Suara.com - Krisis iklim tidak hanya memengaruhi kondisi lingkungan, tetapi juga mengubah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Dalam banyak kasus, perempuan menjadi kelompok yang paling awal merasakan dampaknya karena memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan dasar keluarga, mulai dari pangan, air bersih, hingga pengelolaan rumah tangga.
Persoalan tersebut mengemuka dalam loka wicara bertajuk Mengapa Krisis Iklim adalah Isu Keadilan Gender? yang digelar dalam rangkaian Raksha Loka Fest yang digelar GEF SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme) Indonesia di M Bloc Space, Jakarta, Jumat (22/5).
Ketua Umum PEREMPUAN AMAN, Devi Anggraini, mengatakan perempuan sejak lama memiliki posisi strategis dalam menentukan sistem pangan keluarga, mulai dari memilih jenis tanaman hingga mengelola hasil panen untuk kebutuhan rumah tangga.
“Perempuan awalnya yang memutuskan apa yang harus dimakan, bagaimana itu ditanam, apa yang ditanam, dan di mana dia ditanam,” ujar Devi.
Namun, perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem, menurunnya produktivitas lahan, serta terbatasnya akses terhadap sumber daya alam membuat peran tersebut semakin sulit dijalankan. Menurut Devi, banyak perempuan kini menghadapi berkurangnya akses terhadap lahan, sumber energi, maupun sumber penghidupan yang sebelumnya menjadi penopang kehidupan keluarga.
“Kalau kita mau bicara krisis iklim, yang perlu didalami adalah bagaimana posisi perempuan di dalam kampung, dalam situasi perubahan iklim, tidak lagi memiliki kontrol, tidak lagi memiliki akses,” katanya.
Risiko Kemiskinan Lebih Tinggi
Kerentanan perempuan terhadap dampak krisis iklim juga tercermin dalam berbagai data global. Menurut UN Women, perempuan cenderung memiliki akses ekonomi dan sumber daya yang lebih terbatas dibanding laki-laki, sehingga lebih rentan ketika terjadi tekanan lingkungan maupun ekonomi akibat perubahan iklim.
Baca Juga: Setop Pembangunan Top-Down! Saatnya Suara Perempuan Akar Rumput Masuk Kebijakan Nasional
Selain itu, perempuan dinilai lebih bergantung pada sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Ketika hasil pertanian menurun, sumber air berkurang, atau bencana alam terjadi lebih sering, perempuan menjadi pihak yang harus mencari berbagai cara agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi.
Data dari UN Women Data Hub juga menunjukkan bahwa jumlah perempuan yang hidup dalam kemiskinan diperkirakan lebih tinggi dibanding laki-laki. Dalam skenario krisis iklim terburuk, jumlah perempuan dewasa yang hidup dalam kemiskinan ekstrem pada 2030 diperkirakan mencapai 4,6 juta orang, sementara laki-laki berada di angka 3,8 juta.
Adaptasi Dimulai dari Lingkungan Terdekat
Meski menghadapi berbagai tantangan, perempuan juga memainkan peran penting dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap dampak perubahan iklim. Berbagai inisiatif adaptasi muncul dari tingkat komunitas dan rumah tangga untuk menjaga ketersediaan pangan maupun kualitas lingkungan.
Perwakilan Solidaritas Perempuan, Dina Herdiana, mencontohkan praktik yang dilakukan perempuan di Yogyakarta. Mereka memanfaatkan ruang di sekitar rumah untuk menanam tanaman pangan dan mengembangkan kawasan hijau di lingkungan permukiman.
“Perempuan Kota Jogja melakukan aksi-aksi adaptasi, mulai dari lingkungan rumah mereka, menanam di pekarangan, kemudian dikembangkan menjadi lorong hijau,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- 3 Sabun Muka Rekomendasi Dokter Estetika yang Ampuh Jaga Skin Barrier
Pilihan
-
Presiden Prabowo Disebut Minta Febrie Adriansyah Ditangkap, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
Terkini
-
IPW ke Panglima TNI: Jangan Biarkan Oknum Lindungi Koruptor dan Coreng Citra Institusi!
-
Nanoplastik ditemukan di Antartika: Bagaimana bisa Sampai ke Sana?
-
Benarkah Jampidsus Febrie Adriansyah Mengundurkan Diri? Ini Jawaban Komisi III DPR
-
Tak Hanya Saksi, IPW Sebut 2 Brigjen TNI Satroni Polda Metro Hendak Ambil Paksa Barang Bukti
-
Sudah Jadi Tersangka, Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Resmi Pakai Rompi Oranye Tahanan KPK
-
Gus Lilur Minta Prabowo Segera Rukunkan Polri-Kejaksaan: Jangan Biarkan Beradu
-
Geger Isu Teror di Kantor BGN, Polisi Ungkap Fakta Mengejutkan
-
Garansi Harga BBM Rakyat Kecil Tak Naik, Prabowo Sentil Pengusaha Pakai Lamborghini
-
Prabowo Didesak Turun Tangan, Cegah Konflik Polri-Kejaksaan Makin Melebar: TNI Jangan Ikut Campur
-
Nama Febrie Terseret Isu Korupsi, Habiburokhman: Jika Bukti Kuat Harus Diproses