- Bu Widya, warga Bintaro, tetap memproduksi Selendang Mayang demi menjaga warisan resep keluarga dari kepunahan di Jakarta.
- Minuman tradisional ini kini semakin sulit ditemukan karena perubahan tren selera masyarakat dan minimnya generasi penerus.
- Produksi Selendang Mayang dilakukan dalam jumlah terbatas untuk menjaga kualitas rasa di tengah tantangan ekonomi dan modernisasi.
Potongan pati aren berwarna merah, putih, dan hijau disusun berlapis menyerupai kain selendang. Teksturnya kenyal, disiram santan gurih dan gula merah, lalu disajikan dingin dengan es batu.
Sederhana. Namun justru kesederhanaan itu yang membuatnya lekat dalam ingatan banyak orang.
Kini, pemandangan itu semakin jarang ditemukan.
Mencari penjual Selendang Mayang di Jakarta bahkan bisa lebih sulit daripada menemukan kedai kopi baru.
Jumlah penjualnya terus berkurang. Sementara generasi yang tumbuh bersama minuman ini juga semakin menua.
Menjaga Warisan Keluarga
Bu Widya termasuk sedikit orang yang masih bertahan.
Ia belajar membuat Selendang Mayang dari mertuanya, seorang Betawi asli Kebon Jeruk. Dari dapur keluarga itulah resep dan keterampilan membuat Selendang Mayang diwariskan.
Namun berbeda dengan masa lalu, Bu Widya kini tidak lagi berjualan setiap hari.
Baca Juga: Rekomendasi Akhir Pekan di Jakarta: Dari Indofest hingga Pameran Keris Nasional
Sebagian besar pesanannya datang dari sekolah, acara budaya, atau pesta pernikahan yang ingin menghadirkan nuansa Betawi dalam sajian mereka.
Sesekali, setiap Jumat, ia menjual Selendang Mayang di depan rumahnya.
Itu pun dalam jumlah terbatas.
"Satu loyang lah paling, itu bisa jadi sekitar 13 cup," ujarnya.
Bukan karena tidak sanggup membuat lebih banyak.
Bu Widya tahu betul bahwa belum tentu semuanya akan laku.
"Kalau dibesokin, rasanya udah pasti beda. Saya pengin jaga kualitas rasanya, makanya mending bikin sedikit," katanya.
Dari cara ia berbicara, terasa bahwa yang sedang dijaga bukan sekadar kualitas rasa.
Ada warisan keluarga yang ikut dipertaruhkan.
Ada kenangan yang tidak ingin ia biarkan hilang begitu saja.
Ketika Kota Berubah Arah
Bu Widya mengakui, pembeli Selendang Mayang semakin sedikit.
"Emang udah jarang juga yang nyari," katanya.
Perubahan selera menjadi salah satu penyebabnya.
Anak-anak muda Jakarta kini tumbuh dengan pilihan minuman yang nyaris tak terbatas. Dari kopi susu, boba, hingga berbagai minuman musiman yang silih berganti menjadi tren.
Selendang Mayang tak pernah benar-benar ikut dalam perlombaan itu.
Ia tidak tampil dalam kemasan yang menarik perhatian media sosial. Tidak dipromosikan influencer. Tidak pula hadir dalam kampanye pemasaran yang agresif.
Ia hanya mengandalkan rasa dan kenangan.
Dari sisi ekonomi pun tidak mudah.
Harga santan segar terus naik. Pati aren berkualitas semakin sulit ditemukan. Sementara harga jual per gelas tetap harus terjangkau.
"Saya jualan juga udah kayak nggak nyari untung," ujar Bu Widya sambil tertawa kecil.
Tawa itu terdengar santai.
Tetapi di baliknya tersimpan perjuangan yang tidak ringan.
Menjaga Ingatan Sebuah Kota
Persoalan terbesar sesungguhnya bukan soal untung dan rugi. Melainkan soal siapa yang akan melanjutkan.
Selama ini, Selendang Mayang hidup dari proses pewarisan yang sederhana: dari orang tua kepada anak, dari mertua kepada menantu, dari satu dapur ke dapur lainnya.
Tidak ada sekolah yang mengajarkannya. Tidak ada sertifikasi yang menjamin keterampilan itu tetap hidup.
Ketika generasi muda tak lagi tertarik mempelajarinya, rantai pewarisan itu perlahan terputus.
Dan ketika rantai itu putus, yang hilang bukan hanya sebuah resep.
Yang ikut menghilang adalah cerita tentang keluarga, tentang kampung-kampung Betawi, tentang hajatan yang meriah, dan tentang Jakarta yang pernah dikenal lewat rasa-rasa sederhana.
Tahun ini, Jakarta bersiap merayakan ulang tahunnya yang ke-499. Festival budaya kembali digelar. Ornamen Betawi menghiasi berbagai sudut kota. Identitas lokal kembali dirayakan dalam berbagai panggung perayaan.
Namun jauh dari keramaian itu, di sebuah teras rumah di Bintaro, Bu Widya masih melakukan hal yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ia masih memotong lembaran Selendang Mayang. Masih merebus santan. Masih menerima pesanan dari mereka yang rindu pada rasa lama Jakarta.
Sebab bagi Bu Widya, Selendang Mayang bukan sekadar minuman.
Ia adalah cerita yang diwariskan keluarga.
Dan selama cerita itu masih dibuat, selama itu pula sepotong ingatan tentang Jakarta akan tetap hidup.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
- Lipstik Wardah yang Bagus Apa? Ini 4 Pilihan Paling Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Bawa Modal Rp800 Juta Demi 1 Kg Sabu, Pengedar Asal Gunung Batu Diringkus Polres Cimahi
-
Kejagung Rotasi Pejabat, Rinaldi Umar Ditunjuk Jadi Direktur Penyidikan Jampidsus
-
Dibatalkan Sepihak Usai Daftar Ulang, Orang Tua Siswa SMAN 1 Cileungsi Lapor Dedi Mulyadi
-
Tak Sekadar Bersih-Bersih, Mandi Kini Jadi Ritual Relaksasi untuk Jaga Kesehatan Mental
-
Babak Pertama Final AFF Women's Cup 2026: Timnas Putri Indonesia Unggul 1-0
-
BRI Dukung BKKBN Salurkan Bantuan Keluarga Berisiko Stunting di Kepulauan Talaud
-
Diskon Mako Bakery Khusus Nasabah BRI, Makan Enak Bayar Gak Sampai Rp20 Ribu!
-
Jonatan Christie Bersyukur Cepat Beradaptasi, Lolos ke Babak Kedua China Open 2026
-
Promo Terbaru BRI di Marugame Udon, Makan Kenyang Cuma Bayar Rp10 Ribu!