News / Nasional
Kamis, 18 Juni 2026 | 19:42 WIB
Massa aksi dari perkumpulan mahasiswa PMII dan GMKI sempat terlibat ketegangan dengan aparat kepolisian saat menyampaikan pendapat di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026). [Suara.com/Adiyoga]
Baca 10 detik
  • Massa mahasiswa dari PMII dan GMKI terlibat ketegangan dengan kepolisian di kawasan Patung Kuda, Jakarta, Kamis (18/6/2026).
  • Gesekan fisik terjadi saat polisi memadamkan aksi pembakaran sampah oleh massa yang menuntut penurunan harga BBM nasional.
  • Ketegangan mereda setelah massa aksi membubarkan diri secara kondusif pada pukul 18.30 WIB tanpa berlanjut menjadi anarkis.

Suara.com - Massa aksi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) sempat terlibat ketegangan dengan aparat kepolisian saat menyampaikan pendapat di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026).

Niat massa membakar tumpukan sampah kering menjadi pemicu utama yang menimbulkan gesekan fisik dengan petugas di lapangan.

Sebelum api membesar, aparat kepolisian lebih dulu melakukan pemadaman menggunakan alat pemadam api ringan (APAR). Namun, pada momen tersebut, massa mahasiswa merasa ada aparat yang berupaya melakukan tindakan represif.

Suasana kian memanas ketika orator mulai meneriakkan kritik tajam terhadap tindakan yang mereka anggap sebagai upaya kekerasan.

"Aparat penegak hukum yang katanya semboyannya melayani dan mengayomi, ternyata mereka tidak becus," kata dia di tengah kepulan asap putih sisa semprotan APAR.

Lebih lanjut, massa menilai pengamanan yang dilakukan pihak kepolisian justru mencoreng esensi demokrasi itu sendiri.

"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Telah mati keamanan masa demonstrasi. Tidak ada yang namanya keamanan masa demonstrasi, yang ada hanya diskriminasi," imbuh sang orator.

Massa aksi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) menyampaikan pendapat di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Kamis (18/6/2026). [Suara.com/Adiyoga]

Orator juga dengan lantang mempertanyakan integritas kepolisian dalam mengawal jalannya aksi.

"Bagaimana kepolisian seharusnya menjadi penjaga dan juga harusnya mengawal nilai-nilai demokrasi kita, tapi pada hakikatnya apa kawan-kawan? Pihak kepolisian sangat kejam, mereka memukul mundur dengan seonggok besi," klaimnya.

Baca Juga: BMPAN Soroti Dugaan Keterlibatan PDIP dalam Aksi Mahasiswa, Stabilitas Politik Pemerintahan Prabowo

Massa aksi sendiri awalnya berniat menyuarakan tuntutan terkait penurunan harga BBM dan penguatan supremasi sipil.

Aparat kepolisian terus berupaya meredam gejolak massa agar situasi di jantung ibu kota tetap kondusif dan tidak berujung anarkis.

Meski sempat terjadi adu mulut dan aksi saling dorong, massa akhirnya mulai menenangkan diri hingga membubarkan diri sekitar pukul 18.30 WIB.

Selain dari PMII dan GMKI, terdapat pula massa aksi gabungan dari beberapa kampus seperti UMJ, UPN, hingga UNPAM.

Mereka menyampaikan berbagai tuntutan secara kondusif melalui orasi dan nyanyian-nyanyian nasionalis dalam formasi melingkar.

Load More