- CELIOS menyoroti fenomena Presiden Prabowo mencampuradukkan harta pribadi dengan anggaran negara dalam praktik tata kelola pemerintahan Indonesia saat ini.
- Muhammad Saleh menilai pola penggunaan dana pribadi untuk tugas kenegaraan menyerupai sistem monarki dan mengancam karakter demokrasi konstitusional Indonesia.
- Pemerintah didesak memisahkan fungsi publik dan privat demi menjaga transparansi fiskal serta mencegah potensi konflik kepentingan dalam penyelenggaraan negara.
Suara.com - Praktik tata kelola pemerintahan Indonesia saat ini dinilai tengah bergeser ke arah patronase personal yang mengkhawatirkan, Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menyoroti adanya fenomena 'campur aduk' antara penggunaan harta pribadi dan anggaran negara dalam gaya kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai mulai menyerupai pola pengelolaan keuangan di negara-negara monarki Timur Tengah.
Peneliti Hukum CELIOS, Muhammad Saleh, mengungkapkan bahwa seorang pemimpin negara demokrasi seharusnya tunduk pada institusionalisasi, bukan pada kekuatan finansial pribadi.
Namun, ia melihat adanya anomali besar dalam pemisahan fungsi publik dan privat di era pemerintahan saat ini.
"Negara ternyata gagal membedakan antara fungsi privat dan fungsi publik. Ini yang menjadi soal,” ujar Saleh seperti disampaikan saat Podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip pada Senin (15/6/2026).
Potensi Pergeseran ke Arah Monarki
Saleh memperingatkan bahwa pola di mana pemimpin membiayai tugas negara dari kantong pribadi adalah ciri khas negara monarki atau kerajaan, seperti di wilayah Teluk, Timur Tengah.
Ia menegaskan bahwa Indonesia adalah negara demokrasi konstitusional yang setiap rupiahnya harus bisa dipertanggungjawabkan melalui sistem.
“Maka praktek penggunaan dana pribadi untuk kegiatan-kegiatan kenegaraan itu memang ada di beberapa negara lain, tapi di negara-negara monarki, seperti negara-negara teluk di Timur Tengah. Pertanyaannya kita ini negara kerajaan atau bukan? Kan bukan,” tegasnya.
Kritik CELIOS juga menyasar pernyataan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya yang menyebut bahwa tidak semua kegiatan Presiden Prabowo ke luar negeri boleh dipublikasikan.
Baca Juga: Mahasiswa UBK: Presiden Kerap Tinggalkan Rakyat, Kedaulatan Masih Mengemis!
Saleh menilai alasan kerahasiaan tersebut tidak relevan dalam konteks penyelenggaraan negara yang dipilih melalui pemilu (by election).
“Pertanyaannya adalah penyelenggara negara kenapa tidak bisa semua informasi yang berkaitan dengan urusan negara tidak bisa dipublikasikan? Itu konyol dalam urusan penyelenggaraan pemerintahan,” ujarnya.
Lebih lanjut, CELIOS mengkhawatirkan jika praktik ini terus dibiarkan, Indonesia akan kehilangan karakter kelembagaannya.
Patronase personal di mana kekuasaan dan kebijakan bergantung pada kebaikan hati atau kekayaan figur pemimpin dianggap sebagai langkah mundur bagi demokrasi.
Saleh menekankan bahwa transparansi fiskal adalah harga mati. Ia menuntut pemerintah untuk berhenti mencampuradukkan aset pribadi dengan kebutuhan dinas negara, karena hal tersebut hanya akan mengaburkan akuntabilitas dan membuka celah konflik kepentingan yang besar.
“Penyelenggara negara kita tidak bisa membedakan antara aktivitas kenegaraan dengan aktivitas pribadi. Sebagai contoh misalkan, kunjungan ke luar negeri untuk fungsi kenegaraan, dia menggunakan sebagian defisitnya menggunakan anggaran pribadi. Tapi kegiatan ibadah yang sifatnya personal, misalkan kurban, Presiden Prabowo menganggarkan 100 miliar untuk memotong hewan kurban,” jelasnya. (Reporter: Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Mahasiswa UBK: Presiden Kerap Tinggalkan Rakyat, Kedaulatan Masih Mengemis!
-
Pengamat Soroti Dominasi 'Geng Solo' di Kabinet Prabowo, Singgung Risiko Vacuum of Power
-
Soal Peluang Kerja WNI di Jerman hingga Perdamaian, Ini Obrolan Prabowo dan Presiden Steinmeier
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
'Jaga Wibawa dan Jangan Ngeledek', Pengamat Bandingkan Gaya Pidato Prabowo dengan Putin
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
Prabowo Bukan Negarawan, Tapi Wisatawan!
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
Terkini
-
Mahasiswa UBK: Presiden Kerap Tinggalkan Rakyat, Kedaulatan Masih Mengemis!
-
Kritik Pengamanan Demo BEM UI, Megawati: Panggil Polisi Sini, Mau Tangkap Saya? Ayo!
-
Ricuh di DPR, Polisi Angkut Demonstran Cipayung Menggugat ke Dalam Gedung
-
Mendagri Minta Pemda Gelar Nobar Piala Dunia untuk Dongkrak Perputaran Ekonomi Daerah
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Ribuan Siswa Jabar Tak Tertampung di Negeri, Pemerintah Wajib Biayai Sekolah Swasta
-
Suara Lantang Megawati di Usia Mau 80 Tahun: Menolak Diam Saat Harga Pangan Mencekik Rakyat
-
Kemensos-PKP Cek Rumah Tak Layak di Jatim untuk Mendapat Program Bedah Rumah
-
Amerika Serikat - Iran Sepakat Damai, Bagaimana Nasib Lebanon?