-
Iran menyerang tiga pangkalan militer Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan Yordania menggunakan drone serta rudal.
-
Serangan IRGC menghancurkan empat target utama termasuk hanggar jet tempur siluman F-35 milik AS.
-
Eskalasi dipicu oleh tuduhan AS atas jatuhnya helikopter Apache di kawasan strategis Selat Hormuz.
Di sisi lain, militer Yordania melaporkan berhasil menghalau sebagian proyektil yang mengarah ke wilayah udara mereka.
Lima rudal yang dilepaskan dari Iran menuju Azraq berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara tentara Yordania.
Pemerintah setempat menegaskan bahwa runtuhan serpihan rudal tersebut tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan material yang berarti.
Di tempat lain, sirine tanda bahaya serangan udara langsung berbunyi nyaring di seluruh wilayah Bahrain dan Kuwait.
Angkatan Bencana Kuwait membenarkan adanya upaya intersepsi terhadap objek udara asing yang mencoba menyusup ke wilayah kedaulatan mereka.
Pengamat politik internasional menilai tindakan ofensif Teheran merupakan langkah taktis untuk menjaga posisi tawar militer mereka.
Iran berusaha menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam terhadap setiap agresi militer asing di kawasannya.
"Karena jika tidak, sebuah kenormalan baru akan terbentuk, di mana Amerika Serikat dapat menyerang Iran dengan sedikit banyak kebal dari hukum," kata Trita Parsi, Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft di AS kepada Al Jazeera.
"Pihak Iran mencoba memperjelas bahwa setiap serangan terhadap mereka akan dibalas, terlepas dari ukuran dan cakupannya," ujarnya menambahkan.
Baca Juga: Perang Pecah Lagi! Amerika Serang Iran Lagi, Luncurkan Rudal ke Dekat Jalur Minyak Dunia
Ketegangan di Selat Hormuz merupakan titik didih geopolitik yang melibatkan jalur perdagangan minyak mentah paling strategis di dunia.
Hubungan bilateral antara Washington dan Teheran terus memburuk seiring perebutan pengaruh militer di kawasan Teluk.
Insiden saling balas serangan ini menandai salah satu konfrontasi langsung paling berbahaya dalam beberapa tahun terakhir.
Dunia internasional kini mengkhawatirkan terjadinya perang terbuka yang dapat mengganggu stabilitas keamanan dan ekonomi global.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
Pilihan
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
-
Menkes Budi Gunadi Sadikin Susul Chatib Basri dan Luhut ke Istana
-
Bupati Muara Enim Resmi Pakai Rompi Oranye KPK
Terkini
-
Ada 24 Nama Diduga Terkait Korupsi MBG, Mayoritas dari Kalangan Legislatif
-
Judi Online pada Anak Bukan Kenakalan, Melainkan Eksploitasi Digital
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Nama AHY Dikaitkan Kasus BGN, Demokrat Tegaskan Itu Fitnah
-
Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
-
BBM Naik, Pramono Optimistis Warga Jakarta Bakal Beralih ke Transportasi Umum
-
Menteri Israel Itamar Ben-Gvir Serukan Tangkap Perempuan dan Anak-anak di Lebanon!
-
Sambut Prabowo di Lampung, 30 Mahasiswa Berencana Gelar Aksi Jahit Mulut
-
Menaker Ajak Negara Asia Pasifik Perkuat Pelatihan Tenaga Kerja, Hadapi Pekerjaan Tergeser AI
-
CENTCOM: Amerika Serang Pertahanan Udara Iran, Stasiun Kendali Darat dan Radar Pengintai