News / Nasional
Senin, 01 Juni 2026 | 21:17 WIB
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. [Suara.com/Novian]
Baca 10 detik
  • Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons kritik Dino Patti Djalal mengenai frekuensi dan biaya lawatan luar negeri Presiden Prabowo.
  • Teddy menegaskan kelebihan biaya perjalanan ditanggung pribadi oleh Presiden serta jumlah delegasi telah dipangkas hingga lebih dari separuh.
  • Pemerintah menjelaskan bahwa kunjungan dilakukan demi membangun hubungan strategis antar pemimpin dunia di tengah kondisi global yang dinamis.
Presiden Prabowo Subianto bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron. (dok. BAKOM RI)

Teddy juga menjelaskan mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Prabowo selama sekitar 1,5 tahun masa pemerintahannya. Sebelumnya, Dino menyebut satu dari enam hari Prabowo dihabiskan di luar negeri sebagai gambaran intensitas lawatan tersebut.

"Kemudian yang keempat, masalah protokoler dan frekuensi ke luar negeri dalam 1,5 tahun terakhir. Jadi Presiden Prabowo itu adalah Presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis. Sebelumnya ada konflik di Ukraina, ada di Venezuela, kemudian sekarang ada di Iran dan Timur Tengah, itu terlibat Saudi, Qatar, Bahrain, UAE, dan lain sebagainya, ya," kata Teddy.

Menurut Teddy, membangun hubungan dengan para pemimpin dunia merupakan hal yang penting. Sebab, hubungan tersebut tidak bisa dibangun hanya ketika Indonesia membutuhkan bantuan saat terjadi krisis.

"Jadi setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia. Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak, kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan, dan begitu pula sebaliknya," kata Teddy.

"Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin, baik secara langsung diliput media ataupun tertutup. Nah, itulah diplomasi," ujar Teddy.

Teddy menepis anggapan bahwa kunjungan luar negeri Prabowo hanya bertujuan untuk pencitraan atau sekadar kegiatan seremonial.

"Jadi salah besar, kalau dibilang hanya gagah-gagahan, seremonial. Jadi kita harus lihat apa yang sudah dicapai dalam 1,5 tahun terakhir ini," kata Teddy.

Load More