- Pakar hukum Bivitri Susanti membedakan infrastruktur ekonomi politik dan kelompok oligarki antara pemerintahan Presiden Jokowi dan Presiden Prabowo.
- Era Presiden Jokowi membangun lingkungan regulasi melalui kebijakan seperti UU Cipta Kerja untuk mendukung operasional pemerintah pusat.
- Pemerintahan Prabowo menerapkan politik komando yang menekankan kepatuhan penuh, minim deliberasi data, serta meningkatkan pelibatan unsur militer.
Suara.com - Pakar hukum tata negara Bivitri Susanti menilai terdapat perbedaan mendasar antara pemerintahan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden ke-8 Prabowo Subianto, terutama dari sisi infrastruktur ekonomi politik dan cara menjalankan kekuasaan.
Bivitri menyebut perbedaan pertama terlihat dari kelompok oligarki yang menjadi penopang kekuasaan masing-masing pemimpin.
"Kalau berbicara pembedanya dengan Prabowo, saya sih melihatnya dari dua hal pembedanya. Yang pertama adalah infrastruktur ekonomi politiknya. Teman-teman bisa lihat bahwa kelompok oligarki yang dipegang oleh Jokowi agak berbeda dengan yang dipegang oleh Prabowo," kata Bivitri dalam diskusi mengenai kondisi demokrasi dan ekonomi Indonesia, Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Selain basis ekonomi politik, Bivitri menilai perbedaan lain terletak pada cara berpolitik yang dijalankan Prabowo. Menurut dia, pola tersebut bukan sesuatu yang baru dan dapat dipahami sebagai politik komando serta ekonomi komando.
"Yang kita bisa lihat juga cara berpolitiknya Prabowo, ini bukan baru, yang disebut dengan politik komando dan ekonomi komando," tuturnya.
Bivitri menjelaskan, pada era Jokowi pemerintah lebih banyak membangun apa yang disebutnya sebagai enabling environment melalui berbagai perangkat regulasi.
Ia mencontohkan pembentukan Undang-Undang Cipta Kerja, pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melalui jalur hukum, hingga pembangunan infrastruktur kebijakan yang berdampak pada melemahnya masyarakat sipil.
Sementara pada masa Prabowo, menurutnya, pendekatan yang digunakan lebih tegas melalui pola komando dalam politik maupun ekonomi.
"Di zaman Prabowo lebih keras dengan politik komando dan ekonomi komando itu," katanya.
Baca Juga: Prabowo Gelar Rapat di Hambalang, Terima Laporan soal Haji hingga Pendidikan
Bivitri menyebut salah satu ciri utama politik komando adalah penekanan pada kepatuhan terhadap instruksi dari pusat.
"Yang saya maknai dengan komando, misalnya ciri khasnya adalah kepatuhan. Banyaknya over kompetensi tadi salah satunya. Jadi semua harus patuh nih. Makanya gubernur, bupati, wali kota, semua harus retret. Jadi pokoknya semua harus patuh," ujarnya.
Ia juga menyoroti proses penyusunan kebijakan yang dinilainya minim penggunaan data dan ruang deliberasi.
"Yang kedua adalah tanpa data dan deliberasi. Jadi pembuatan kebijakan minim data," kata Bivitri.
Selain itu, ia menilai terdapat kecenderungan pelibatan militer yang semakin besar dalam berbagai sektor pemerintahan. Adanya kegiatan retret bagi jajaran kabinet dan setiap kepala daerah menjadi bukti dalam militerisme tersebut.
Berita Terkait
-
Prabowo Gelar Rapat di Hambalang, Terima Laporan soal Haji hingga Pendidikan
-
Prabowo Tak Hadiri KTT ASEAN-Rusia, Pilih Fokus Selesaikan Urusan Dalam Negeri
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Polisi Segera Gelar Perkara! Usut Laporan Firdaus Oiwobo Terhadap Eks Ketua BEM UGM Tyo Ardianto
-
PSI: Kunjungan Jokowi ke Daerah Bukan Safari Politik, Tapi Memenuhi Undangan
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026
-
BNI Perkuat Akses Hunian Masyarakat Lewat Akad Massal 62.710 KPR Rumah Subsidi
-
Leo/Daniel Jadikan Gelar Juara Taipei Open 2026 Sebagai Kado Ultah