- Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago menilai pemerintahan Prabowo terjebak kebijakan warisan masa lalu yang membebani kondisi ekonomi rakyat.
- Kebijakan sentralisasi perizinan tambang melalui aturan lama menyebabkan pemerintah daerah kehilangan pendapatan serta mengalami krisis fiskal yang berat.
- Rencana kenaikan harga kebutuhan pokok dan iuran BPJS berpotensi memicu kemarahan publik serta aksi massa dalam waktu dekat.
"Daerah dimiskinkan. Semua izin-izin tambang itu ditarik ke pusat lewat Undang-Undang Omnibus Law. Sekarang daerah mengeluh karena otonomi daerah sudah sentralistik, antara ada dan tiada," kata Pangi.
Menurutnya, banyak daerah kaya sumber daya alam justru jatuh miskin karena izin tambang ditarik ke pusat, sementara dampak kerusakan lingkungan dibebankan ke daerah.
"Kepala dipegang, ekor juga dipegang. Izin tambang diambil pusat, oligarki yang ambil semua, tapi kerusakan lingkungan suruh Bupati yang urus. Daerah akhirnya babak belur, ini jebakan juga supaya orang nggak simpatik," jelasnya.
Pangi mengingatkan bahwa kemarahan rakyat saat ini sedang menabung momentum. Jika tidak ada kebijakan yang "menggembirakan hati rakyat", maka titik kulminasi berupa aksi massa besar-besaran tinggal menunggu pemicunya saja.
"Jangan coba-coba bermain api dengan kemarahan rakyat. Nabung terus saja diulangi dan nggak ada pembenahan. Ini akan membakar publik, tinggal menunggu momentum titik kulminasinya saja," ujar Pangi.
Di sisi lain, Pangi mengaku masih menyimpan harapan terhadap pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.
"Mudah-mudahan habis ini akan banyak program kebijakan yang menggembirakan hati rakyat," pungkasnya. (Reporter: Dinda Pramesti K)
Berita Terkait
-
Prabowo Dapat Skor 3 dari 10: Utang Rp9.000 T, Tapi Perjalanan Dinas Rp1,1 T
-
CELIOS Soroti Pendamping Presiden dalam Kunjungan Luar Negeri, Dinilai Abaikan Peran Diplomat
-
Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!
-
Bahaya Konflik Kepentingan di Balik Dana Pribadi Prabowo untuk Diplomasi Luar Negeri
-
Pangi Syarwi: Kalau Bicara Gibran Lihat Jokowi di Belakangnya, Bisa Jadi Dia Presiden Malam Kan
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- Siapa Ipda Ambarita? Ini Profil Polisi yang Viral Saat Pengamanan Bentrok Matraman
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Jika Tim 9 Gagal, KPK Disebut Wajib Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah
-
Sungai Cileungsi Menghitam, DLH Bogor Gandeng Polda Jabar Bidik 5 Perusahaan
-
Diperiksa Kejagung Terkait Dugaan Kasus, Kekayaan Kasi Pidsus Bogor Capai Rp6,1 Miliar Tanpa Utang
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Satpol PP Bandung Ratakan 36 Bangunan Liar di Jalan Rajiman
-
Sempat Sebut PDIP, Ustaz Das'ad Latif Edit Unggahan soal Putusan MK Larang Dana Pendidikan untuk MBG
-
Kejagung Bongkar Alasan Periksa Tan Kian dan Ferry Boboho di Kasus Febrie Adriansyah
-
Alasan Keselamatan, Kejagung Titipkan Ferry Boboho Saksi Kunci Kasus TPPU Febrie Adriansyah ke LPSK
-
Angela Tanoesoedibjo Apresiasi Legislator yang Dinilai Berdampak bagi Masyarakat
-
Arus Peti Kemas IPC TPK Panjang Melonjak 73,7 Persen
-
Gandeng TP PKK Hingga Tingkat RT, Bupati Bogor Rudy Susmanto Pacu Kesejahteraan Warga