- Tokoh perempuan adat Papua Selatan, Mama Sinta, melaporkan Ketua LBH Merauke ke Polda Metro Jaya.
- Laporan tersebut terkait dugaan pelanggaran data pribadi dalam film dokumenter Pesta Babi yang diputar tanpa izinnya.
- Mama Sinta kini menyatakan dukungan terhadap proyek food estate demi meningkatkan kondisi ekonomi dan kesejahteraan keluarga.
Mama Sinta mengaku merasa kecewa karena wajah dan keterangannya muncul dalam film yang kemudian diputar di berbagai daerah tanpa persetujuannya.
Ia menyatakan tidak pernah memberikan izin atas penggunaan dirinya dalam film dokumenter tersebut.
“Mereka putar film pesta babi itu di mana-mana, saya sakit hati, saya kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan,” kata Mama Sinta.
Sebelumnya, Sutradara film Pesta Babi, Dandhy Laksono belum lama ini angkat bicara mengenai protes Mama Sinta yang mengaku tidak tahu dirinya ditampilkan dalam film dokumenter Pesta Babi.
Melalui akun Instagram pribadi, Dandhy meminta agar masyarakat tidak buru-buru menghakimi Mama Sinta atas pernyataannya tersebut.
"Kawan-kawan semua, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dialami Mama Yasinta Moiwen di pedalaman Papua sana," kata Dandhy.
Menurut Dandhy, setiap orang berhak untuk menentukan pilihan sikapnya sendiri. Oleh karena itu, ia meminta agar publik menahan diri untuk tidak berkomentar maupun memberikan penilaian terhadap sikap Mama Sinta.
"Apapun yang muncul di media sosial, sepertinya kita perlu menahan diri untuk tidak menghakimi beliau. Bahkan jika semua yang disampaikan murni atas kehendak sendiri, bukankah setiap orang berhak membuat pilihan," katanya.
Dulu Menolak Food Estate, Kini Berubah Pikiran
Selain kasus film dokumenter, Mama Sinta juga menjadi perhatian karena perubahan sikapnya terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan atau food estate di Papua Selatan.
Baca Juga: Polemik PSN Papua Tak Bisa Lagi Dipandang Sebelah Mata, DPD Resmi Bentuk Pansus
Sebelumnya, ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang menyuarakan penolakan terhadap proyek tersebut bersama sejumlah kelompok masyarakat adat.
Namun kini, Mama Sinta menyatakan mendukung keberlanjutan program food estate yang dijalankan pemerintah.
Menurut pengakuannya, perubahan sikap tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi keluarga dan harapannya untuk memperoleh kesempatan kerja yang lebih baik.
Mama Sinta mengungkapkan bahwa dirinya merasa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu ketika terlibat dalam gerakan penolakan proyek.
Ia juga mengaku tidak mendapatkan manfaat yang diharapkan setelah mengikuti berbagai kegiatan terkait advokasi tersebut.
“Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi,” kata Mama Sinta.
Ia berharap keberadaan perusahaan dan proyek pembangunan di wilayah Papua Selatan dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat adat, termasuk dirinya dan keluarganya.
Menurut Mama Sinta, kebutuhan ekonomi menjadi faktor penting yang membuatnya mempertimbangkan kembali pandangannya terhadap proyek pembangunan tersebut.
Ia berharap masyarakat adat dapat merasakan manfaat langsung dari investasi dan program pemerintah yang masuk ke wilayah mereka.
Mama Sinta juga menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah atas berbagai pernyataan yang pernah ia sampaikan sebelumnya terkait proyek food estate.
Itulah penjelasan mengenai siapa Mama Sinta dan kontroversinya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Prabowo Instruksi Bahasa Prancis di Sekolah, PDIP Beri Catatan Kritis: Tidak Bisa Serta Merta Begitu
-
Prabowo Tiba di Indonesia Usai Kunjungan dari Prancis, Gibran Menyambut
-
Ribuan Calon Jemaah Umrah Hanania Travel Gagal Berangkat, Negara Diminta Hadir Sesuai UU Terbaru!
-
Buntut Film Pesta Babi, Mama Sinta Asal Papua Polisikan Ketua LBH Merauke di Jakarta
-
Eropa Tegang! Vladimir Putin Ancam Bombardir Dua Negara NATO
-
Alarm Regresi Demokrasi, Menguatnya Kartelisasi Politik dan Ancaman Neo Otoritarianisme di Indonesia
-
Buron! Bareskrim Kejar Bos New Zone Medan, Diduga Jadi Bandar Narkoba di Kelab Malam Miliknya
-
Krisis Literasi Belum Selesai, Kenapa Siswa Bakal Dipaksa Belajar Bahasa Prancis?
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Risiko Bencana Alam, Bupati dan Wali Kota Jabar Diminta Hentikan Pembangunan di Hutan & Perkebunan