News / Nasional
Senin, 01 Juni 2026 | 10:38 WIB
Mams Sinta dan sejumlah Adat Malind mendaftarkan gugatan izin kelayakan lingkungan hidup rencana pembangunan jalan 135 km di Merauke ke PTUN Jayapura (Greenpeace/Alif Rizky Nouddy Korua)
Baca 10 detik
  • Mama Sinta, tokoh adat Merauke, melaporkan Ketua LBH Merauke ke Polda Metro Jaya terkait penggunaan wajahnya tanpa izin.
  • Laporan tersebut diajukan karena identitas Mama Sinta muncul dalam film dokumenter Pesta Babi tanpa persetujuan pribadinya.
  • Mama Sinta kini mendukung proyek food estate di Papua Selatan demi kesejahteraan ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan.

Suara.com - Nama Yasinta Moiwend atau yang lebih dikenal sebagai Mama Sinta kembali menjadi perbincangan publik. Tokoh perempuan adat asal Merauke, Papua Selatan, itu menjadi sorotan setelah melaporkan Ketua LBH Merauke ke Polda Metro Jaya terkait penggunaan wajah dan keterangannya dalam film dokumenter Pesta Babi tanpa persetujuannya.

Polemik tersebut tidak hanya memunculkan perdebatan mengenai perlindungan data pribadi dan etika pembuatan film dokumenter, tetapi juga mengarahkan kembali perhatian publik pada perjalanan Mama Sinta sebagai salah satu perempuan adat yang selama ini aktif menyuarakan isu lingkungan dan hak-hak masyarakat adat di Papua Selatan.

Siapa Yasinta Moiwend?

Yasinta Moiwend merupakan perempuan adat dari suku Malind di Merauke, Papua Selatan. Dalam beberapa tahun terakhir, namanya dikenal luas sebagai salah satu suara masyarakat adat yang menyoroti dampak pembangunan skala besar terhadap tanah, hutan, dan kehidupan masyarakat lokal.

Mama Sinta kerap terlibat dalam berbagai diskusi, kampanye, hingga aksi advokasi yang berkaitan dengan perlindungan wilayah adat. Ia menyuarakan pentingnya keterlibatan masyarakat adat dalam setiap kebijakan yang menyangkut tanah dan sumber daya alam yang selama turun-temurun menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Karena keterlibatannya dalam berbagai gerakan tersebut, nama Mama Sinta mulai dikenal tidak hanya di Papua, tetapi juga di tingkat nasional. Pandangannya kerap dikutip dalam berbagai diskusi mengenai konflik agraria, pembangunan, dan masa depan masyarakat adat di Papua Selatan.

Pernah Menjadi Wajah Perlawanan terhadap Food Estate

Salah satu isu yang membuat nama Mama Sinta semakin dikenal adalah proyek lumbung pangan atau food estate yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke.

Saat proyek itu mulai berjalan, Mama Sinta termasuk tokoh adat yang menyampaikan kekhawatiran mengenai dampak pembukaan lahan terhadap hutan, tanah ulayat, serta ruang hidup masyarakat adat Malind. Ia terlibat dalam berbagai kegiatan advokasi yang menyoroti risiko sosial dan lingkungan dari proyek tersebut.

Baca Juga: Sebut Film 'Pesta Babi' Aman Secara Hukum, Uceng UGM: Jangan-Jangan Ada Unsur Politik?

Namanya bahkan beberapa kali muncul dalam berbagai pemberitaan dan kampanye yang menyoroti penolakan sebagian masyarakat adat terhadap proyek pangan dan infrastruktur yang berkembang di Papua Selatan.

Bagi banyak kalangan, Mama Sinta saat itu menjadi salah satu representasi suara masyarakat adat yang berusaha mempertahankan wilayahnya di tengah ekspansi proyek pembangunan berskala besar.

Mengapa Sikap Mama Sinta Berubah?

Film Pesta Babi. (Instagram/watchdoc_insta)

Belakangan, Mama Sinta menyampaikan sikap yang berbeda dari sebelumnya. Ia menyatakan mendukung keberlanjutan program food estate dan proyek pembangunan yang masuk ke Papua Selatan.

Menurut pengakuannya, perubahan pandangan tersebut dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang dihadapinya. Ia berharap proyek pembangunan dapat membuka lapangan pekerjaan dan memberikan manfaat yang lebih nyata bagi masyarakat adat, termasuk keluarganya sendiri.

Mama Sinta juga mengaku merasa kecewa terhadap sejumlah pihak yang sebelumnya mendampinginya dalam berbagai aktivitas advokasi. Karena itu, ia memilih mengambil keputusan sendiri terkait masa depan dan sikap politiknya terhadap proyek pembangunan di wilayahnya.

Load More