News / Internasional
Senin, 08 Juni 2026 | 11:39 WIB
Foto udara tempat pembuangan sampah besar dengan tumpukan sampah (Pexels/Tom Fisk)

Temuan ini juga memperlihatkan tantangan yang lebih besar dalam sistem daur ulang global. Selama ini, ekspor limbah menjadi cara bagi negara maju untuk mengelola sebagian sampah plastik mereka.

Namun ketika negara-negara penerima mulai membatasi impor, negara pengekspor harus mencari solusi di dalam negeri.

Indonesia telah memperketat aturan impor limbah plastik sejak 2021 dan menerapkan larangan total impor limbah plastik mulai 2025. Malaysia juga mengambil langkah serupa dengan membatasi penerimaan limbah dari negara yang tidak memenuhi ketentuan internasional.

Sementara itu, Uni Eropa berencana melarang ekspor limbah plastik ke negara non-OECD mulai November 2026.

Kebijakan tersebut mendorong negara-negara maju untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan limbah domestik mereka. Tantangannya tidak kecil. Di Amerika Serikat, misalnya, tingkat daur ulang plastik pada 2021 hanya sekitar 5–6 persen. Bahkan dengan peningkatan kapasitas fasilitas yang ada, tingkat daur ulang diperkirakan hanya bisa mencapai 7–9 persen.

Mengurangi Sampah dari Sumbernya

Penelitian ini menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan limbah, tetapi juga dengan kesehatan publik dan keadilan lingkungan.

Para ahli menilai solusi jangka panjang tidak cukup hanya mengandalkan ekspor atau daur ulang. Diperlukan perubahan yang lebih mendasar, mulai dari desain kemasan yang lebih mudah digunakan kembali, pengurangan penggunaan plastik sekali pakai, hingga penerapan tanggung jawab produsen terhadap limbah yang mereka hasilkan.

Dengan volume sampah plastik global yang diperkirakan terus meningkat hingga 2050, tantangan terbesar bukan hanya ke mana sampah dikirim, tetapi bagaimana dunia mengurangi produksi sampah sejak awal.

Baca Juga: Bukan Lagi Urusan TPA, Kini Sampah Adalah Urusan Kita Semua

Penulis: Vicka Rumanti

Load More