditindih TV Rusak! Siswi SD Makassar Tewas di Toilet Rumah Kosong Usai Diperkosa Tetangga
-
Kata Abu Janda Usai Dipolisikan Sebut Sumbar 'Barbar': Kalau Dasarnya Sudah Benci ya Susah
-
Api Misterius di Sleman Masih Muncul, Pemilik Rumah Ngaku Sudah Sempat Didatangi Dukun
-
Akbar Husein Kenang Kerusuhan 21-22 Mei 2019 di Bawaslu: Ada Koordinasi Aktivis hingga Purnawirawan