Suara.com - Ketika China menutup pintunya bagi impor sampah plastik dunia pada 2018, banyak pihak memandang kebijakan tersebut sebagai langkah besar untuk mengurangi pencemaran lingkungan di dalam negeri. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dampaknya justru dirasakan oleh negara-negara lain, termasuk Indonesia.
Studi berjudul A Spatiotemporal, Quasi-Experimental Causal Inference Approach to Characterize the Effects of Global Plastic Waste Export and Burning on Air Quality Using Remotely Sensed Data menemukan bahwa pergeseran perdagangan limbah plastik global setelah kebijakan tersebut berkaitan dengan memburuknya kualitas udara di sejumlah negara Asia Tenggara.
Ketika China Menutup Pintu
Sebelum 2018, China menjadi tujuan utama ekspor limbah plastik dari berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan Belanda. Kondisi ini berubah setelah pemerintah China menerapkan kebijakan National Sword, yang melarang masuknya sebagian besar limbah plastik dari luar negeri.
Akibatnya, arus perdagangan sampah global bergeser ke negara-negara berkembang yang masih menerima impor limbah, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.
Menurut peneliti utama studi tersebut, Ellen Considine dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences (CIRES), University of Colorado Boulder, peningkatan impor limbah plastik ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah berpotensi meningkatkan praktik pembakaran sampah secara terbuka.
"Ketika negara-negara berpenghasilan tinggi mengirimkan sampah plastik ke negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, lebih banyak sampah plastik cenderung dibakar," ujar Considine.
Dari Sampah Plastik ke Polusi Udara
Masalahnya tidak berhenti pada penumpukan limbah. Di banyak negara berkembang, sistem pengelolaan sampah masih menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari kapasitas pengumpulan hingga fasilitas pengolahan.
Baca Juga: Mobil Listrik China Makin Obesitas Baterai Besar Jadi Tantangan Baru Industri Otomotif
Akibatnya, sebagian limbah yang masuk berakhir di tempat pembuangan terbuka dan dibakar untuk mengurangi volume sampah.
Pembakaran plastik menghasilkan partikel halus dan berbagai zat berbahaya yang dapat mencemari udara. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk ke paru-paru bahkan menembus aliran darah manusia.
Menurut Considine, paparan polutan tersebut dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan, mulai dari penyakit pernapasan hingga kanker.
"Hal ini melepaskan polutan udara yang dapat menyebabkan penyakit pernapasan, kanker, atau bahkan kematian bagi penduduk setempat," katanya.
Bukti dari Data Satelit
Untuk menguji hubungan antara impor limbah plastik dan kualitas udara, para peneliti menganalisis data satelit dari 365 lokasi pembuangan sampah terbuka di berbagai negara.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 10 Simbol Feng Shui di Rumah Old Money yang Dipercaya Membawa Kemakmuran
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Istimewa! Eks Jampidsus Febrie Ditahan Tanpa Rompi Pink dan Tangan Tak Diborgol
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Merawat Koperasi agar Berdaya Melampaui Dinamika Politik
-
55 Karya Desain Dunia dari SaloneSatellite Permanent Collection Dipamerkan di Indonesia
-
Ribuan Orang di Dunia Jadi Korban Phishing Kratos, Pengelola Dibekuk di Pontianak
-
Usia 35 Tahun Sudah Punya 5 SPBU, Herman Deru Ungkap Kebiasaan yang Mengubah Hidupnya
-
Terkuak! Pengemudi Alphard Arogan ke Satpam di Bundaran HI Ternyata Anggota Polda Jabar
-
Napi Kasus Narkoba Pekanbaru Kabur saat Berobat, Petugas Pengawal ke Mana?
-
Hinca Panjaitan Sebut Perkara Kredit Tak Layak Diproses sebagai Korupsi
-
Mahfud MD Bantah Kejagung soal Febrie: Tak Pernah Ada Pelimpahan Kasus Asabri dari Polisi