- KPAI menyatakan program Makan Bergizi Gratis tidak efektif jika pemerintah mengabaikan peredaran makanan tidak sehat bagi anak-anak.
- Komite Hak Anak PBB menyoroti tingginya angka obesitas, wasting, serta kesenjangan layanan kesehatan di berbagai wilayah Indonesia.
- Pemerintah didorong mengintegrasikan edukasi gizi dan pengendalian konsumsi makanan tidak sehat sebagai upaya nyata memperbaiki kesehatan anak.
Suara.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengingatkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak akan otomatis menyelesaikan persoalan gizi anak jika pemerintah hanya berfokus pada distribusi makanan tanpa membenahi lingkungan pangan yang dihadapi anak setiap hari.
Wakil Ketua KPAI Jasra Putra menilai upaya negara memperbaiki status gizi anak melalui MBG berpotensi kehilangan efektivitas apabila konsumsi makanan tidak sehat, makanan ultra-olahan, hingga produk adiktif masih terus menyasar anak-anak dan remaja tanpa pengawasan yang memadai.
"Jangan sampai di satu sisi negara memperbaiki gizi melalui MBG, tetapi di sisi lain lingkungan pangan justru dipenuhi industri yang mempromosikan konsumsi tidak sehat bagi anak," kata Jasra dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Peringatan tersebut muncul di tengah evaluasi pelaksanaan MBG menyusul pergantian pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurut KPAI, masalah gizi anak jauh lebih kompleks daripada sekadar menyediakan makanan bergizi di sekolah.
Faktor lain seperti pola konsumsi sehari-hari, masifnya promosi makanan olahan, hingga rendahnya edukasi gizi keluarga turut memengaruhi kualitas kesehatan anak.
Jasra mengungkapkan bahwa perhatian terhadap persoalan tersebut juga datang dari Komite Hak Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam catatannya, komite tersebut menyoroti berbagai tantangan kesehatan anak di Indonesia, mulai dari kesenjangan layanan kesehatan di Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur, tingginya angka wasting di Indonesia Timur, hingga meningkatnya obesitas pada anak usia sekolah.
"Komite PBB menyoroti pentingnya perluasan layanan kesehatan ibu dan anak di daerah terpencil, penanganan wasting di wilayah Indonesia Timur, promosi pola makan sehat bagi bayi dan anak, hingga pengendalian meningkatnya obesitas pada anak usia sekolah akibat konsumsi makanan olahan dan ultra-olahan," tuturnya.
Baca Juga: Kaji Potensi Korupsi Anggaran MBG, KPK: BGN Belum Siap Kelola Rp268 Triliun
Bagi KPAI, temuan tersebut menjadi pengingat bahwa program gizi nasional tidak cukup hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan.
Program harus dibarengi upaya membangun perilaku hidup sehat dan pengendalian berbagai faktor risiko yang mengancam kesehatan anak.
KPAI juga mencatat persoalan kesehatan anak masih menjadi salah satu laporan terbanyak yang diterima lembaga tersebut.
Kasus stunting masih mendominasi aduan dalam klaster kesehatan, disusul persoalan gizi buruk, konsumsi makanan tidak sehat, hingga keterbatasan akses layanan kesehatan.
Karena itu, KPAI meminta pemerintah menjadikan pergantian kepemimpinan di BGN sebagai momentum untuk mengembalikan MBG pada tujuan utamanya sebagai program kesehatan masyarakat yang terintegrasi.
Selain memperkuat keamanan pangan, pemerintah juga didorong memperluas edukasi gizi keluarga, menekan konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, serta membangun komunikasi berbasis komunitas untuk mencegah stunting sejak dini.
Menurut Jasra, pendekatan tersebut jauh lebih sesuai dengan semangat awal MBG sebagai instrumen peningkatan kualitas kesehatan anak Indonesia, bukan sekadar program pembagian makanan dalam skala besar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
3 Sunscreen Jepang agar Kulit Tampak Awet Muda, Lengkap Review Pembeli
-
Perjalanan Irwansyah Damanik, dari Pedagang Pasar Malam ke Bintang Warintil
-
Kemendag Menang Sengketa WTO, Akses Ekspor Rp7,34 Triliun ke Eropa Berhasil Diselamatkan
-
Tumpuk Sampah Sembarangan di Jakarta Bisa Berujung Denda Rp 500 Ribu
-
Meski Amplop Dikembalikan, KPK Bisa Jerat Raja Juli dengan Pasal Suap dan Gratifikasi
-
Anak Kecanduan Gawai Picu Gagal Ginjal dan Diabetes, Dedi Mulyadi Beri Peringatan Keras
-
Sopir Truk Wing Box Jadi Tersangka Kecelakaan Maut Pantura yang Tewaskan 12 Pengantar Pengantin
-
Lebak Darurat Air Bersih, Kemarau Panjang Landa 90 Desa di 23 Kecamatan
-
Disebut Medali 'Cokelat', Konate: Prancis Serius Bidik Tempat Ketiga di Piala Dunia 2026
-
Jaga Marwah Kota Santri, DPRD Cianjur Desak Aturan Tegas Sanksi ASN Terafiliasi LGBT