- Gejala putus nikotin menjadi hambatan medis utama bagi perokok yang ingin berhenti mengonsumsi rokok konvensional maupun elektrik.
- Indonesia mencatat 70 juta perokok aktif dengan risiko kesehatan serius bagi perokok serta kelompok rentan di sekitarnya.
- Kementerian Kesehatan memperkuat layanan berhenti merokok melalui kampanye nasional, kolaborasi lintas sektor, dan pendampingan klinis tenaga kesehatan.
Suara.com - Keinginan untuk berhenti merokok sering kali tidak cukup untuk membuat seseorang benar-benar lepas dari ketergantungan nikotin. Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi perokok adalah munculnya gejala putus nikotin atau withdrawal syndrome, yang membuat banyak upaya berhenti merokok berakhir gagal.
Penasihat Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, mengatakan ketergantungan nikotin merupakan persoalan medis yang membutuhkan pendekatan lebih dari sekadar kemauan pribadi.
Menurutnya, rokok konvensional maupun rokok elektrik sama-sama berisiko menimbulkan berbagai penyakit serius, termasuk Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan kanker paru.
"Hambatan terbesar pasien untuk berhenti merokok adalah gejala putus nikotin (withdrawal). Solusi berbasis bukti seperti Terapi Pengganti Nikotin (NRT) telah terbukti secara klinis meredakan gejala sakau dan melipatgandakan peluang keberhasilan berhenti merokok, terutama bila dipadukan dengan konseling perilaku dari tenaga medis," ujar Agus saat sesi seremoni peresmian kampanye #SehatTanpaRokok, Rabu (3/6/2026) di Jakarta.
Pandangan serupa disampaikan praktisi kesehatan dr. Tirta Mandira Hudhi, yang mengaku pernah menjadi perokok berat selama bertahun-tahun.
Menurut dr. Tirta, banyak orang memiliki niat untuk berhenti merokok, namun kesulitan menghadapi efek ketergantungan nikotin yang muncul saat konsumsi rokok dihentikan.
"Berhenti merokok memang butuh tekad, tetapi seringkali niat saja kalah oleh withdrawal syndrome. Karena itu, perokok butuh solusi terukur, bukan sekadar imbauan," kata dr. Tirta.
Ia menambahkan bahwa kombinasi antara motivasi pribadi dan pendampingan berbasis metode ilmiah dapat membantu meningkatkan peluang keberhasilan seseorang untuk berhenti merokok.
Jumlah Perokok Masih Tinggi
Baca Juga: Rokok Ilegal Akan Makin Bebas Berkeliaran Gegara Aturan Ini
Tantangan tersebut menjadi semakin penting mengingat jumlah perokok di Indonesia masih sangat tinggi.
Data menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia telah mencapai sekitar 70 juta orang, dengan 7,4 persen di antaranya merupakan kelompok usia 10 hingga 18 tahun. Sementara itu, penggunaan rokok elektrik atau vape di kalangan remaja juga meningkat tajam dari 0,3 persen menjadi 3 persen.
Selain berdampak pada perokok aktif, paparan asap rokok juga membahayakan kelompok rentan seperti anak-anak, perokok pasif (second-hand smoker), hingga perokok ketiga (third-hand smoker) yang terpapar residu zat berbahaya dari rokok yang menempel pada pakaian, kulit, maupun perabot rumah tangga.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan, anak-anak yang hidup di lingkungan perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan, termasuk pneumonia.
Kemenkes Perkuat Kampanye Berhenti Merokok
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kampanye nasional #SehatTanpaRokok yang merupakan bagian dari Program Upaya Berhenti Merokok untuk Indonesia Sehat sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Menunggu 22 Tahun Hingga Hamil di Usia 45: Kisah Nyata Perjuangan Bayi Tabung yang Menginspirasi
-
Euforia Piala Dunia 2026 Tak Cukup Selamatkan Ekonomi Meksiko: Stadion Penuh, Pemasukan Lesu
-
KPK Tolak Laporan Menhut Raja Juli Kembalikan Amplop Bupati Kuansing
-
Jejak Brutal MYF: Pembacok Samurai di Lumajang yang Ternyata Predator Pemerkosa Driver Ojol
-
Detik-detik Kakek Saniman Terhantam CBR Saat Putar Balik di Watudakon Jombang
-
Jika Argentina Juara, Benarkah Dinasti Baru Sepak Bola Dunia Resmi Dimulai?
-
Deschamps Akui Prancis dan Inggris Sama-sama Ogah Main, tapi Tetap Serius Bidik Tempat Ketiga
-
Pulau Panggang Krisis BBM, Nelayan Terancam Tak Bisa Melaut
-
Misteri Pembunuhan di Ruangan Tertutup dalam Novel Everything Becomes F
-
Panut Rilis Buku Otobiografi, Tegaskan Komitmen Kawal Benteng Hijau Sumatra