Suara.com - Selama bertahun-tahun, ekspor sampah plastik ke negara berkembang kerap dipandang sebagai bagian dari sistem daur ulang global. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa praktik tersebut dapat menimbulkan konsekuensi kesehatan yang serius bagi masyarakat di negara penerima limbah.
Temuan ini muncul di tengah meningkatnya perdagangan limbah plastik dunia. Menurut data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 2024, impor limbah plastik global mencapai 9,34 juta metrik ton. Sebagian besar aliran limbah tersebut berasal dari negara-negara maju dan dikirim ke negara berkembang dengan alasan untuk didaur ulang.
Namun, kenyataannya tidak semua negara penerima memiliki kapasitas pengelolaan limbah yang memadai. Akibatnya, sebagian sampah plastik justru berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar secara terbuka, menghasilkan polusi udara yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Dari Tiongkok ke Asia Tenggara
Perdagangan limbah plastik global mengalami perubahan besar setelah Tiongkok menghentikan impor sampah plastik pada 2018–2019. Sebelumnya, negara tersebut menyerap sekitar 45 persen impor limbah plastik dunia.
Ketika pintu masuk Tiongkok ditutup, arus limbah beralih ke sejumlah negara lain, terutama di Asia Tenggara. Indonesia menjadi salah satu tujuan utama dan tercatat sebagai importir bersih limbah plastik sejak 2018, dengan pasokan yang banyak berasal dari Eropa Barat, Amerika Utara, dan Australia.
Perubahan jalur perdagangan ini memunculkan pertanyaan baru: apakah negara-negara penerima mampu mengelola volume limbah yang terus meningkat?
Ketika Sampah Dibakar, Risiko Kesehatan Meningkat
Penelitian yang dilakukan Ellen M. Considine dan timnya menggunakan data satelit serta pelacakan kapal kargo untuk menganalisis hubungan antara impor limbah plastik dan kualitas udara.
Baca Juga: Bukan Lagi Urusan TPA, Kini Sampah Adalah Urusan Kita Semua
Hasilnya menunjukkan adanya korelasi antara peningkatan impor limbah dengan memburuknya kualitas udara di sekitar lokasi pembuangan sampah besar.
Masalah ini menjadi lebih kompleks karena banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah masih menghadapi keterbatasan layanan pengelolaan sampah. Diperkirakan sekitar 2 miliar orang hidup di wilayah yang masih mengandalkan pembakaran sampah terbuka sebagai cara pembuangan limbah.
Di Indonesia, Forum Ekonomi Dunia dan pemerintah memperkirakan sekitar 48 persen sampah plastik dibakar secara terbuka pada 2020. Praktik ini menghasilkan partikel halus yang dapat terhirup dan masuk ke dalam sistem pernapasan manusia.
Penelitian tersebut menemukan bahwa setelah Tiongkok menghentikan impor limbah plastik, tingkat polusi partikulat di sekitar TPA besar meningkat rata-rata 3,3 persen atau sekitar 1,68 mikrogram per meter kubik dibandingkan periode 2012–2017.
Paparan jangka panjang terhadap polusi tersebut diperkirakan meningkatkan risiko kematian akibat penyakit paru obstruktif kronis sebesar 1,5 persen, kanker paru-paru sebesar 1,9 persen, dan infeksi saluran pernapasan bawah sebesar 3,5 persen.
Daur Ulang Global Menghadapi Batasnya
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
-
Perang Baru! Iran Hujani Israel dengan Rudal
-
Rupiah Tak Kunjung Kuat, Kinerja Perry dan Purbaya Jadi Sorotan
-
Investor Terus Timbun Dolar, Rupiah Keok ke Rp18.126
-
Purbaya Tegaskan Masih Jabat Menkeu dan Tidak Ada Pembahasan Reshuffle, Ini Buktinya
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
Terkini
-
Anggota Parlemen Lebanon: Tanpa Hizbullah, Israel Sudah Caplok Negara Kami
-
Dasco Bahas Percepatan Investasi dan Tata Kelola Ekspor Bersama Sejumlah Menteri
-
Benarkah Pemerataan Lapangan Kerja Bisa Kurangi Kemacetan dan Polusi?
-
Masuk Istana, Said Iqbal Dinilai Tak Mewakili Seluruh Buruh Indonesia
-
Israel Balas Serang Iran, Ledakan Guncang Teheran
-
3.200 Laporan Parkir Liar Menumpuk, DKI Gelar Razia Besar-besaran
-
Iran Serang Target Militer di Palestina Utara, Kedubes di Jakarta Tegaskan Hak Bela Diri
-
Perang Baru! Iran Hujani Israel dengan Rudal
-
Dapur MBG di Palembang Hentikan Operasional, Sebut Anggaran Belum Cair
-
KPK Jadwalkan Pemeriksaan 2 Tersangka Swasta Kasus Kuota Haji Hari Ini