News / Nasional
Rabu, 10 Juni 2026 | 14:08 WIB
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menanggapi kenaikan signifikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Ketua Komisi XI DPR RI menanggapi kenaikan harga BBM non-subsidi Pertamax dan Pertamax Green yang berlaku saat ini.
  • Kenaikan harga BBM tersebut dipastikan berdampak langsung terhadap potensi peningkatan angka inflasi di tingkat konsumen nasional.
  • DPR dan pemerintah sedang merumuskan stimulus ekonomi untuk melindungi kelompok masyarakat menengah yang terdampak kenaikan harga tersebut.

Suara.com - Ketua Komisi XI DPR RI, M. Misbakhun, menanggapi kenaikan signifikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 yang berlaku baru-baru ini. Menyadari potensi dampaknya terhadap daya beli, Misbakhun mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tengah merumuskan langkah-langkah stimulus bagi masyarakat.

Sebagaimana diketahui, harga Pertamax melonjak tajam dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Tren kenaikan juga terjadi pada Pertamax Green 95 (RON 95) yang kini dibanderol Rp17.000 per liter dari harga sebelumnya Rp12.900 per liter.

Misbakhun tidak menampik bahwa kenaikan harga BBM ini akan berdampak langsung pada angka inflasi nasional. Meski besaran pastinya masih dihitung, ia memastikan adanya tekanan harga di tingkat konsumen.

"Pasti kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi, pasti. Berapa persennya, 0 sekiannya itu kita belum tahu. Karena kan Pertamax ini kan lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat," ujar Misbakhun di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (10/6/2026).

Menyikapi potensi kenaikan inflasi tersebut, Misbakhun menegaskan bahwa pihak DPR dan Pemerintah tidak tinggal diam.

Ia mengungkapkan bahwa komunikasi intensif telah dilakukan untuk menyiapkan bantalan ekonomi atau stimulus bagi sektor-sektor terdampak.

"Itu (stimulus) sedang dirumuskan. Tadi kita diskusinya di sana," tegasnya.

Menurutnya, proses penghitungan saat ini sedang berjalan untuk menentukan bentuk insentif yang paling tepat.

Fokus utamanya adalah kelompok masyarakat menengah yang selama ini mengonsumsi Pertamax, namun memiliki kondisi ekonomi yang berdekatan dengan pengguna Pertalite (BBM bersubsidi).

Baca Juga: Singgung Lagu Mas Bahlil Ganteng, Mufti PDIP Kritik Kenaikan BBM: Kapan Pemerintah Memahami Rakyat?

"Sudah didiskusikan, sedang lagi dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor. Yang pasti biasanya masyarakat yang menggunakan Pertamax itu kan masyarakat-masyarakat yang berimpitan dengan Pertalite. Nah kita ingin pastikan apa sih yang mereka butuhkan sebagai stimulus," pungkasnya.

Load More