News / Nasional
Minggu, 12 Juli 2026 | 19:32 WIB
Suasana dikusi saat pemutaran film Sa Pu Nama Pengungsi di Jakarta, Minggu (12/7/2026). (Suara.com/Alif Bintang)
Baca 10 detik
  • Perwakilan JKPPJ dan Rumah Solidaritas Papua menyoroti krisis kemanusiaan yang dialami pengungsi akibat konflik bersenjata di wilayah Papua.
  • Para pengungsi perempuan dan anak-anak mengalami kesulitan akses layanan kesehatan mendasar seperti persalinan medis dan kebutuhan sanitasi menstruasi.
  • Konflik bersenjata yang berkepanjangan di Papua juga menyebabkan terhentinya akses pendidikan bagi anak-anak pengungsi karena situasi yang tidak menentu.

Suara.com - Perwakilan Jaringan Kerja kerja Perempuan Papua Jakarta (JKPPJ) Ferli Sobolim mengungkapkan masih ada bermacam persoalan yang dihadapi para pengungsi akibat konflik di Papua.

Ferli mengatakan, minimnya akses kesehatan menjadi persoalan utama yang dihadapi para perempuan dan anak-anak yang menjadi korban perseteruan antara aparat Indonesia dan TPN-PB di Papua.

Ia mencontohkan ada beberapa kasus perempuan hamil yang harus melahirkan di tengah hutan tanpa bantuan tenaga medis.

Selain itu, persoalan nihilnya akses pendidikan bagi pengungsi juga menjadi isu yang diangkat Ferli. Ia menyayangkan banyak anak-anak pengungsi yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya.

"Ketika terjadi pengungsian mengalami penurunan di pendidikan. Anak-anak terlantar tidak sekolah," kata Ferli saat Diskusi dan Nobar Film Sa Pu Nama Pengungsi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Minggu (12/7/2026).

Senada dengan Ferli, Perwakilan Rumah Solidaritas Papua, Yokbeth Felle juga ikut menjabarkan persoalan yang dihadapi para pengungsian perempuan.

Ia mencontohkan persoalan perempuan yang harus mengungsi di masa menstruasi dengan minimnya akses kesehatan yang memadai.

Yokbeth juga melemparkan pertanyaan reflektif untuk membayangkan menjadi korban perempuan yang mesti melahirkan di tengah konflik. Hal itu, lanjut Yokbeth, harus dilalui perempuan pengungsi hanya untuk bertahan hidup di tengah makin memanasnya konflik bersenjata.

"Apa yang teman-teman di sini rasakan? tentu tidak tidak nyaman. Itu lah yang dirasakan teman-teman perempuan ketika mereka mengungsi. Tapi balik lagi, mereka perempuan berusaha untuk bertahan hidup," kata Yokbeth.

Baca Juga: Sebut Tanggung Jawab Wapres, Bambang Pacul Dinilai 'Main-main' dengan Isu Papua

Oleh karena itu, berharap masyarakat dapat bersolidaritas kepada para korban. Tak hanya di Papua, namun juga di seluruh daerah konflik lainnya. (Reporter: Alif Bintang)

Load More