News / Internasional
Senin, 08 Juni 2026 | 11:40 WIB
Serangan militer Israel kembali mengguncang Lebanon dan menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk tenaga medis, dalam eskalasi terbaru yang juga menjangkau pinggiran ibu kota Beirut. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Anggota Parlemen Lebanon, Rami Abu Hamdan, menegaskan bahwa persenjataan Hizbullah krusial untuk menjaga kedaulatan negara dari ancaman Israel.
  • Abu Hamdan menolak keras wacana pelucutan senjata Hizbullah serta normalisasi hubungan diplomatik antara pemerintah Lebanon dan Israel.
  • Pemerintah Lebanon dikritik karena dianggap kurang efektif dalam pertahanan dan dinilai tidak bijak dalam menyikapi hubungan diplomatik.

Ia juga mendesak para pejabat Lebanon untuk mengubah pendekatan politik mereka.

"Untuk sekali ini saja, pejabat pemerintah Lebanon harus mengancam Israel alih-alih Hizbullah," katanya.

Tolak Normalisasi dan Pelucutan Senjata

Abu Hamdan menolak keras gagasan normalisasi hubungan antara Lebanon dan Israel.

"Setiap pejabat di Lebanon yang ingin menormalisasi hubungan dengan Zionis harus secara pribadi menjadi warga negara Israel," ujarnya.

Menurutnya, penolakan terhadap normalisasi tidak hanya datang dari komunitas Syiah, tetapi juga dari kelompok Kristen, Druze, dan komunitas lainnya di Lebanon.

"Tidak hanya penganut Syiah, tetapi juga penganut Kristen, Druze, dan lainnya tidak akan membiarkan normalisasi."

Ia juga menegaskan bahwa mayoritas masyarakat Lebanon menolak upaya pelucutan senjata Hizbullah.

"Mayoritas warga Lebanon dari semua sekte, khususnya komunitas Islam, dengan tegas menentang gagasan untuk melucuti senjata perlawanan."

Baca Juga: Tegas! Perang AS-Israel vs Iran Akan Selesai Jika Militer Israel Angkat Kaki dari Lebanon

Abu Hamdan berpendapat bahwa pihak-pihak yang mendorong pelucutan senjata Hizbullah tidak memiliki alternatif nyata untuk mempertahankan negara.

"Jika senjata Hizbullah tidak ada, Israel bahkan tidak akan bernegosiasi dengan pemerintah Lebanon," ujarnya.

Kritik Menteri Luar Negeri Lebanon

Dalam kesempatan yang sama, Abu Hamdan juga melontarkan kritik kepada Menteri Luar Negeri Lebanon, Youssef Rajji, terkait sikapnya terhadap Iran.

"Sikap menteri luar negeri Lebanon terhadap Iran merupakan sumber rasa malu bagi kami," katanya.

"Saya merasa malu karena Youssef Rajji adalah menteri luar negeri Lebanon dan mengambil posisi yang menentang Iran," tambahnya.

Ia menilai Rajji lebih mewakili kepentingan partai Lebanese Forces dan tokohnya, Samir Geagea, dibandingkan kepentingan nasional Lebanon secara keseluruhan.

Menutup pernyataannya, Abu Hamdan memuji respons Iran terhadap berbagai kritik yang muncul.

"Orang-orang Iran menyikapi posisi Rajji dengan bijak dan hati-hati."

Ia juga menegaskan bahwa hubungan antara Lebanon dan Iran akan tetap terjaga.

Load More