Suara.com - Sampah plastik masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang paling sulit diselesaikan di Indonesia. Setiap hari, jutaan produk plastik digunakan hanya dalam waktu singkat, tetapi bertahan di lingkungan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan setiap penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 0,85 kilogram sampah per hari dan sekitar 17 persen di antaranya berupa sampah plastik.
Selama ini, solusi terhadap persoalan tersebut banyak berfokus pada perubahan perilaku konsumsi, peningkatan daur ulang, atau pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Namun, pendekatan lain mulai berkembang: mengganti bahan dasarnya.
Salah satu yang kini mendapat perhatian adalah rumput laut.
Melalui proyek riset EcoSea: Turning Seaweed into Food Packaging Bioplastics and Value-Added Byproducts for a Greener Indonesia, peneliti dari Indonesia dan Australia mencoba mengembangkan bioplastik berbasis rumput laut sebagai alternatif kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Riset yang dipresentasikan dalam forum Connect! #12: Advancing Sustainable Blue Economy Innovation for Resilient and Inclusive Growth ini melibatkan PT Bahari Agro Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Central Queensland University, dan University of the Sunshine Coast.
Bahan yang digunakan adalah rumput laut jenis spinosum (Eucheuma denticulatum)—komoditas yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan industri pangan dan ekspor.
Di balik pilihan tersebut, ada pertimbangan yang lebih besar dari sekadar mengganti plastik. Rumput laut tumbuh tanpa membutuhkan lahan darat tambahan, tidak memerlukan pupuk kimia dalam skala besar, dan Indonesia memiliki salah satu potensi produksi rumput laut terbesar di dunia.
Artinya, jika berhasil dikembangkan, bahan ini berpotensi menjadi bagian dari transisi menuju ekonomi biru, model pembangunan yang memanfaatkan sumber daya laut sambil menjaga keberlanjutannya.
Baca Juga: Tekan Sampah Plastik, Food Prap Jadi Alternatif Pengganti Kantong Belanja
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, menyebut pendekatan ini sebagai upaya menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan tidak selalu harus saling bertentangan.
Namun membuat bioplastik tidak sesederhana mengganti bahan baku.
Peneliti utama PT Bahari Agro Indonesia, Maya Puspita, menjelaskan tantangan berikutnya adalah memastikan material tersebut dapat diproduksi secara efisien, memiliki kualitas yang memenuhi kebutuhan industri, dan tetap ekonomis untuk digunakan secara luas.
Karena itu, tim riset menerapkan prinsip zero waste.
Tidak hanya bagian utama rumput laut yang digunakan, tetapi juga biomassa sisa pengolahan dimanfaatkan kembali untuk meningkatkan kualitas material bioplastik dan menghasilkan produk turunan lain yang bernilai tambah.
Pendekatan ini sekaligus mencoba menjawab kritik terhadap sebagian produk ramah lingkungan yang terkadang hanya memindahkan limbah dari satu bentuk ke bentuk lain.
Penelitian juga menyoroti pentingnya memperkuat rantai pasok dari hulu—termasuk edukasi petani dan perbaikan proses pascapanen, agar kualitas bahan baku sesuai kebutuhan industri.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian