News / Internasional
Senin, 08 Juni 2026 | 11:40 WIB
Serangan militer Israel kembali mengguncang Lebanon dan menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk tenaga medis, dalam eskalasi terbaru yang juga menjangkau pinggiran ibu kota Beirut. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Anggota Parlemen Lebanon, Rami Abu Hamdan, menegaskan bahwa persenjataan Hizbullah krusial untuk menjaga kedaulatan negara dari ancaman Israel.
  • Abu Hamdan menolak keras wacana pelucutan senjata Hizbullah serta normalisasi hubungan diplomatik antara pemerintah Lebanon dan Israel.
  • Pemerintah Lebanon dikritik karena dianggap kurang efektif dalam pertahanan dan dinilai tidak bijak dalam menyikapi hubungan diplomatik.

Suara.com - Menghadapi ancaman agresi militer Israel yang terus membayangi kawasan, keberadaan senjata Hizbullah ditegaskan sebagai salah satu faktor utama yang menjaga kedaulatan Lebanon.

Anggota Parlemen Lebanon, Rami Abu Hamdan, secara terbuka menolak wacana pelucutan senjata Hizbullah.

Ia juga mengkritik bantuan militer Amerika Serikat yang dinilainya tidak memberikan dampak signifikan terhadap kemampuan pertahanan negaranya.

Pernyataan tersebut sekaligus menyoroti perdebatan yang terus berlangsung di Lebanon terkait masa depan Hizbullah, hubungan dengan Iran, serta isu normalisasi dengan Israel.

Perisai Utama Melawan Ancaman Israel

Sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas dan 58 lainnya luka-luka setelah rentetan serangan udara menghantam berbagai wilayah pada Kamis (28/5/2026) waktu setempat. [Istimewa]

Dalam wawancara eksklusif bersama kantor berita Tasnim, Rami Abu Hamdan membela keberadaan persenjataan Hizbullah di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah yang kembali memanas.

Menurutnya, senjata Hizbullah memiliki peran penting dalam melindungi Lebanon dari ancaman Israel selama beberapa dekade terakhir.

"Tentara Lebanon tidak mengusir Israel dari negara ini," tegas Abu Hamdan dikutip dari Tasnim News, Senin (8/6/2026).

Ia mengingatkan bahwa tanpa keberadaan kelompok perlawanan, Israel tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon, Beirut, dan Lembah Bekaa Barat pada periode 1982 hingga 1983.

Baca Juga: Tegas! Perang AS-Israel vs Iran Akan Selesai Jika Militer Israel Angkat Kaki dari Lebanon

Menyikapi tuntutan pelucutan senjata, Abu Hamdan menegaskan bahwa hal tersebut tidak mungkin dilakukan selama ancaman dari Israel masih ada.

"Senjata Hizbullah akan tetap berada di tangan perlawanan selama rezim penjajah itu masih ada."

Kritik Bantuan Militer Amerika Serikat

Abu Hamdan juga menyoroti bantuan militer Amerika Serikat kepada Lebanon yang menurutnya tidak mampu mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan.

"Bantuan AS sebesar $230 juta kepada Tentara Lebanon hanya terdiri dari ban kendaraan dan truk kargo, yang tidak berdampak pada keseimbangan pertempuran dengan penjajah Zionis," ungkapnya.

Karena itu, ia menilai senjata Hizbullah masih menjadi elemen penting dalam menghadapi Israel.

Load More