- Presiden Prabowo menggunakan dana pribadi untuk agenda kenegaraan yang memicu kekhawatiran pakar terkait risiko konflik kepentingan.
- Pakar CELIOS menilai penggunaan dana non-APBN harus melalui skema hibah negara yang transparan sesuai aturan hukum.
- Transparansi anggaran diperlukan untuk mencegah potensi kebijakan negara disetir pihak tertentu demi keuntungan kroni atau pebisnis.
Suara.com - Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk menggunakan dana pribadi dalam membiayai sejumlah agenda kenegaraan, termasuk diplomasi luar negeri, memicu kekhawatiran serius dari para pakar hukum.
Peneliti Hukum Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Muhammad Saleh, memperingatkan adanya resiko besar terkait konflik kepentingan dan potensi kebijakan negara yang "disetir" oleh pihak penyumbang dana.
Saleh menjelaskan, bahwa meski niatnya terlihat baik, secara hukum tata kelola keuangan negara, penggunaan dana non-APBN untuk urusan negara harus melalui mekanisme yang transparan.
Jika Presiden ingin menggunakan dana pribadi, dana tersebut seharusnya dituangkan dalam skema hibah negara.
"Silahkan tuangkan dalam bentuk hibah negara. Jadi dana itu diajukan sebagai hibah, itu sudah ada peraturannya, peraturan Menteri Keuangan tentang hibah. Lalu kemudian nanti didaftarkan ada akta perjanjian hibah antara pemerintah dengan pemerhibah, lalu dimasukan dalam kas negara, lalu dibelanjakan,” ujar Saleh seperti disampaikan saat Podcast di kantor Suara.com, Jakarta Barat, dikutip pada Senin (15/6/2026).
Saleh menyoroti potensi munculnya balas budi politik atau bisnis jika sumber dana tersebut berasal dari yayasan perusahaan atau pihak ketiga tertentu.
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang pada masa awal piloting banyak menggunakan dana sponsor dari perusahaan.
Dampaknya, menurut Saleh, perusahaan-perusahaan tersebut berpotensi mendapatkan privilege atau hak istimewa dalam pengadaan bahan baku program pemerintah. Hal ini dinilai merusak iklim kompetisi yang sehat di antara pelaku usaha.
"Diplomasi Prabowo di luar negeri itu berkaitan dengan kegiatan bisnis, berkaitan dengan kepentingan kenegaraan juga ada. Nah kita sangat khawatir ke program-program atau kunjungan itu justru dibiayai oleh barangkali perusahaan atau afiliator tertentu yang terafiliasi dengan pemerintah," ungkapnya.
Baca Juga: Bukan Negara Kerajaan, Gaya Prabowo Soal Urusan Privat dan Negara Tuai Kritikan
Kebijakan Luar Negeri Berisiko Disetir
Lebih lanjut, Saleh menekankan bahaya yang mengintai jika diplomasi tingkat tinggi seperti pertemuan dengan pengusaha di Amerika Serikat atau perjanjian perdagangan resiprokal dibiayai oleh dana pribadi yang tidak jelas asal-usulnya.
Ia menilai, keputusan politik yang lahir dari kunjungan tersebut memiliki potensi besar untuk hanya menguntungkan pihak tertentu, seperti kroni atau keluarga, alih-alih kepentingan rakyat banyak.
“Keputusan-keputusan politik nanti punya potensi menguntungkan pihak tertentu, entah itu pengusaha di Indonesia, entah itu kroni, entah itu keluarga. Makanya kalau dia menggunakan skema APBN kita bisa minta pertanggung jawaban,” ujarnya.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban publik, Saleh menantang Sekretaris Kabinet dan jajaran pemerintahan Prabowo untuk berani membuka rincian anggaran yang diklaim menggunakan dana pribadi tersebut.
"Kita bilang, kalau Teddy berani, buka angkanya. Komponennya apa saja yang didanai dana pribadi Prabowo, entah pesawat, entah hotel, entah kunjungan-kunjungan konsumsi dan sebagainya. Coba dibuka kalau berani. Nah pertanyaannya belum dibuka sampai hari ini,” tantangnya. (Reporter: Tsabita Aulia)
Berita Terkait
-
Bukan Negara Kerajaan, Gaya Prabowo Soal Urusan Privat dan Negara Tuai Kritikan
-
Mahasiswa UBK: Presiden Kerap Tinggalkan Rakyat, Kedaulatan Masih Mengemis!
-
Pengamat Soroti Dominasi 'Geng Solo' di Kabinet Prabowo, Singgung Risiko Vacuum of Power
-
Soal Peluang Kerja WNI di Jerman hingga Perdamaian, Ini Obrolan Prabowo dan Presiden Steinmeier
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
DPR Bocorkan 2 Nama Naturalisasi Baru Timnas: Mitchell Baker dan Luke Vickery Segera Jadi WNI!
-
Satgas PRR Perkuat Mitigasi Bencana Susulan di Titik Rawan Wilayah Terdampak
-
CELIOS Soroti Pendamping Presiden dalam Kunjungan Luar Negeri, Dinilai Abaikan Peran Diplomat
-
Sejarah Panjang Program Nuklir Iran dan Ketegangan dengan Amerika Serikat dari 1967 - 2026
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Megawati: Saya Bukan Musuh Prabowo!
-
PDIP Tegaskan Tutup Buku dengan Jokowi: Mau Pakai Jaket PSI, Itu Urusannya
-
Bos Blueray Akui Beri Rp 21 Miliar ke Dirjen Bea Cukai, KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan
-
Pangi Syarwi: Kalau Bicara Gibran Lihat Jokowi di Belakangnya, Bisa Jadi Dia Presiden Malam Kan
-
Mendagri Apresiasi Stabilitas Inflasi Mei 2026, Minta Daerah Waspadai Kenaikan Minyak Goreng